Home / Bedah Karya / Bedah Lirik / “21st Century Digital Boy”, Anak-anak Korban Globalisasi Menurut Bad Religion
Bad Religion (source: akphotography.com.au)
Bad Religion (source: akphotography.com.au)

“21st Century Digital Boy”, Anak-anak Korban Globalisasi Menurut Bad Religion

KONTERKULTUR--Bad Religion memang bukan band punk yang layak dijadikan panutan oleh kita, umat Islam. Karena para personelnya adalah sekumpulan orang atheis yang suka menghina dan menertawakan agama. Namun itu bukan berarti kita tidak bisa mengambil hikmah dari apa yang mereka sampaikan dalam lirik-lirik lagu mereka, karena sebagian tema yang mereka sampaikan juga bermuatan kritik terhadap modernisme yang dianut oleh orang-orang Barat. Lagu 21st Century Digital Boy ini adalah salah satu lagu ‘terbaik’ yang mereka rilis dalam album ‘the best’ mereka berjudul “All Ages” pada tahun 1995. Isi dari lagu ini adalah kritik terhadap bagaimana kondisi sosial saat ini yang sangat…

Review Overview

Pesan Positif - 0.7

0.7

Parah!

Summary : Hampir seluruh lirik lagu Bad Religion selalu berbau atheisme, maka lagu-lagu mereka seharusnya tidak asal kita nyanyikan.

User Rating: 3.55 ( 14 votes)
1

KONTERKULTUR–Bad Religion memang bukan band punk yang layak dijadikan panutan oleh kita, umat Islam. Karena para personelnya adalah sekumpulan orang atheis yang suka menghina dan menertawakan agama. Namun itu bukan berarti kita tidak bisa mengambil hikmah dari apa yang mereka sampaikan dalam lirik-lirik lagu mereka, karena sebagian tema yang mereka sampaikan juga bermuatan kritik terhadap modernisme yang dianut oleh orang-orang Barat.

Lagu 21st Century Digital Boy ini adalah salah satu lagu ‘terbaik’ yang mereka rilis dalam album ‘the best’ mereka berjudul “All Ages” pada tahun 1995. Isi dari lagu ini adalah kritik terhadap bagaimana kondisi sosial saat ini yang sangat terpengaruh oleh modernisasi dan globalisasi media informasi. Yang menjadi korban justru generasi-generasi muda dan anak-anak. Mereka seharusnya adalah generasi yang bisa membawa masa depan menjadi lebih baik.

Hikmah dalam lagu ini sebenarnya bisa diambil sebagai pelajaran bagi kita bahwa menjadi orangtua di era globalisasi seperti ini merupakan tantangan yang berat. Dalam lirik lagu yang dibuat sang gitaris Brett Gurewitz ini ada statemen demikian,

“Cuz I’m a 21st century digital boy
I don’t know how to read but I’ve got a lot of toys
My daddy’s a lazy middle class intellectual
My mommy’s on valium, so ineffectual
Ain’t life a mystery?”

Kesibukan orangtua, di era yang menuntut karir dan uang, bisa berdampak besar pada kehidupan anaknya. Pendidikan anak-anak yang menjadi korban. Mereka lebih menyukai mainan ketimbang buku dan ilmu. Mungkin ini yang terjadi saat ini dimana buku sudah tidak lagi menjadi barang yang diminati anak-anak muda. Minat baca remaja dan anak-anak saat ini sangat rendah. Padahal kemajuan suatu bangsa salah satunya ditentukan dari seberapa tinggi minat baca mereka. Karena itu menentukan pula tingkat intelektualitas mereka.

“I can’t explain it, the things you’re saying to me
It’s going yayayayayayaya, oh yeah”

Sepenggal bait diatas juga kritik keras terhadap dampak dari rendahnya pendidikan anak akibat keteledoran orang tua memanjakan dengan fasilitas-fasilitas modern. Seperti televisi dan game-game. Hal itu disindir oleh band ini dengan mengatakan bahwa dirinya sulit untuk menjelaskan sesuatu, menjelaskan hal-hal yang diajarkan orang lain kepadanya, dan yang dia hanya bisa mendengar seolah orang lain mengatakan “yayayayayaya” yang berarti tidak bisa dipahami.

Ketika otak anak-anak yang masih banyak space memori yang belum terisi hal-hal bermanfaat itu diisi dengan informasi-informasi clutter/sampah dari tivi, maka yang terjadi anak-anak akan bodoh. Dirinya akan sulit mencerna apa yang seharusnya dia bisa mencerna maknanya. Pelajaran akan lebih sulit mereka terima. Tulisan-tulisan dalam buku-buku hanya akan membuat mereka mengantuk dan sulit mereka pahami.

Dalam video klip sederhana lagu ini juga banyak menyiratkan makna yang mungkin tidak sedikit jika dibedah disini. Namun secara singkat, kita bisa melihat gambaran anak-anak jaman sekarang yang begitu besarnya ketergantungan terhadap televisi. Padahal didalamnya miskin dengan tayangan-tayangan yang bermanfaat. didalam klip itu digambarkan, meski layar telah berubah menjadi titik-titik berhamburan sebagai tanda siaran telah berakhir, tetap saja itu menarik bagi sang anak. Ini maknanya sangat konotatif. Sangat hiperbola. Namun relevan untuk digunakan sebagai sindiran bagi kita yang menganggap televisi sebagai barang pelengkap wajib dalam rumah untuk ditonton anak-anaknya. Selanjutnya silakan menyimak, dan maknai sendiri sesuai dengan kondisi dan pengalaman anda. []

 

Oleh : Aditya Abdurrahman Abu Hafizh

One comment

  1. subkultur punk islam? hmmm.. lebih mirip punk neo nazi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.