Home / Artikel / Celoteh Agen KK / 7 Sebab Mengapa Punk Membenci Komunis

7 Sebab Mengapa Punk Membenci Komunis

“Jangan sekali-sekali melupakan sejarah” (Jas Merah, Bung Karno)

UNTUNG saja, Punk baru muncul tahun 90-an. Seandainya punk dengan ideologi anarkisme-nya sudah muncul sejak 1965, mungkin dendam lebih kesumat lagi. Jangankan dengan Anarkis, PKI sebagai kekuatan komunis utama, juga berseteru dengan para pengikut Tan Malaka (yang dituduh Trotskis) dan Sutan Syahrir (yang dituduh Sosialis Kanan/Kapitalis). Di mata PKI, yang tidak mau ikut pemahaman komunis versi mereka, dianggap musuh. Sejalan dengan titah tuhan mereka di Moskow maupun Peking.

Meskipun sama-sama beraliran kiri (sosialis), namun sedari awal lahirnya, Komunis yang diwakili oleh Marx dan Engels, serta Anarkisme yang diwakili Bakunin dan Kropotkin, telah bentrok habis-habisan sejak Internasionale Pertama seabad lalu, dimana seluruh kaum sosialis Eropa berkumpul untuk mengorganisir aksi mereka.

Pada kongres tersebut, Bakunin mengecam konsep perebutan negara oleh kaum proletar (buruh), yang akan menyebabkan lahirnya tirani baru, bernama negara Soviet. Sedangkan Marx mengkritik konsep destruktif Bakunin hanyalah utopia yang tidak mungkin terwujud. Dan ternyata ramalan Bakunin terbukti. Semenjak berdirinya komunis (1917) hingga runtuhnya (awal 90-an), Negara Komunis telah menjadi monster bagi rakyatnya sendiri. Itulah apa yang disebut Bakunin sebagai “Kapitalisme Negara”. Mereka menjadikan negara seperti sebuah perusahaan, dimana para petugas partai komunis adalah para administrator dan rakyat adalah budak-budaknya.

Anak-anak punk di akhir kejatuhan Orde Baru, punya pengalaman pahit bermesraan dengan kaum komunis di bawah payung Partai Rakyat Demokratik. Mereka, kaum pengagum Lenin dan Stalin, pernah mengibuli anak-anak Punk yang lugu secara politik, untuk memperbesar kekuatan massa mereka. Bahkan sebagian lagi diperkerjakan seperti budak dengan duduk sebagai pejabat partai di wilayah kota maupun daerah. Menjijikan bukan?

Setelah Soeharto turun, barulah sebagian anak-anak Punk sadar, selama ini mereka seperti sapi dicocok hidungnya. Mereka hanya jadi batu loncatan bagi para petualang politik macam Budiman Sudjatmiko, Andi Arief, Dita Indah Sari, Coen Husein Pontoh, dan para serdadu Marxis penjilat lainnya. Sebagian mereka sekarang sudah jadi “wakil rakyat’, sebagian lagi jadi pejabat publik, dan sisanya jadi ternak piaraan partai-partai koruptif.

Peristiwa itu sulit dilupakan. Karena ternyata ada sebagian kawan-kawan Punk yang ikut terluka atau bahkan mati disiksa aparat saat demonstrasi bersama mereka, para pengagum si botak Lenin. Sementara mereka yang mati-matian membela partai harus menderita, di luar sana pejabat partai malah asyik bercengkerama dengan musuh-musuh rakyat.

Akibat kejadian itu, ada sebagian punkers yang kecewa, kemudian meninggalkan partai dan menjadi apolitis sama sekali. Sebagian lagi memendam perihnya dikibulin, dan mengambil posisi berhadap-hadapan dengan politik beserta para pelakunya. Khusus untuk kaum Leninis-Stalinis, ada beberapa Punk yang menabuh genderang perang setiap apapun yang berbau palu arit. Kalau disurvey, mungkin mayoritas Punkers membenci komunis atas pengalaman tersebut. Di bawah ini ada beberapa sebabnya:

1. “Political Party Is Bullshit”

Dulu sempat ramai slogan ini. Terutama setelah beberapa punggawa Punk di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, merasa telah ditipu para petualang politik di PRD. Tadinya anak-anak punk mengira perjuangan mereka adalah perjuangan suci membela kaum tertindas. Tapi ternyata, apa yang dilakukan mereka tidak ada bedanya sama sekali dengan politisi busuk lainnya.

Mereka memanfaatkan jeritan rakyat untuk naik pangkat. Mereka melakukan aksi hanya untuk bahan promosi. Mereka menaruh simpati dengan harapan dikasihani. Lantas apa bedanya dengan partai lainnya kalau yang dilakukan sama saja?

Akhirnya orang menjadi yakin, bahwa partai politik sama saja. Apakah mereka pro wong cilik kek, atau kelihatan merakyat kek, atau teriak-teriak anti korupsi kek, sama saja. Kalau sudah kena sindrom kekuasaan, mereka cenderung cepat lapar dan haus sehingga menjadi rakus.

Mereka memegang prinsip: “Bersatu untuk nafsu kekuasaan. Berpolitik untuk kepentingan sendiri. Berkuasa untuk meraih kenikmatan. Berkampanye untuk meraih semua itu”.

2. Punk Menolak Hierarki dan Dogma

Tidak ada seorang pun yang mengaku Marxis/Leninis/Stalinis/Maois yang tidak bercita-cita mendirikan partai. Sebab dalam konsep utamanya, kekuasaan/negara harus direbut lewat partai yang rapih dan mengikat, baik lewat cara-cara parlementer maupun lewat jalan kekerasan.

Punk tidak mengenal partai. Sebab partai mewakili kesan birokratis. Ada struktur dan aturan yang harus ditaati. Aturan inilah yang memungkinkan orang untuk menindas satu sama lain. Seseorang tidak memiliki hak untuk berpikir dan bertindak bebas dalam suatu sistem dimana segalanya serba dogmatis.

Para ahli sejarah berkata,”Komunis telah menjadi pesudo-religion”. Pseudo religion berarti menyerupai agama. Karena memang di dalam partai komunis, semua kader harus tunduk pada titah ketua partai. Bahkan ketika ketua partai membuat aturan cebok yang baik dan benar menurut Karl Marx, maka kader harus mengikuti bila tidak ingin dikatakan kontra-revolusioner. Tentu hal ini membuat hidup teramat membosankan.

3. Punk Ingin Revolusi yang Membolehkan Punk Tetap Ber-moshing Ria

Masih ingat Koes Plus? Di masa PKI jaya di awal 60-an hingga tahun 65, mereka dipenjara karena dituduh memainkan musik kapitalistik. Bahkan Bung Karno melarang semua karya The Beatles dan band British Invasion lainnya dengan menyebutnya sebagai musik “ngak, ngik, ngok” yang tidak sesuai dengan arah revolusi bangsa.

Atas nama revolusi, PKI memberangus karya seni yang bertentangan dengan paham mereka. Bahkan oleh mereka karya seni dipakemkan harus begini dan harus begitu. Memang benar PKI tidak benci karya seni, tapi sikap arogannya terhadap orang-orang yang berseberangan dengan mereka (menurut kaca mata mereka), diberangus begitu saja tanpa ada penjelasan yang lebih masuk akal.

Di masa jayanya, Pramoedya Ananta Toer, orang yang dikagumi banyak anak muda ingusan sebagai sastrawan terhebat sedunia-akhirat, juga melakukan pemberangusan terhadap lawan-lawan politik mereka lewat media-media corong yang dikuasai Pram seperti Bintang Timur dan Harian Rakyat. Apa yang dilakukan Pram amatlah wajar, sebagaimana yang dilakukan Soviet dulu terhadap karya-karya seorang anarkis terkenal, Leo Tolstoy. Hanya karena berbeda pandangan, sebuah karya dibungkam.

Mungkin kalau musik-musik amburadul macam Punk, sudah hidup sejak tahun 60-an, akan kena juga pemberangusan. Kecuali, punk-punk yang ikut dengan partai mereka. Pasti akan diselamatkan, meskipun musiknya sama-sama amburadul.

Emma Goldman, pemikir anarkis terkenal, mengatakan “saya hanya ingin revolusi yang membolehkan saya tetap menari”. Emma menolak negara campur tangan soal selera seni seseorang sebagaimana yang terjadi di negara-negara komunis. Emma berkomentar,”Lenin terlalu sibuk berpolitik, makannya dia benci seni”.

4. Bagi Punk, Revolusi Terjadi Spontan, Tanpa Paksaan Partai

Menjadi seorang komunis berarti menjadi sebuah robot. Mereka terpasung aturan-aturan dan dogma. Bahkan, untuk mencapai kemenangan revolusi, mereka menyiapkan langkah-langkah yang amat detail seperti sebuah buku ensiklopedia. Setiap tahapannya harus dijalankan berurutan tak boleh terloncat sesuai titah bos partai.

Menurut Punk, revolusi terjadi alamiah. Ketika rakyat mulai merasa tertekan mereka dengan sendirinya memberontak. Revolusi tidak berjalan melalui paksaan. Apa yang terjadi pada tahun 1926, 1948 dan 1965 adalah revolusi dadakan karena nafsu lebih besar daripada kemampuan.

PKI melakukan keteledoran hanya karena tidak ingin dibilang ‘ketinggalan jaman’. Sebab pada saat yang bersamaan, Uni Soviet sedang menginvasi Eropa Timur, China menggelar revolusi budaya, Korea Utara menyerbu ke selatan, dan berbagai peristiwa ekspansif yang dilakukan partai-partai komunis dunia. PKI tentu tidak ingin melewatkan momen tersebut.

Kira-kira, tahun 98 itu termasuk revolusi spontan. Meskipun tidak terlihat terlalu spontan. Tapi Revolusi penggulingan Suharto dilakukan oleh banyak pihak dari banyak elemen. Tidak cuma kaum komunis saja. Sehingga peristiwa 98 tidak bisa diklaim sebagai kemenangan satu pihak, sebagaimana yang biasa dilakukan orang-orang komunis.

5. Komunis bilang: Punk Sama Terkutuknya Dengan Kapitalisme

Tidak mengherankan bila salah satu pejabat PRD pernah mengatakan di depan publik,”Paham anarkisme sama haramnya dengan kapitalisme” sebagaimana yang dikutip Pamudji, punggawa Punk yang pernah tersesat di PRD. Pamudji mengungkapkan salah satu alasannya keluar dari PRD, karena kaum Leninis itu tidak bisa menghargai perbedaan keyakinan. Pam juga menulis kebusukan PRD lewat sebuah pledoi di Zine Mempersenjatai Imajinasi #2.

Mengapa tidak mengherankan? Karena sejarahnya, komunis selalu mengganyang pihak yang berseberangan dengan mereka. Ketika Bolshevik menang, program pertama yang mereka lakukan adalah menghancurkan Menshevik, oposisi mereka di Partai Sosialis Rusia. Padahal mereka sama-sama meyakini Marx. Tapi sikap oposan itu yang tidak disukai Lenin.

Di Indonesia, PKI dengan suka cita membubarkan Partai Sosialis Indonesia pimpinan Syahrir, hanya karena Syahrir mempunyai keyakinan sebagai seorang Sosialis-Demokrat. Di tahun pergolakan revolusi, akhir 40-an, PKI juga menjadi dalang pembunuhan Tan Malaka melalui underbouw-nya Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo).

Permusuhan dengan Tan Malaka terjadi konon karena perintah langsung dari Moskow. Tan Malaka dibenci karena menolak dominasi Moskow dan lebih menyukai komunisme dengan cita rasa lokal yang sesuai dengan kepribadian rakyat Indonesia. Padahal Tan Malaka ini bekas pimpinan komunis wilayah Asia Pasifik. Tapi, sekali lagi, hanya karena berbeda pendapat, dia kena hajar juga.

6. Libido Dominasi Komunis Terlalu Tinggi

Dimanapun seorang komunis berada, dia punya nafsu menguasai. Tak cuma organisasi buruh, mereka juga ingin merebut organisasi apapun dengan segala jabatan di dalamnya. Di masa jayanya, PKI menguasai organisasi pelajar, mahasiswa, guru, wartawan, petani, nelayan, dan juga jabatan-jabatan pemerintahan seperti kepala desa.

Jangan pernah heran, kalau suatu ketika mereka mengajak membuat front yang terdiri dari beberapa kalangan dengan spektrum ideologi yang luas, mereka pasti berusaha mendominasi dan merebut posisi pimpinan. Mereka hanya berpikir untuk kelompoknya sendiri. Mereka memang tidak benar-benar berniat kerja sama. Di pikirannya hanyalah eksploitasi.

Mereka yang katanya “demokratik”, aslinya sangat otoriter. Jadi harusnya, PRD bernama PRO (Partai Rakyat Otoriter). Wajar kalau Budiman bergabung dengan partai yang katanya “demokrasi”, padahal aslinya feodal dengan ketua partai yang itu-itu saja dan menganggap bahwa partai punya keluarga mbahnya. Cocok dengan karaktermu, But!

7. Punk Cinta Damai

Bergidik bulu kuduk bila mendengar seruan Lenin pada awal revolusi Bolshevik 1917. “Untuk menerapkan komunisme, kita tidak gentar berjalan di atas 30 juta tengkorak sekalipun”. Atau di lain kesempatan dia berkata,”Tidak jadi soal apabila 3/4 penduduk dunia habis, asalkan 1/4 sisanya adalah komunis”

Teringat pula jutaan orang yang telah dipaksa bunuh diri dengan mengirim mereka ke gulag-gulag khayalan Joseph Stalin. Apa yang dilakukan Mao di era revoulsi kebudayaan adalah sebuah kegoncangan sosial terbesar sepanjang sejarah. Kira-kira 20 juta orang mati kelaparan karena khayalan Mao. Baik Lenin, Stalin, maupun Mao, menjadikan orang-orang yang percaya padanya sebagai tikus percobaan di laboratorium bernama mimpi komunisme.

Punk tentu menolak tindakan represif seperti itu. Jangankan tindakan represif yang dilakukan negara, bahkan yang dilakukan aparat sekalipun akan ditentangnya. Sebab Punk berarti cinta damai.

Perlu diingat, yang menjadikan Punk berbahaya bukanlah senjata. Tapi makna!*[]

Oleh: Bang Samosir, bekas budak PRD

41 comments

  1. Pada sketsa senyawa Nasionalis
    yang mereinkarnasi fasis dalam friksi marxis komunis
    Retorika sosialis hingga kapitalis
    Berotasi dalam permainan kontrol paganis..

  2. just because i’m dressed like this , it doesnt mean i’m communist – billy bragg

  3. kolektif komunis koplak

    baru nemu situs keren kayak gini! hahaha… artikelnya bener2 kick ass!!

  4. Darah punk slalu mngalir di jiwa kami,,,
    Artikel nya bagus sob

  5. ciee ciee ada yang sakit hati ni yee.. cieee

  6. “PKI juga menjadi dalang pembunuhan Tan Malaka melalui underbouw-nya Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo).”
    Sebuah kalimat yg menarik untuk saya,karena belum pernah baca.boleh saya minta refrensi untuk bacaan saya tentang keterlibatan PKI di balik pembunuhan Tan Malaka,buku/link…

    Terima kasih.

  7. artikel goblok. bikin org goblok.
    makna komunis dipelintir. soekarno jd kambinghitam. antek orba.
    ganti aja jadi kultur syariah.

  8. Sungguh sangat luarbiasa mengenai analisis antara anarkisme dan komunisme. Penting untuk diketahui memang yang namanya revolusi tidak datang begitu saja. Semuanya dipersiapkan rapih, terorganisir dan terencana. Makanya ada istilah perubahan adalah karya berjuta-juta massa. Kemudian organisasi adalah alat perjuangannya guna menyatukan pandangan politik dan menguatkan sebuah perjuangan. Dalam hal ini seluruh elemen massa rakyat pun dipersatukan, karena persatuan itu relatif perjuangan itu mutlak. Dan seni salah satu sebagai alat propaganda, karena didalamnya mayoritas adalah borjuasi kecil berwatak bimbang. Oleh karenanya di dalam organisasi komunisme menggunakan sistem yang sentralisme demokrasi. Bukan berarti menyalahkan dan memperdayakan massa sebagai kekuatannya. Dalam hal ini patutnya tidak ada komandoisme dan buntutisme. Perlu penulis kaji lagi marxisme/leninisme/maoisme, jangan belajar setengah”. Karena dalam sebuah perjuangan yang namanya kesadaran politik itu bersifat fluktuatif. Kesalahannya memang pki masuk ke dalam perjuangan parlemen dan biro litbang tidak kurang melakukan edukasi di internal dan eksternal maka terjadi demoralisasi dalam perjuangan.
    Di dalam seni pula bila mengutip pada tulisannya “politik seyogyanya menjadi panglima dalam setiap karya”nya”. Oleh karenanya tepat bila dikatan oleh pram angkatan ’45 adalah kontra revolusioner karena landasannya adalah humanisme-universal. Karena itu akan menghambat jalannya revolusi. Turunlah ke basis” massa agar mengetahui permasalahan massa, karena teori yang konkret harus disertai praktek nyata. Musisi juga harus mampu menyelesaikan masalah sektoralnya, karena tidak ada ideologi yang sempurna. Dan satu lagi jangan samakan PRD dan PKI itu tidak tepat, karena jelas pandangan politiknya beda! Satu sosdem satu lagi komunis.

  9. Setelah saya baca artikel ini sangat luar biasa sekali pemikirannya..sangat liberalis sekali tulisan ini..hanya kaum liberalism yang paling membenci kaum communism dibanding socialism ato facism sekalipun, karena liberalis sangat mencintai kebebasan sedangkan komunis lebih mengutamakan tatanan yg tersentral..buat saya lebih enak kebebasan yang tersentral..bebas sesuai kesepakan bersama tidak sendiri-sendiri..

  10. Mantap !

    Semoga saja punk yang ada di jalanan dan perempatan lampu merah di kota saya mengenal “punk” yang sesungguhnya.

  11. punk tetep punks coy…
    begitu bodoh bila dikaitkan dgn politik tolol..
    di era refomasi memang banyak punker yg ikut PRD tp gak semua paham dan benci, bahkan sekarang punkrock masih ada yg nyari kaos PRD !!!
    gak percaya ??
    punks ada bukan di era 90an dijakarta punks udah ada sejak 80an apalagi dilondon sama negeri paman sam bro…
    perasaan gue gak tau punks benci sama komunis, berarti elu kaga tau NAZIPUNX…
    bego !!!
    apalagi ANARCHAOS

    • Ini yang dibahas bukan London bro, tapi Indo !

    • cuma mo revisi aja, kalo punk ngga berkenaan/di campurkan politik, bagaimana kamu menjalankan politik harian kamu?, punk itu udah mati menurut salah satu band political anarcho CRASS,karena semangat yang ditebar malcom mclarent di giles sama emi,pernah denger lagu sex pistols yang judulnye e.m.i? nah itu, kemudian ada sebuah band streetpunk namanua exploited yang bilang punk not dead, nah dari situ munculah berbagai genre punk dan salah satunya political punk anarcho punk peace punk. kemudian juga muncul media media punk yang notabenenya ngebahas berbagai wacana politik, jadi punk apa yanh ngga berhubungan dengan politik, bahkan sid pun punya pandangan politiknya sendiri…kasih tau dong band apa yang ngga nyanyiin soal situasi politik.. sepertinya kita harus banyak belajar dan liat lagi apa itu punk.

      punk is political not just your shit style

  12. Numpang ketawa aja, artikelnya keren bung kek tukang jamu oplosan keliling Hahahaha.. 😀

  13. Jaman PKI musik kayak gitu aja dah dilarang karena katanya nggak sesuai arah revolusi Bangsa…
    Gimana dengan K-P*P dkk..

  14. Hanya mau revisi aja, yang pertama “punk” itu bukan hanya musik & cara berdandan aja, tapi “punk” sendiri adalah lifestyle yang akhirnya menciptakan musik, cara berdandan & ideologi mereka sendiri, jadi orang yang berdandan kayak anak punk & minta-minta atau ngamen di pinggir jalan mereka belum tentu “punker”/” anak punk”, bisa saja mereka cuma ikut-ikutan dandan seperti temennya, yang kedua “punk” itu tidak muncul atau lahir di tahun 90-an bro, tapi lebih tepatnya tahun 70-an, liat aja salah satu pelopor “punk rock” dunia “sex pistols” yang lahir sekitar tahun 70-an & mendobrak dunia musik & menginspirasi banyak anak mudadi inggris dan di seluruh dunia untuk memberontak terhadap para kapitalisme

  15. Lo (yg nulis) kayanya cuma posser.. logika parah -ahistoris. Ginian ngaku anarkis.

    • bagi tau dong historis nya kaya gimana biar kita ngga ahistoris

    • tulisan ini jauh lebih realistis menurut gw, daripada komen elu malah terkesan omong doang.

      • coba deh tambah bacaan pengetahuan nya soal diogenes. dia itu mbah nya punk menurutku. walaupun jaman dia hidup ga ada istilah punk tapi pandangan-pandangan hidupnya itu sudah mencerminkan seorang people united not kingdom

  16. Revolusi itu sebagai proses alamia waaaah kalau revolusi sebagai proses alamia, berarti ini kaum penunggu momen aja. Buah aja skarang tdk perlu menunggu musimx sekarang buah apapun kita bisa nikmati tanpa harus menunggu musim buah itu terjadi. Tdk bedanya dengan musisi yg gandrung dengan panggung festival musik yg diciptakan kaum kapitalisme karena musisi tersebut tdk bisa membuat momenx sendiri

  17. Menyedih kan Anak bangsa bisa nulis,Jago Menghayal Ilmu nya Cuma buat bikin kaya ginian Doang,,y,

    Mau PKI, Soeharto yg nama nya Politik tetep aja Kotor yg jadi masalah adalah penghasutan antar Rakyat sehingga rakyat main hakim sendiri,atas dasar Pembasmian anggota PKI tanpa ada nya pengadilan,,dan itu terjadi hanya karna memperebutkan kekuasaan,,Terlalu mahal rasa nya demi Era Baru Juta’an Orang Mati di Bantai,,Terlalu Mahal Demi Reformasi Ribuan Orang Mesti Mati akibat Kerusuhan,,,Masih Banyak sebenar nya kasus pembantai’an di Luar Indonesia,,diBosnia,Nazi/Jerman, tapi aneh nya hanya di Indonesia yg sama sekali tidak pernah terdengar,,Malah baru” ini kita di suruh Memaafkan para Jendral” dimasa lalu,,Memaaf kan untuk apa? bagai mana memaaf kan hal yg kita ga tau apa???

  18. so lo mau kemana ? anarki?komunis?sosialis? ato mau tetap diberakin demokrasi tai?

  19. Artikel yg bagus. Membingungkan umat. Hahaha


  20. “Tapi, sekali lagi, hanya karena berbeda pendapat, dia kena hajar juga.”
    Baca bukunya beresin lagi ya. Jangan setengah-setengah.

    Dari tulisan itu saya menyimpulkan. Punk anti komunis dan anti negara.
    PUNK + TNI = CINTA DAMAI

  21. Punk is my way of life
    PRD is my way of struggle
    Indonesia tanah kelahiran dan tempat makamku kelak.

    Tulisan yang luar biasa……luar biasa ngawur

  22. Pengen ketawa baca ini artikel, belajar lagi deh biar ngga salah kaprah. Banyak-banyak membaca juga. 🙂

  23. HAHAHAHA GOBLOK.

  24. pada masa 1998 di medan sumut juga PUNK di explotitasi oleh PRD,bkn punk saja ,buruh,petani,pedagang,dll juga ikut terexploitsi.

  25. Sejarah Punk memang lahir untuk bersuara tentang ketidakpedulian masyarakat dari hal-hal kecil yang berdampak besar.

  26. Koalisi Rakyat Sans

    Kritik punk terhadap komunisnya gak objektif, sepotong-seporing alias idealis. Kayak ngekritik PRD, bener itu soal pejabat-pejabat partainya yang merapat ke partai borjuis, tapi ini juga dikritik sama kaum marxis. Danial Indrakusuma ex-PRD yang keluar karena itu, dan sampai hari ini doi masih konsisten berjuang.

    Pernyataan bahwa revolusi terjadi alamiah juga aneh. Bener-bener gak dialektis dan menolak tahap dan syarat yang membangunnya.

    Cara dia menyatakan revolusi/reformis 1998 sebagai revolusi spontan karena digulingkan oleh berbagai elemen. Doi lupa satu tahap dan syarat pentingnya adalah penghambatan di wilayah ekonomi: pemogokan buruh sama penghentian distribusi hasil tani, ini padahal hasil organisir PRD. Kalau menolak komunis-nya punk sama dengan menolak partai, itu mah idealisme kaum punk yang nggak mau dialektis sama hikmah-hikmah revolusi aja. Atau kaum punk kayak penulis, yang pernah masuk PRD dan kecewa ketika liat Budi dkk, tanpa bisa liat kesalahan objektifnya. Lalu menganggap itu salah konsep marx dan lenin.

    Secara objektif konsep marx dan lenin masih relevan hari ini untuk ngelawan kapitalisme. Kalau pake konsepnya kaum punk itu “revolusi itu alamiah” dan lupakan saja syarat dan tahapannya, alias semua dilawan karena revolusi pasti : lalu yang punk lawan sebenarnya apa? 😁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.