Home / Artikel / Celoteh Agen KK / Belajar Nge-Punk Dari Minions
Gambar Kartun Minion Minions by Dino Tomic

Belajar Nge-Punk Dari Minions

KONTERKULTUR–Pernah nonton Minions? Makhluk kuning, kecil, aneh, dan senang bergerombol itu? Bukan sekedar lucu-lucuan, minions juga nge-punk lho!

Meskipun tidak mohawk, minions ternyata mempraktekan beberapa ajaran Punk. Dalam tataran politis, Punk identik dengan ideologi Anarkisme. Maka dari itu, sebagian orang menyebutnya Anarcho-Punk. Sebab Punk itu bukan sekedar musik atau suara perlawanan. Tapi lebih kepada gerakan politik (atau terkadang juga panduan moral).

Mari kita urut satu per satu.

Pertama, secara penampilan, minions sangat mirip dengan kelas pekerja, kelasnya kaum anarkis. Lewat baju jeans “monyet” dan kaca mata safety-nya, minions menyimbolkan diri sebagai pekerja kasar, pondasi terkuat gerakan buruh. Kalau dilihat-lihat, persis seperti pekerja tambang di kolong-kolong bebatuan.

Tentu, bagi para penikmat sejarah perjuangan buruh, pekerja kasar merupakan salah satu pionir dari pergerakan buruh sedunia. Masih ingat tuntutan tentang jam kerja 8 jam perhari? Usul itu datangnya dari kaum buruh kasar baik di pertambangan, industri berat maupun industri mass-production lainnya.

Di tempat itulah kemanusiaan amat langka akibat para kapitalis industri hanya paham cari untung tanpa peduli kehidupan pekerja. Bahkan, sampai detik ini, soal jam kerja merupakan tema yang paling santer beredar di kalangan para anarkis/sindikalis.

Maklum, Punk sekarang sering lupa tentang isu-isu sosial, termasuk perburuhan. Punk dewasa ini lebih senang review lagu ketimbang aktif berpolitik, memperjuangkan keadilan. Memang benar, lagu bisa menyampaikan pesan. Tapi apa artinya pesan bila tidak dipolitisir, tidak digerakan, dan tidak dimanifestasikan. Dan minions mencoba menggegarkan kembali memori kita tentang Punk pada awal berdirinya.

Kedua, kolektif. Ingat! Kolektif adalah bagian terpenting dari gerakan Anarkisme. Kebiasaan bergerombol dan bergerak bersama secara sporadis juga merupakan kebiasaan sebuah organisasi Anarkis. Utamanya dalam pengacauan terhadap sebuah sistem.

Kebiasaan minions melakukan long-march sambil mendendangkan sebuah yel-yel bersama-sama, mirip seperti pawai penentangan WTO di Seattle tahun 1999. Meskipun kelihatan lucu, ketika mereka bergerilya, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain karena kondisi yang tak menguntungkan, minions tetap bersama, berusaha mencapai tujuan kolektif.

Punk sekarang memang masih kumpul. Tapi kumpulnya sama seperti kerbau kumpul. Sekedar makan minum hepi-hepi. Tidak ada lagi ide-ide orisinil yang menyegarkan. Masih bisa ngumpul pun, itu sudah patut disyukuri. Jangan harap bahas hal-hal penting. Kecuali soal penjualan album dan merchandise.

Ketiga, No Bosses. Meskipun tujuan utama minions adalah pengabdian terhadap seorang bos, tapi pada dasarnya, minions bisa bergerak tanpa pimpinan. Mereka tidak gampang tunduk pada seseorang. Mereka berusaha melakukan pendekatan musyawarah untuk mufakat supaya sama-sama senang. Bukankah ini Punk banget?

Minions dalam perjalanannya bahkan sering menghancurkan pemimpinnya sendiri. Padahal para pemimpin itu terkenal kuat dan amat berkuasa. Mulai dari T-Rex, Firaun sampai Napoleon Bonaparte, semua hancur. Itu sebenarnya simbol penghancuran kultus individu. Mengkultuskan manusia modern itu sama bodohnya seperti menuhankan Punk.

Tapi kadang disitulah jeleknya. Sebuah perkumpulan tanpa pemimpin seperti itik ditinggal induknya. Padahal gerakan perlu diorganisir. Oleh sebab itu, minions diberikan naluri “mencari pimpinan” oleh si pengarang. Artinya, gerakan tanpa kepemimpinan itu seperti arisan saja. Tidak akan membahayakan bagi sistem.

Di Punk sekarang, simbol pemimpin diganti dengan idola. Idola kamu siapa? Lantas kamu ikuti. Tapi sayangnya, yang diikuti hanya yang “keren-keren” saja. Pemikirannya ditinggalkan. Ide-ide perjuangannya diabaikan. Ini yang disebut Conflict sebagai “The arrival of pop idol, The survivor of survival”. Band Punk saat ini kebanyakan telah menabikan diri, dimana semua liriknya adalah suci.

Minions telah mengajarkan diri kita untuk menjadi diri sendiri. Dengan segala keunikan (dan keanehan) yang kita miliki. Modal utama kita adalah keyakinan. Tidak perlu harus menjadi yang lain untuk sekedar menambah kepercayaan diri. Tidak ada gunanya.

Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa diungkap. Tapi dari ketiga penjelasan di atas, ternyata, menjadi Punk bisa juga lewat wajah imut dan lugu seperti minions. Karena Punk itu aslinya bukan fashion. Bukan sekedar mohawk, tatto, atau tindik. Setuju?

“Get a job. Go to work. Get married. Have children. Follow fashion. Act normal. Walk on the pavement. Watch TV. Obey the law. Save your old age. Now repeat after me: I am Free!”*[]

Oleh: Che Guemarah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.