Home / Artikel / Celoteh Agen KK / Buruh dan Konsumerisme

Buruh dan Konsumerisme

KONTERKULTUR–Dalam dunia kerja saat ini, sudah tidak asing lagi dengan istilah lembur atau over time, yaitu tambahan kerja yang dilaksanakan apabila suatu pekerjaan  belum terselesaikan sesuai target. Lembur menjadi solusi agar pekerjaan tersebut selesai sesuai dengan waktu dan target yang diinginkan.

Dalam arti lain yang menyimpang, lembur termasuk loyalitas dan kepedulian karyawan terhadap perusahaan. Dalam waktu tertentu ada keharusan melakukan tambahan kerja dimana kondisi perusahaan sangat membutuhkan aktivitas kerja diluar jam biasanya, demi hasil yang memuaskan dan kondisi pekerjaan kembali normal. Kenapa lembur itu menyimpang? Karena bagi perusahaan, bahkan undang-undang ketenagakerjaan, lembur itu merupakan aktivitas abnormal.

Ada beberapa penyebab lembur itu terjadi, diantaranya kondisi produksi meningkat yang harus diselesaikan saat itu juga, namun belum mencapai waktu target, pekerjaan belum terselesaikan. Sebab lain. kekurangan manpower dikarena ada karyawan yang cuti dengan alasan yang dibenarkan.

Walau bagaimanapun, perusahaan adalah sumber mata pencaharian dan harus tetap terjaga, sehingga kelancaran dalam bekerja tidak memberikan nilai negatif antara kedua belah pihak yaitu antara karyawan dan perusahaan. Memberikan nilai positif dimana  timbal balik yang saling menguntungkan layaknya simbiosis mutualisme.

Kerja normal yang telah ditetapkan dalam UU yaitu 7 jam atau 8 jam. Kecuali ada shift, maka pengurangan jam kerja dari jam kerja normal terjadi dan semuanya itu telah disepakati sesuai ketetapan yang ada. Dalam kerja lembur ada upah khusus sesuai kesepakatan bersama antara pengusaha dan karyawannya diluar upah jam kerja normal.

Pasa 77 ayat (1) (2) Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan:

1. Setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja.

2. Waktu kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: 7 (tujuh) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu; atau 8 (delapan) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.

Berdasarkan pasal 78 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UUK), bahwa pengusaha yang mempekerjakan pekerja/ buruh ( karyawan) melebihi ketentuan waktu kerja normal sesuai dengan pola waktu kerja yang ditentukan (dalam Pasal 77 ayat [2] UUK) wajib membayar upah kerja lembur sesuai peraturan perundang-undangan.

Dengan adanya UUK tersebut diatas istilah perbudakan dalam masalah lembur akan hilang memang, karena kita akan dibayar disetiap jam lembur dan itu akan menambah pendapatan dimana gaji yang didapat belum mencukupi untuk kebutuhan hidup sehari – hari. Keingininan untuk hidup lebih akan terbesit dalam pikiran dan gak munafik sayapun akan melakukan hal yang sama demi memenuhi kebutuhan ini.

Tidak ada pendapatan lain lagi selain mengandalkan gaji sebagai karyawan, itulah hal buntu yang tumbuh di tengah masyarakat pekerja, rata – rata hanya mengandalkan gaji. Mungkin sebelumnya telah mengalami kegagalan dalam berwirausaha atau memang tidak memiliki bakat berwirausaha. Benarkah? Iya, kemampuan setiap orang sangat berbeda – beda dan akan sangat sulit jika disamakan semuanya.

Kita memang mandiri dan kuat, namun apakah semuanya seperti keinginan kita?

Dalam kegiatan serikat pekerja biasanya ada aktivitas pendidikan dan kegiatan lain dimana itu pegawai / karyawan yang sudah menjadi anggota serikatr dibekali pengetahuan mengenai pekerjaan dan hukum ketenagakerjaan. Intinya, agar seorang karyawan itu memiliki kecerdasan dalam bekerja sehingga melahirkan mental pekerja yang kuat dan mandiri serta rasa kebersamaan sesama pekerja.

Yap, balik lagi ke fenomena lembur. Saat upah yang didapat begitu besar kadang tergiur untuk ‘punya – punya’. Sebelumnya telah cukup dengan keadaan saat ini namun ditambahlah beban lain seperti cicilan mobil, motor dan benda – benda lainnya yang bersifat pelengkap. Bertambahlah pengeluaran baru setiap bulannya dan wajib harus dibayarkan setiap jatuh tempo, bila tidak akan terkena denda sesuai apa yang disepakati.

Ouh, ini yang membuat kita semakin gerah lagi jangan sampai sudah bertahun – tahun kerja masa’ rumah pun belum punya, menjadi “kontraktor”, hidup nomaden dari kontrakan satu kekontrakan lain karena pada umumnya, kontrakan rumah selalu naik setiap tahunnya.

“Dasar orang kaya gak tahu orang susah apa …” Dari gerutuan kita pun sudah membuat diri merasa miskin dan akhirnya keluhan – keluhan baru lahir sehingga menghambat keberkahan.

Istri yang setia dan ‘sabar’ akan selalu memberikan semangat pada suaminya untuk giat bekerja “mengejar lemburan”. Tidak apa-apa jarang dirumah, yang penting pas gajian harus setor dan istripun mengharap – harap. Bersyukur perusahaan yang didapat termasuk golongan perusahaan bonafit. Lemburan per jamnya besar belum lagi tunjangan dan fasilitas lainnya dapat menutupi pengeluaran wajib tiap bulannya.

Ini hak kita lho untuk memiliki segalanya, memangnya kita gak boleh kaya, toh ini harta kita. Istri gak merengut karena dapur masih ‘ngebul’, anakpun gemuk semua… banyak – banyak bersyukur deh. Berdoa semoga tetap diberi kesehatan, sehingga bisa geber lemburan …Wakwaw!.

Sampai kapan kita susah terus, pikirkan anak – anak kita nanti, sekolahnya dan kebutuhan sehari –harinya.

Lihat itu, tukang bakso aja bisa naek haji bahkan jadi juragan kontrakan, masa’ kita yang lebih formal dalam pekerjaan hingga bertahun – tahun bekerja, berangkat gelap pulang gelap, rumah pun belum punya. Boro – boro rumah, motor aja dua – duanya masih kridit. Ups!

Saat pulang kampung bagaimana tanggapan keluarga dikampung, jangan sampai mereka semua kasihan melihat kondisi kita yang sudah lama malang melintang di kota. “Engko wes dadi wong sugih neng kota, ojo dumeh yo Le! Ojo lali mbe kebo-kebomu neng kene!” pesan Mbah Joko kepada cucunya yang sudah 7 tahun jadi buruh pabrik di Bekasi.

Inilah negara demokrasi, persaingannya bertubi – tubi sistem bertahan hidupnya pun menggelora, yang kaya sibuk yang miskin makin “rieweh” . “Puyeng, dari pada banyak bacot mending gue ngajuin lembur aja dah” ( sambil senyum-senyum memandang emblem “hantam kapitalisme” yang menempel di jaket pada gantungan celana dalam toilet). “Byurrrr…cepak cepuk cepak cepuk…”

Lembur adalah hak kita, memang bukan kewajiban. Namun, semakin berkembanggnya waktu kadang lemburan itu diset harus ada setiap bulannya, entah bagaimana caranya yang penting lemburan ini ada. Jarang setiap karyawan yang menolak lemburan, karena dengan lemburan ini dapat menambah pendapatan di luar upah tetap. Salah satu solusi untuk meringankan cicilan setiap bulannya.

Cicilan perumahan bisa juga menjadi alasan semangat dalam melakukan kerja lembur. Dengan begitu impian karyawan atau pegawai memiliki rumah dengan waktu cepat akan terwujud. Walaupun kadang-kadang mengeluh sampai apdet status di sosmed “ Yah, berangkat gelap pulang gelap lagi, Sabtu Minggu masuk pula. Kapan liburannya ini ??? ”. Tapi, setiap ada form lemburan paling getol mengajukan. Hihihi.

Penggiringan kebutuhan pokok seperti harus memiliki rumah itu sudah hal biasa dan umum. Seorang karyawan biasa akan sangat mustahil memiliki rumah tanpa harus mengkridit, karena semakin besar harga rumah di negri ini setiap tahunnya. Tolak ukur kesejahteraan masyarakat pada umumnya dinilai dari tingginya pendapatan. Kadang kita merasa kurang bila hal yang lain belum tercukupi. Sangat memalukan bila kondisinya masih terlihat sederhana, dengan kata lain untuk apa kerja formal bila pendapatannya sama saja dengan kerja yang non formal, bahkan dibawahnya. Terserah kita, bagaimana kita memilih menjalani kehidupan ini sah – sah saja.

Dalam hal pinjam meminjam dan aktivitas mencicil pasti kita akan menemukan istilah bunga, setahu saya hal yang menyangkut bunga itu sebagai seorang muslim harus dihindari. “Ukh… sayapun akan dilema dalam hal ini, bila tidak meminjam bagaimana keperluan mendesak lainnya dapat tertutupi dan kalau tidak mencicil bagaimana saya akan memiliki rumah? Apakah saya akan menghamba pada boss untuk memohon lemburan ? “.

Cukuplah kita dengan kondisi saat ini, 8 jam kerja normal itu sudah cukup bila pada awalnya kita tidak neko – neko dan cerdas mengkontrol pengeluaran serta mengendalikan nafsu kita. Setiap harta yang kita peroleh nanti dari  gaji tetap maupun lemburan akan dimintai pertanggung jawabanNya di akhirat kelak, bila masih percaya akhirat.  Untuk apa saja harta kita itu dari sumber, cara, dan dipergunakannya. Bermanfaatkah untuk kebaikan kita atau hanya melenakan kita, sehingga lebih cinta terhadap dunia atau kebendaan. ( Mendadak bijak ).

Bila 8 jam kerja ditambah 3 jam dan 4 jam lagi sebagai waktu lembur setiap hari dalam seminggu itu waktu kita akan habis, dan secara tidak langsung loyalitas kita hanya kepada “bos”. Sholat berjamaah di masjid akan sulit dan bermuamalah lainya banyak tidak kita peroleh. Hal – hal yang luar biasa belum tentu kita dapati diluar jam lembur. Kita tidak akan tahu dan tak akan pernah tahu. Lemburan bisa jadi suatu yang diutamakan dan mengalahkan loyalitas kita kepada Allah SWT. Karena dalam sehari waktu kita habis di dalam perusahaan.

Mengutip salah satu pendapat dari para Anarkis yaitu “Bos bukan Tuhan”, cukuplah memohon dan memelas lemburan kepada bos dan tidak perlu ‘galau’ bila tidak mendapat lemburan. Janganlah membabi buta sehingga melampaui batas.*[]

 

Oleh: Angga, Agen KK di Bekasi

One comment

  1. kamu tidak butuh bos tapi bos yang butuh kamu
    :v

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.