Home / News / Sound News / Fadli Zon Ternyata Pernah Mengkritik Musik Metal Habis-habisan
Fadli Zon dan potongan artikel yang ia tulis pada tahun 1990 di kolom pembaca Majalah HAI. (Foto by : doc.hai)

Fadli Zon Ternyata Pernah Mengkritik Musik Metal Habis-habisan

KONTERKULTUR–Fadli Zon, Wakil Ketua DPR yang namanya belakangan sering diberitakan di media massa gara-gara ikut-ikutan kampanye Donald Trump di Amrik, ternyata pernah mengkritik para pecinta musik metal (baca: metalhead). Dia mengatakan kalau musik metal dekat dengan hal-hal negatif seperti alkohol, narkoba, dan ajaran anti-agama.

Ceritanya begini. Pada tahun 1990-an, saat Fadli Zon masih SMA, dia adalah pembaca setia majalah HAI dan pernah aktif menulis di kolom pembaca. Saat itu Fadli menyampaikan kritiknya terhadap musik metal melalui artikel yang ditulisnya berjudul “Siapa Hakim, Siapa Terdakwa” di rubrik OK (kolom pembaca) HAI terbitan 20 Nopember 1990.

Pria berusia yang pernah dapat beasiswa pertukaran pelajar Indonesia-Amerika itu mula-mula mengkritik dandanan para metalhead di Amerika.

“…Tak pemah ada penonton konser musik klasik tampil dengan rambut panjang dicat hijau. Muka dipermak seperti badut, kalung bergayutan, kaca mata hitam, gelang, dan tato berserakan. Konser musik heavy metal selalu ingar bingar. Bau alkohol, pakaian seronok, padat kepulan asap rokok…,”katanya dalam kolom majalah anak gaul itu.

Dalam sebuah reportase di situs online majalah Hai yang menanggapi ulang tulisan tahun 1990 itu, Fadli Zon di puji sebagai orang yang tergolong cerdas karena sangat teliti melakukan pengamatan. Sampai-sampai Fadli sempat menelaah dulu apa isi yang terkandung di dalam lagu-lagu metal sebelum menulis opininya.

Kemudian dalam tulisan itu, Fadli mengaitkan kepada apa yang terjadi pada teman-teman di sekolahnya saat itu:

“…Ada kata-kata yang menyuruh orang meninggalkan agama. Ada yang menganjurkan bunuh diri, isap ganja, obral alkohol dan narkotik. Kadang semua itu terselubung di balik kata yang diucapkan terlalu cepat. Pada grup-grup metal lain,memang tak separah Slayer. Tapi grup Guns N’Roses, Poison, Metallica juga tak luput menggunakan kata jorok, semisal F (maaf tak saya buat komplet). Di Amerika, pecandu heavymetal stereotipe-nya adalah terlibat obat penenang narkotik, alkohol, dan seks bebas. Mereka juga anti melaksanakan ajaran agama. Pelajar-pelajar pecandu musik ini terbelakang dalam pelajaran karena ketidakpedulian yang tinggi. Tak sedikit yang tinggal kelas, bahkan sampai bertahun-tahun. Mereka suka sekali memakai kaos hitam bergambar tengkorak. Atau gambar setan yang menjulurkan lidahnya…”

Pada akhir tulisannya, Fadli mengingatkan bahwa remaja harusnya jangan “latahan” dalam menikmati musik metal:

“…Kita memang paling sering latah. Hingga tak tahu mana yang indah dan jelek, mana yang baik dan buruk. Karena latah, kita hanya tahu bentuk. Bahwa yang begini itu ‘modern’, dan yang begitu itu ‘barat’. Kita hanya kenal kehura-huraannya…”

Namun begitulah tulisan Fadli Zon ketika masih penuh dengan idealisme. Dia bisa protes dan kritis terhadap kemerosotan moral.

Ali Sobri, salah seorang redaktur HAI, majalah yang dulu mempublikasikan tulisan kritik terhadap metalhead itu, balik mengkritik Fadli Zon dengan mengatakan “Sekarang jaman sudah berubah, dan orang pun bisa berubah. Sudahkah Pak Fadli Zon dan rombongan tergolong kaum yang “latah”? Yang – seperti yang ditulisnya dulu – tak tahu mana yang indah dan jelek, mana yang baik dan buruk”.

Menurut kami sih sama saja. Nggak remaja, nggak Fadli Zon, nggak majalah HAI, semua sama saja. Semua sama-sama latahnya.*[KK]

Rep: Marko

Red: Jamil

 

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.