Home / Artikel / Celoteh Agen KK / Benarkah Zine itu Media yang Efektif?

Benarkah Zine itu Media yang Efektif?

KONTERKULTUR–“Zine adalah tentang ekspresi dan komunikasi. Dalam masyarakat dimana kedua hal tersebut tidak eksis, mendorong, membuat, dan mempublikasikan zine telah merepresentasikan sebuah gerakan revolusioner. Jam-jam panjang yang dihabiskan untuk menulis, menggambar, melay-out, dan lain-lain adalah jam-jam yang tidak digunakan untuk sekedar dihabiskan didepan layar televisi, dihabiskan untuk konsumerisme, atau untuk berbagai hal lainnya yang sering digunakan untuk membunuh waktu luang oleh sebagian besar masyarakat kita. aksi yang mengusahakan pendistribusian zine, merepresentasikan sebuah keinginan untuk menggapai individu lain, untuk berbagi ide dan mendapatkan tanggapan. Dengan kata lain, hal itu merupakan langkah pertama dalam memapankan interaksi manusia yang otentik, sebagai sebuah oposisi terhadap basa-basi orang-orang di cafe, market atau saat berpapasan di jalanan.”Tad Hirsch.

Zine memang media yang bukan tergolong media jenis baru. Media ini sudah ada sejak sebelum 1930-an di Amerika. Ketika itu banyak fans dari fiksi-ilmiah (science fiction) yang membuat klub-klub komunitas mulai memakai zine sebagai media komunikasi mereka. Saat itu zine mereka pakai untuk mempublikasikan cerita-cerita fiksi ilmiah saja. Sampai akhirnya 40 tahun kemudian, zine dipakai dalam scene punk rock disebabkan mereka mulai membenci media massa mainstream yang sering mengacuhkan gerakan punk. Maximum Rock’n Roll adalah zine punk tertua didunia yang paling berpengaruh di scene punk dunia.

Zine hanya media cetak biasa, yang bahkan di Indonesia lebih sering dikenal media fotokopian yang hitam-putih. Masih lebih menarik dari selebaran Jumat yang dibagikan gratis di masjid-masjid ketika shalat Jumat. Apalagi jika dibandingkan dengan majalah Rollingstone yang full-colour dan dicetak di kertas matepaper dengan berbagai finishing. Namun mengapa zine begitu berkembang di dunia ini? Bukankah zine memiliki banyak keterbatasan dibandingkan media-media lainnya?

Zine di Indonesia memang berkembang cukup pesat. Ketika akhir 90-an, zine-zine bermunculan seperti jamur di musim hujan. Scene yang paling berperan dalam perkembangan zine tidak lain adalah scene underground. Mereka menggunakan zine untuk menyampaikan isu-isu terbaru didalam scene underground kepada para peminatnya. Artinya zine ini memang bergerak disegmen komunitas saja. Semakin fokus dan spesifik, maka semakin tepat menggunakan zine sebagai media komunikasi.

Mengukur keefektifan media zine tidak bisa hanya diukur dari seberapa banyak orang yang membelinya. Juga tidak hanya cukup diukur dari seberapa besar jumlah pembacanya. Juga kurang tepat jika hanya diukur dari seberapa banyak orang yang mendownload format PDF-nya di internet. Zine hanya bisa diukur keefektifannya dari seberapa besar dampak dari isu-isu yang diangkat dalam zine itu menjadi gerakan perubahan yang nyata dalam diri individu dan masyarakat.

Dalam penggunaan zine sebagai media dakwah, popularitas zine dakwah mungkin hanya bisa dibandingkan keberhasilannya dengan zine non-dakwah dari aspek kuantitas pembacanya saja. Tapi masih ada efektifitas lain yang tidak dapat diukur secara kasat mata. Jika zine punk/anarkis bisa saja mampu menggerakkan komunitas/scene untuk melakukan aksi nyata, maka bagi zine dakwah aksi nyata bukanlah penilaian yang final. Karena perbuatan bisa menipu. Perilaku bisa cenderung ‘munafik’. Karena dalam ajaran Islam, posisi niat sangat penting dalam setiap aktifitas.

Maka dalam aspek aksi nyata, zine dakwah pun harus menjadikannya sebagai salah satu bagian dari efek yang ingin disasar. Namun lebih dari itu, zine dakwah harus mampu memberikan perubahan aspek ruhiyah juga, bahkan keseluruhan aspek kehidupan umat Islam.

Yah, mungkin ini terlalu muluk. Terlalu tinggi ke langit. Tapi itulah yang dinamakan visi…

Meskipun kenyataannya hanya mampu mempengaruhi segelintir orang didekatmu, tapi minimal apa yang kamu kerjakan sebagai editor zine tidak pernah sia-sia. Memperbanyak membaca, merenungi ayat-ayat Allah, menuliskannya dalam sebuah artikel, me-layoutnya, mencetaknya dan menyebarkannya untuk orang-orang disekitarmu semua bukanlah hal remeh yang sia-sia. Usaha dan ketekunan untuk berdakwah itu memberikan nilai yang luar biasa di ‘mata’ Allah Swt. Tidak peduli dampaknya. Tidak peduli efeknya besar atau tidak. Selama itu kamu lakukan yang TERBAIK, lalu selalu mengevaluasi diri dan memperbaiki diri secara terus-menerus, yakinlah bahwa suatu hari pasti akan berhasil. Karena kejayaan umat Islam dimasa mendatang akibat langkah kecil kita (dengan zine) bukanlah sesuatu yang utopia!*[]

Oleh: Aik, diambil langsung dari SUB CHAOS ZINE atas ijin penulisnya.

One comment

  1. sori mas Aik, bukan bermaksud menggurui tapi saya liat di atas ada penggunaan kata “mengacuhkan”. Mungkin maksud sebenernya: tidak menghiraukan, ya? Padahal kata “acuh” itu sendiri artinya peduli. Sori lho mas, cuma mengingatkan… 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.