Home / Artikel / Celoteh Agen KK / Anak Punk Dianggap Sampah Masyarakat, Salah Siapa?
Petugas Polres Bekasi Kota menjaring 29 anak Punk yang kerap meminta uang secara paksa dengan modus mengamen.(abdullah m surjaya/sindonews)

Anak Punk Dianggap Sampah Masyarakat, Salah Siapa?

KONTERKULTUR–Anak punk, khususnya yang hidupnya dijalanan, memang sering bikin persepsi negatif masyarakat. Termasuk Satpol PP. Mereka menganggap anak punk itu sampah masyarakat yang harus disingkirkan agar tidak merusak pemandangan kota.

Salah satu kasus yang baru saja terjadi di Jombang Jawa Timur, seorang anak SMP diciduk satpol PP cuma gara-gara dia selfie bareng anak punk. Sumpah ketika saya membaca berita ini agak bingung mau merespon seperti apa. Apakah tertawa geli melihat kesialan anak SMP tersebut, atau sedih karena melihat anak-anak punk itu dianggap sampah masyarakat.

Pertanyaannya, sebenernya mereka itu beneran sampah masyarakat apa nggak sih?

Tolong dengan pikiran jernih kita bahas fenomena ini secara obyektif.

Pertama, menurut pendapat saya, jika anak punk dianggap sampah masyarakat dari sudut pandang tanggung-jawab pemerintah, maka hal ini jelas tidak adil. Karena kondisi mereka yang kekurangan secara ekonomi yang memaksa mereka untuk hidup dijalanan seharusnya menjadi tanggungjawab pemerintah. Makanya, menurut pendapat saya, jika pemerintah mampu memakmurkan ekonomi rakyat, sudah pasti nggak ada anak punk yang tidur dijalan-jalan, diperempatan lampu merah, dll. Masalahnya, negara yang kaya raya ini, benar-benar dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan asing (lihat Freeport, Exxon, dll). Kalaupun ada orang Indonesia yang memanfaatkan potensi alamnya, tetap saja mereka adalah kapitalis-kapitalis yang tega mengeruk keuntungan untuk perutnya sendiri. Dalam hal ini, wajar jika ada perlawanan dari kalangan kelas bawah terhadap pemerintah yang tidak adil.

Namun perlu digaris bawahi, bahwa rakyat miskin juga tidak boleh semena-mena kepada pemimpin. Selama pemimpin yang ada dalam suatu negara itu bisa berbuat adil, berhasil memakmurkan rakyatnya, maka mereka harus menghentikan perlawanan, dan bersikap kooperatif. Maka dari itu, seharusnya konsep anarkisme yang anti pemerintah secara mutlak tidak relevan dilakukan disini. Kenapa harus melawan pemerintah jika memang pemerintah sudah berbuat adil?

Kedua, jika fenomena anak punk yang dianggap sampah masyarakat ini dilihat dari kesalahan individu yang bersangkutan itu sendiri, maka anak-anak punk itu sendiri yang salah.

Kita memang boleh mengoreksi pemerintah atas ketidakadilan mereka. Namun, kita harus koreksi diri sendiri juga dong. Mau nyalah-nyalahkan pihak lain tanpa mengoreksi diri sendiri itu tidak adil juga namanya. Jujur saja, berapa banyak anak-anak punk itu yang bernasib demikian karena buah dari kemalasan mereka, seringnya mereka berbuat negatif, ketidaktaatan mereka kepada orang tua, jauhnya mereka dari kehidupan spiritual/agama, dll?? Pasti banyak! Mengapa itu tidak menjadi koreksi bagi diri mereka sendiri?? Bukankah citra yang terbangun di masyarakat adalah hasil dari bentukan perilaku kita sendiri??

Tidak mungkin ada orang yang dicap “tidak punya masa depan”, jika hidup mereka dijalani dengan teratur, sikapnya baik, gigih bekerja, tidak malas, dan bisa berkehidupan sosial yang baik dengan masyrakat.

Sungguh ini bukan untuk menyalahkan siapa-siapa. Tapi ayo kita sama-sama mengoreksi diri kita sendiri. Jangan sok-sok’an nggak mau menerima kritik dan masukan padahal kenyataannya memang demikian. TUlisan ini sudah berusaha saya tulis seobyektif mungkin. Mari sama-sama memperbaiki citra punk. Siapa tahu suatu hari nanti punk berubah menjadi subkultur paling santun, visioner, dan punya masa depan yang bagus. Hehehe. Mimpi kan boleh aja. Suka-suka saya.*[]

Oleh: Jeko

3 comments

  1. mantan pecandu WIFI (gratis)

    bermain kemungkinan ya? ya mungkin mungkin saja jek! o
    🙂

  2. salah sendiri toh kenapa mesti ngamen emangnya punk yg ngajarin ngamen? gk kan ?

  3. jadi lah anak punk yg kreatif. Duitnya di pakai buat yg bermanfaat. jangan habis di pakai mabok, ngobat, dan ngelam.

    masa kalah sama aki – aki yg setiap hari dorong gerobak cari nafkah buat anak, dan bini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.