Home / Artikel / Opini Hatkor! / All Cops Are Bastards? Seberapa Menyebalkan Polisi Di Mata Kalian?
Jerinx dan polisi (foto: facebook)

All Cops Are Bastards? Seberapa Menyebalkan Polisi Di Mata Kalian?

KONTERKULTUR–Kawan saya mengumpat habis-habisan. Pasalnya, gigs yang diorganisirnya susah payah, tiba-tiba dibubarkan begitu saja. Alasannya: mengganggu ketertiban umum. “Ah, klasik…,” kata kawan saya ini. Tapi seklasik-klasiknya, dia bisa apa? Protes pun takut. Di dunia, polisi lebih berkuasa daripada tuhan, kata kawan saya setengah bergurau.

Kawan saya lainnya yang hanya seorang supir, digelandang ke kantor polisi hanya karena lampu belakangnya mati dan dia tidak mampu bayar “uang damai”. Kawan saya yang lain, pedagang pinggir jalan, harus rutin kirim upeti kalau tidak mau dagangannya diusilin. Dan kawan saya yang lain lagi, bahkan sudah ditandai polisi karena aktivitasnya memperjuangkan orang-orang kecil tak berdaya, dianggap “mengancam stabilitas nasional” dan dituduh “berpotensi merubuhkan negara”. Padahal kawan saya ini ceking kurus kering. Boro-boro merubuhkan negara, melawan tiupan angin saja susah.

Kenyataanya, hampir semua kawan saya yang pernah berurusan dengan polisi, punya warisan ingatan berupa mimpi buruk. Polisi itu mewakili sosok yang represif, diskriminatif, dominatif, koruptif, manipulatif, solatif, double tif, lakban, plester, lem aibon, dan sebagainya. Pokoknya polisi itu ibarat setan bermake-up malaikat.

Wajar kalau misalnya Gus Dur bilang, hanya ada tiga polisi baik: Patung Polisi, Polisi Tidur, dan Polisi Hoegeng. Jenderal Hoegeng adalah sosok polisi yang tidak akan pernah muncul lagi ke bumi. Mantan Kapolri ini ditendang dari jabatannya karena terlalu jujur. Dia juga sosok yang sederhana. Mana ada jenderal sekarang yang hidupnya tidak perlente. Jangankan jenderal, brigadir bau kencur saja lagaknya sudah kayak jenderal kalau berhadapan dengan masyarakat biasa.

Apalagi di mata anak Punk. Khususnya mereka yang punya idealisme tinggi. Polisi adalah musuh bebuyutan, orang pertama yang harus dihancurkan sebelum melenyapkan negara. Apa yang paling dibenci anak-anak Punk? Pertama, mereka represif. Kedua, feodal. Dan terakhir, merasa selalu benar. Dalam hukum Punk sendiri, mencemooh, menyerang, bahkan melukai polisi itu “berpahala”. Saking bencinya.

Nah, demi membersihkan citra jelek itu, akhirnya polisi bikin “manajemen artis”. Mereka mulai bergerilya ke media-media, Pertama-tama mereka bikin artis dengan bakat entertainer, seperti misalnya lip-sync. Kedua, beredar polwan-polwan cantik yang dipasang berjajar serta dipasangi nomor seperti di sebuah lokalisasi pelacuran. Ketiga, bikin “sinetron” bertajuk kejar-kejaran polisi dengan maling kelas teri.

Tujuannya apa? Polisi ingin menunjukkan sisi baiknya (dengan susah payah). Tentu saja agar masyarakat tahu kalau polisi benar-benar mengayomi semuanya, bukan sekedar keluarganya saja. Bukan juga seperti anggapan orang selama ini, “ada uang urusan lancar”. Toh, polisi telah bekerja sungguh-sungguh seperti yang nampak dalam sinetron yang mereka produseri sendiri itu.

Tapi, apakah efektif? Haha. Sepertinya tidak. Tema “All Cops Are Bastards” tidak pernah kehilangan momentum. Sejak 4-Skins, band skinhead legendaris, meneriakkan perlawanan terhadap polisi, sampai detik ini, suara-suara melawan kebrengsekan polisi tetap berjalan. Terakhir (awal tahun ini) malahan Agnostic Front mengeluarkan album baru dengan salah satu single-nya berjudul “Police Violence”. Itu menandakan, tema ini belum usang sama sekali.

Tentu kita ingat bagaimana gedeg-nya Joe Strummer (THE CLASH) terhadap polisi sampai-sampai harus bikin banyak lagu hanya untuk melabrak institusi tersebut. Tembang Police and Thieves yang inti liriknya bermakna “polisi sama maling tuh sama saja”, lalu ada lagu ‘Know Your Right’ yang mengingatkan kita kalau polisi itu sama saja derajatnya seperti orang biasa, walaupun punya pistol nggak bisa seenaknya arogan. Selain itu ada ‘Police on My Back’ dan beberapa tembang lainnya yang menyuarakan anti otoritarianisme polisi.

Era Hardcore Punk 80-an juga menyajikan suara senada. ‘Police Story’ BLACK FLAG yang selalu dikenang lewat artwork “menodong pistol di mulut pak polisi”. ‘Police Truck’ DEAD KENNEDYS yang terdengar amat suram, sesuram imej polisi yang terkenal “menegakkan hukum lalu dilanggarnya sendiri”. ‘Hate The Police’ THE DICKS, ‘Police Brutality’ THE CASUALTIES, ‘Pigs for Slaughter’ OI POLLOI, ‘Police Car’ COCKNEY REJECTS, ‘State Violence State Control’ DISCHARGE, dan yang tidak boleh ketinggalan “Millions of Dead Cops”. Kehadiran mereka semua makin meneguhkan prasangka negatif terhadap otoritas polisi. “They hate us, we hate them. We can’t win” kalau kata BLACK FLAG. Jadi seperti perang dingin saja. Alias gimmick-gimmick belaka.

Nah, pertanyaannya, sejauh mana kebencian itu? Apa sekedar pemanis bibir saja? Pada kenyataanya, untuk menggelar sebuah gigs saja, kalian perlu ijin polisi? Kecuali, gigs kalian diadakan di sebuah ruangan yang amat kedap atau amat terpencil. Dalam banyak hal kita juga sempat berurusan dengan polisi karena mereka yang punya kendali. Akhirnya peperangan bubar karena kebutuhan yang lebih mendesak.

Bahkan ada beberapa band Punk yang justru asyik main di lingkungan polisi. Dan tidak mengejutkan, ternyata banyak polisi-polisi muda yang juga gemar musik-musik Punk. Tercetuslah istilah “Polisi Punk” yang memiliki dua arti. Pertama, anak Punk yang terlalu cerewet sehingga menjadikan Punk sebagai sebuah institusi hukum benar-salah. Kedua, kaum Punk yang akrab dengan musuh bebuyutannya, Polisi.

Coba perhatikan, Roger Miret, frontman AGNOSTIC FRONT mengatakan,”Coba kalian cari di belahan bumi manapun. Polisi selalu senang menyalahgunakan kekuasaan, mereka berlindung di balik badge mereka, bertindak sesuka hati, bahkan bergaya seperti kriminal. Tapi kriminal yang kebal hukum. Saya tahu ada segelintir polisi baik. Oleh karena itu, lewat lagu ini, saya ingin meneriaki polisi jahat agar segera bertobat dan polisi baik agar terus bekerja dengan baik.”

Cocoklah Om Roger ini dengan perkataan Bli Jerinx SID yang beberapa waktu lalu meng-upload fotonya bersama seorang perwira polisi sambil Jerinx mengacungkan jari tengah ke arah surti (baca: kamera). “Jari tengah itu bukan untuk dia, tapi untuk oknum aparat yg korup dan menghamba pada investor rakus.”

Nah, itu artinya anak Punk mulai bisa selektif memilih mana musuh yang sebenarnya. Sehingga boleh dipertanyakan lagi keabsahan kata “ALL” dalam slogan A.C.A.B yang seharusnya diganti “Some” menjadi “Some Cops Are Bastards” atau beberapa saja yang brengsek, sisanya tidak brengsek atau setengah brengsek.

Cuma, ada pertanyaan besar yang mengganjal di hati. Bagaimana cara mengetahui kebrengsekan seseorang? Bagaimana mengukur kadar kebrengsekan seseorang. Bisa jadi, polwan-polwan cantik yang biasa kalian share di medsos itu, ternyata yang paling “nakal”? Who knows?

Lantas, apa polisi masih menyebalkan? Pikir lagi deh….

Oleh: Bokir

7 comments

  1. “ALMOST ALL COPS ARE BASTARD!!!!”

  2. Keren tulisan ini! gue punk dari dulu tapi gue nggak pernah sepakat ama konsep ACAB. soalnya papa gue polisi dan gue sayang papa gue! gue yakin banget kalo papa gue nggak berbuat yang negatif kalo bertugas.
    support banget dah ama Konter kultur

  3. ALL COPS ARE BASTARD terdengar mengeneralisir …tapi itu lah keadaan nya baik itu arogansi , korupsi , walau ada juga polisi yang jujur tapi tertutup kelakuan oknum dengan institusi mereka …. seperti lirik House Of Pain -“I never eat a pig ’cause a pig is a cop ” yeah itu lah realita malah dan dengarlah Bar Of Death – ALL COPS ARE GOD karna kita tidak bisa mendebat mereka ..
    I DUN EAT PIG BECAUSE PIG IS HARRAM

  4. ALL ZIONIST ARE BASTARD!
    A.Z.A.B 😀

  5. 88.8% pendapat saya sama dengan artikel diatas.
    Be yourself & Do it yourself

  6. Memang dalam beberapa hal kita tidak bisa lepas dari institusi brengsek itu
    Tapi sepertinya artikel ini mencoba mendandani iblis dengan jubah malaikat
    Sebagus apapun polisi itu dimata saya mereka tetap bastard meskipun diawal saya sudah sampaikan kita tidak bisa lepas dari mereka ironi memang
    Tapi saya tetap benci mereka apapun alasannya fuck cops!!!

Leave a Reply to Duit You self Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.