Home / Artikel / Kamu Harus Tahu! / Atheisme Psikologi ala Sigmund Freud dan Bantahannya

Atheisme Psikologi ala Sigmund Freud dan Bantahannya

KONTERKULTUR—Psikologi seharusnya bisa menjadi penguat diri manusia dalam memahami keberadaan Tuhan. Karena psikologi adalah penjelajahan perasaan, batin, dan jiwa manusia. Semakin kenal manusia pada dirinya, semestinya ia semakin dekat dengan Tuhannya.

Pepatah Arab berkata, “Man ‘arofa nafsahu ‘arofa Rabbahu!” Artinya, siapa yang mengenal dirinya pasti mengenal Tuhannya. Namun ternyata ada ahli psikologi sesat yang menggunakan alasan psikologi sebagai dalil mengingkari adanya Tuhan, salah satunya adalah Sigmund Freud.

Atheisme psikologi dicetuskan oleh Sigmund Freud di Jerman abad ke-19 dimana ia mengingkari Tuhan dengan alasan psikologi. Menurut Freud, bertuhan adalah jiwa kekanak-kanakan yang dibawa hingga dewasa. Dia menganggap bahwa saat kita kecil kita adalah makhluk yang lemah dan mengalami banyak kekurangan untuk memenuhi kebutuhan kita. Seperti meja yang begitu tinggi bagi seorang bocah membuat bocah itu tidak bisa menggapai benda yang ada diatasnya. Juga kursi, yang terasa amat berat sehingga seorang anak kecil tidak kuat mengangkatnya. Dia bisa melihat ayahnya bisa melakukan apa saja. Mengambil benda diatas meja dan mengangkat kursi dengan begitu mudah. Itu membuatnya kagum kepada ayahnya. Ayahnya ia lihat mahakuasa.  Ia jadi sangat memerlukan ayah. Ketika anak itu sudah dewasa, ia menciptakan Tuhan dalam benaknya. Tuhan yang ia sebut dalam doanya untuk memenuhi kenginan-keinginannya. Persis pada saat dia masih kecil dulu saat minta tolong kepada ayahnya.

Jadi, Tuhan menurut Freud hanyalah rekayasa manusia saja untuk ia jadikan tempat bertumpu atas segala keinginannya. Freud mengingkari adanya Tuhan dengan alasan seperti itu. Agama menurut Freud hanyalah cerminan keinginan manusia. Dia bukan satu-satunya yang pernah berpikir seperti itu. Masih ada Ludwig Van Feuerbach yang juga berasal dari Jerman.

Kelemahan paham atheisme psikologi terletak pada segala sisinya. Dari awal hingga akhir dasar falsafah mereka lemah. Kita tanya pada anak-anak kecil di sekitar kita tentang Tuhan, mereka akan menjawab Tuhan itu ada. Jadi pengalaman psikologi seperti yang digambarkan Freud sangat jauh dari kebenaran. Freud menggambarkan, ketika orang yang sudah dewasa dia menciptakan Tuhan dalam benaknya. Yaitu Tuhan yang dia sebut dalam doanya untuk memenuhi keinginan-keinginannya. Persis waktu ia kecil dulu saat minta tolong ayahnya. Ini sungguh gambaran yang sangat lucu sekali. Bagaimana dengan orang yang sejak kecil telah mengenal Tuhan, dan mengakui Tuhan itu ada? Atau bagaimana dengan anak yatim piatu yang tidak punya bapak dan tidak punya ibu? Hidup sebatang kara sejak kecil, namun ketika dewasa mengakui adanya Tuhan. Apakah Tuhan yang diakuinya terlahir dalam benaknya sekedar untuk memenuhi keinginan-keinginannya, persis waktu ia masih kecil dulu minta tolong ayahnya? Bagaimana ia punya pengalaman minta tolong pada ayahnya padahal ia tidak punya ayah?

Freud dan Feuerbach sama-sama meyakini bahwa agama tak lain hanyalah cerminan keinginan menusia. Karenanya, agama juga khayalan otak manusia belaka. Pertanyaannya, benarkah agama itu merupakan keinginan-keinginan? Kodrat manusia menghendaki terpenuhi secara baik kebutuhan jasmani dan ruhaninya. Nafsu seks manusia menghendaki pemenuhan dengan wanita mana saja tanpa batasan atau larangan. Demikian pula nafsu perutnya. Tetapi agama melarang pemenuhan demikian. Manusia wajib memenuhi tuntutan perut dan seksnya dengan beberapa aturan. Manusia tidak boleh melampiaskan keinginan seksnya kecuali pada pasangannya yang sah. Manusia tidak boleh mengisi perutnya kecuali dengan yang halal. Manusia harus mengerjakan shalat, puasa, membayar zakat, shadaqah dan itu bukan suatu keinginan. Tapi kewajiban dan tuntutan yang diajarkan agama.

Jika agama merupakan keinginan, mengapa banyak rasul yang membawa agama itu justru menderita, disingkirkan, diteror, bahkan ada yang dibunuh. Jika agama cerminan keinginan, seharusnya semua rasul diterima dengan penuh sukacita oleh kaumnya. Kenyataannya adalah sebaliknya. Jadi tidak benar agama merupakan keinginan-keinginan. Dan tidak benar anggapan bahwa Tuhan hanya rekaan di benak manusia. Tuhan memang benar-benar ada. Dan agama yang benar seperti Islam adalah agama yang diwahyukan Tuhan. Bukan cerminan keinginan-keinginan manusia.[]

Dikutip dari Novel ‘Bumi Cinta’, Karya Habiburrahman El-Shirazy

Editor: Abu

4 comments

  1. Saya tertarik dengan artikel yang ada di website anda yang berjudul “Atheisme Psikologi ala Sigmund Freud dan Bantahannya”.
    Saya juga mempunyai jurnal yang sejenis yang bisa anda kunjungi di Jurnal Ilmiah Psikologi

  2. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Dunia Psikolog, menurut saya bidang studi Psikologi merupakan bidang studi yang sangat menarik
    juga banyak hal yang bisa dipelajari di dunia Psikologi.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis
    mengenai bidang Psikologi yang bisa anda kunjungi link ini, selamat berbagi 🙂

  3. anarkis anarkisan ala Peter Lamborn Wilson aka hakim bey dan bantahannya dong min? 🙂
    huehehehe..

  4. sepertinya itu biarawan sion…
    cheers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.