Home / Artikel / Celoteh Agen KK / Antara CRASS dan FPI

Antara CRASS dan FPI

“Do you really believe in Buddha? Buddha sucks
Do you really believe in Jesus? Jesus fucks
Is it alright really? It is alright really?
Is it working?
Do you really believe in Marx? Marx fucks
Do you really believe in Thatcher? Maggie sucks
Do you really believe in the system? Well o.k.
I BELIEVE IN ANARCHY IN THE UK” — (Lirik lagu CRASS berjudul “Sucks”)

KONTERKULTUR–Untung! Beneran untung! Untung CRASS, band punk anarkis yang tersohor asal Inggris itu nggak tinggal di Indonesia. Untung juga, CRASS bukan band nasyid dan membawa lirik-lirik lagu jihad. Dan satu lagi, untung saja personel CRASS nggak ada yang berjenggot, pakai sorban dan bercelana cingkrang.

Karena seandainya CRASS tinggal di Indonesia, pasti CRASS sudah dihakimi massa lantaran menghina agama lain. CRASS pasti akan dihabisi karena sudah menodai kebhinekaan di Indonesia. Seandainya CRASS bukan band punk, tapi band nasyid yang menyanyikan lirik-lirik jihad, pasti sudah menjadi bulan-bulanan media massa karena dianggap band ekstrimis. Seandainya CRASS ternyata personelnya berjenggot panjang, berjidat hitam, bersorban dan bercelana cingkrang, pasti sudah dibully habis dan dituduh fasis sebagaimana Habib Rizieq dan FPI.

Bagaimana nggak beruntung, sampai sekarang CRASS masih jadi pujaan anak-anak punk diseluruh dunia. Meskipun dia mencaci agama lain dengan mengatakan “Kamu percaya sama Buddha? Buddha jancok!”, atau “Kamu percaya sama Yesus? Yesus ngentot!” tapi tidak pernah dipermasalahkan sama sekali di kalangan punk di seluruh dunia. Sampai sekarang belum pernah ada yang kritis soal masalah itu. Nggak ada yang berani maju dengan lantang meneriakkan, “BOIKOT CRASS! BAND INI ADALAH BAND PUNK YANG FASIS DAN MERUSAK KEBHINEKAAN!”.

Coba kita berandai-andai sedikit. Seandainya yang mengatakan “Buddha sucks” dan “Jesus fucks” adalah Habib Rizieq, akankah anak-anak punk diseluruh Indonesia akan berbuat adil? Kalau yang mengatakan kalimat-kalimat makian itu ustad berjenggot dan berpakaian gamis serta bersorban, apakah kalian juga akan biasa-biasa saja menanggapinya?

Oh tidak,… saya khawatir punk ternyata punya kebiasaan standar ganda. Nuduh sekelompok tertentu sebagai fasis, sedangkan sekelompok orang lainnya tidak, meski mereka melakukan hal yang sama. Kalau emang seperti itu yang terjadi di dalam tubuh punk, ini sungguh memalukan.*[]

Oleh: Sip Markosip

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*