Home / Artikel / Opini Hatkor! / Demi Sponsor Rokok, Efek Rumah Kaca ‘Mengusir’ Penggemarnya Sendiri
Efek RUmah Kaca (foto: http://www.greeners.co)

Demi Sponsor Rokok, Efek Rumah Kaca ‘Mengusir’ Penggemarnya Sendiri

KONTERKULTUR–Agaknya ini jadi kisah yang berakhir anti-klimaks. Konser tunggal Efek Rumah Kaca (ERK) di Bandung sepekan lalu dikritik banyak pihak. Padahal konser ini telah dinanti-nanti publik selama 8 tahun, tepatnya semenjak ERK merilis album pertama mereka yang sukses mengacak-acak selera musik anak-anak muda Indonesia, khususnya bagi mereka yang masih punya idealisme tinggi.

Liriknya yang lugas, temanya yang up to date, dan sosoknya yang kritis, sudah cukup buat ERK untuk meneguhkan statusnya sebagai “band ideologis untuk semua kalangan”. Berbeda dengan band-band politis lainya -seperti misalnya band-band Punk yang musiknya terkesan asal-asalan-, ERK membungkus kritik-kritik sosialnya dengan suasana Pop yang kental dan harmonisasi yang aduhai sehingga pendengar tanpa sadar telah didoktrin ERK. Wajar kalau sebutan ‘band segala usia’ disematkan buat ERK karena musiknya pas buat telinga remaja maupun yang tua sekalipun.

Namun ERK melakukan banyak kecerobohan di konser tunggalnya yang sakral. Dari awalnya saja sudah salah. Konser bertajuk “Pasar Bisa Dikonserkan” yang maksudnya untuk mengkritik para musisi yang getol mengeksploitasi dompet para penggemarnya, namun di sisi lain ERK justru menggandeng raksasa kapitalis penguasa pasar, Perusahaan Rokok, untuk membiayai konsernya. Jadi seperti peribahasa, sambil menyelam minum air. Sambil ngritik, sambil ngambil untung juga.

Ironis, tapi mau bagaimana lagi? Membiayai konser sebesar itu tidak seperti membiayai konser 17 Agustus-an tingkat RT. Nah, momen begini yang membuat perusahaan rokok seperti jin lampu wasiat. Dengan dana tidak terbatas, dia akan memenuhi permintaan apapun sebagai wujud terima kasih karena telah diijinkan keluar menemui para konsumen potensialnya.

Imbasnya kena ke Najmicitta, 11thn. fans unyil ERK. Dia harus kecewa, karena di malam ulang tahunnya itu, dia gagal menonton band kesayangannya ini. Padahal dia sudah menanti-nantikan acara ini sejak sebulan sebelumnya. Pihak manajemen ERK mengusir bocah ingusan ini karena konser hanya diperuntukan buat orang-orang berumur 18 tahun ke atas. Hanya gara-gara konser disokong perusahaan rokok, seorang pecinta musik harus didiskriminasi.

Kekecewaan ini diungkap oleh akun twitter @di_larashati. Dia kecewa karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya kalau anak di bawah umur tidak boleh masuk. “Di poster-poster tempat pre-sale ticket dijual, “18+” tidak tercantum”. Dia juga menceritakan kecintaan Citta terhadap ERK. “Konser yg sdh ditunggu Citta sejak sebulan lalu, bahkan ia membuat kaos khusus bertulis ERK u/ hadir di konser tersebut bareng keluarganya.”

Kasus yang menimpa Najmicitta ini bukanlah kali pertama. Bulan lalu Ronal Surapradja (Artis/Komedian) mengajak anaknya untuk menyaksikan Pure Saturday di Kopitiam Tan SCBD, tapi dilarang masuk karena acaranya disponsori perusahaan rokok. Bahkan statusnya sebagai public figure dan kawan dekat personil PS tidak menjadi jaminan birokrasi akan lebih mudah, dia tetap saja ditolak masuk. Akhirnya dia cuma bisa pasrah dan foto-foto bersama mereka di luar kafe itu. Contoh yang lebih ekstrem adalah ketika Homogenic tampil di acara yang disponsori perusahaan rokok, tapi vokalis mereka, Amandia Syachridar, dilarang ikut karena sedang hamil besar dan akhirnya mereka harus memakai dua penyanyi pengganti.

Menanggapi hal tersebut, pihak ERK secara resmi meminta maaf melalui akun mereka di efekrumahkaca.net. ERK yang tadinya bahagia karena konsernya sukses dihadiri banyak orang, harus berduka karena selepas konser tersebut, banjir kritik datang ke band asal Jakarta ini.

“Namun suka cita itu mendadak pupus dalam waktu kurang dari 24 jam, saat mendengar dan membaca komentar di media sosial tentang penyelenggaraan konser yang secara keseluruhan jauh dari baik. Mulai dari tata suara yang tak jelas dikarenakan gedung pertunjukkan yang memang sulit untuk “ditaklukan”, antrian panjang penonton yang sudah memegang tiket namun gagal masuk ke dalam gedung tepat waktu sehingga banyak penonton yang tertinggal bahkan sampai lagu ke lima, hingga masalah batasan umur penonton yang tidak jelas karena konser disponsori oleh perusahaan rokok sehingga mengakibatkan seorang anak tidak bisa menonton konser.”

“Oleh karenanya, kami, Efek Rumah Kaca meminta maaf yang sebesarnya kepada para sahabat dan penonton yang kurang puas atau kecewa dengan penyelenggaraan “Pasar Bisa Dikonserkan”. Semoga kami dapat memperbaikinya pada kesempatan berikutnya.”

Meskipun banyak kritik yang datang, tapi setidaknya ERK juga patut diapresiasi karena jiwa besarnya. Sikap ini seakan-akan ingin berkata kalau “ERK masih seperti yang dulu”. Ya kita doakan saja, ERK masih seidealis yang dulu.*[KK]

Rep: Markonah

Red: Jamilah

13 comments

  1. konterkultur familia mari belajar sama sama

    se idealis idealisnya kalo main diranah ranah sponsorshit mah ya sudah lupakanlah hahahahaha labil labil yang labil yang labil duaribuh lima ribu yang haus yang haus pisang goreng hangat jangcimen.. blablabla
    ”Jadi seperti peribahasa, sambil menyelam minum air. Sambil ngritik, sambil ngambil untung juga.”
    media seperti konterkultur memang masih dibutuhkan kayaknya deh.. long live kk! semangART eaa <3 .

  2. Anak 11 tahun udah dengerin ERK? Anak 11 tahun udah punya twitter? Wow.. anak2 jaman sekarang sudah sedemikian memprihatinkan ya, pantes makin banyak kejadian yang tidak menyenangkan terhadap anak2 di sekitar kita, alangkah baiknya anak jaman sekarang di FILTER-kan dalam memilih suatu tindakan. menurut gw panitia sudah bagus melarang anak2 dibawah umur 18 tahun untuk tidak menghadiri acara tersebut, i think there a lot smokers inside venue dan anak2 belum saatnya mendengarkan ERK karena menurut gw ERK itu hanya utk kalangan remaja keatas, ank2 umur 11 tahun seharusnya belajar, mendengarkan musik dari ibu Kasur, bermain di lapangan, bermain dengan teman sebayanya lot of positive activities to do and i miss those think from kid nowadays. informasi pun bisa di filter dengan peran orang tua atau anak2 remaja tidak dengan twitter ataupun facebook karena banyak kejahatan secara kasat mata yang nantinya akan berimbas ke anak2 kita thats a time bomb! Sorry agak oot

    • @Bumi:

      Gw umur 11 tahun udah dengerin Green Day yg Dookie. Sebelumnya waktu umur 7 tahun gw udah dengerin Scorpion yg Wing of Changes. Dikala anak2 sebaya gw masih gandrung dg Bondan, Agnes Monica, Chikita Meidi, dll, gw malah keranjingan dg Guns N Roses, Bon Jovi, Bryan Adams, Pearl Jam, Metallica. Dan gw dengerin musik2 itu bukan utk pelarian, tapi krn jiwa gw cocok dg musik2 itu. And now almost 20 years later I turn out fine.

      Justru krn dengerin musik2 rock gw jadi pribadi yg tangguh, berani berontak dan berani melawan arus. Dan gw tidak berakhir dg menjadi kriminal.

      Coba cek dulu deh, anak2 yg terlibat kekerasan & kriminal itu apa bener krn musik yg didengernya atau krn ikutan nonton konser rock? Kok kayaknya terlalu mempersempit masalah yah. Krn pasti banyak faktor lainnya.

    • kenapa kalo udah punya twitter? kenapa kalo udah punya smartphone? kenapa kalo udah suka ERK? 11 tahun broer!! bukan 6 atau 7 tahun, gile aja disuruh dengerin lagu bukasur apalagi si sieto dan kak komo. dan jaman sudah berubah bukan lagi jaman analog seperti dulu kala, apa ikut dengan perkembangan jaman disebut hina dan gak idealis?

    • Mz… Saya waktu sd secara ga langsung udh dicekokin slipknot, dan entah kenapa malah suka, gara gara itu jg jadi banyak dengerin band dengan genre sejenis waktu itu, tapi diluar itu saya tetep ngerasain masa kecil yg normal normal aja kok dulu sama temen temen saya, masih maen bareng apalagi pas balik ngaji. Bukan mau mengeneralisir berdasarkan pengalaman pribadi, tapi menurut saya ga adil juga sih membatasi seorang bocah buat dengerin musik yg mereka suka selama itu ga buruk, lagian konten yg ada di musik ERK seburuk apa sih buat anak kecil dibanding slipknot ?

  3. kaya nya agak berlebihan untuk di bilang ngusir demi produsen rokok, menurut gw lebih banyak konser ERK tanpa produsen rokok entah mengapa ini yang di besar2kan. kl ERK mengkeritik para musisi yang getol mengeksploitasi dompet para penggemarnya, gw ga setuju beberapa kali liat wawancara ERK point dari albumnya kl pasar bisa di ciptakan lu tinggal jadi diri lu sendiri dan yakin sama karya lw. ini sih perspektif dr gw, yg menurut gw cukup fair. thx

    • The truth is, lo cuma support temen lo, yaitu ERK yang adalah temen lo, jadi lo akan lakuin apapun demi support temen lo.

      Seniman sebenarnya ga akan pernah jual dirinya ke korporasi.

      Kasian sama orang-orang kaya lo.

      Jual diri ke korporasi.
      Jual diri ke pemerintah.

      HAHAHA

    • Om Robin.. Coba perhatikan kenapa poster Konser Bisa Dipasarkan ada element Batu Akik.

      Untuk KK istilah sambil menyelam minum air ga segamblang itu. Erk sadar kalo mereka juga bagian dari itu.. Balik lagi konsep ide : “musik bagus dan kritis tapi yang tau cmn temen2 di komplek lu”

  4. Makan tuh idealis. Haha !!!

  5. Baguslah kalau dilarang Masuk.

  6. “efek rumah koplak” kali ya?

  7. isolator gramatikal

    rongsokan retorika yang makin kehilangan bait jadi diri dari lawakan penghisap rokok kapitalis yang coba bicara revolusi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.