Home / Artikel / Opini Hatkor! / Hidup dan Matinya Scene Punk Tergantung Acara Musik?
Exploited pas manggung (http://pageofquarrel.tumblr.com)

Hidup dan Matinya Scene Punk Tergantung Acara Musik?

KONTERKULTUR–Sebenernya ini tulisan iseng sih. Iseng banget. Entah kenapa tiba-tiba jadi  kepikir apa sih sebenernya penyebab suatu scene punk bisa hidup dan berkembang di suatu daerah atau kota atau negara. Soalnya emang jujur aja, dulu tahun 1997-an, scene punk menjamur di kota tempat aku tinggal, nggak bisa dipungkiri karena banyaknya acara musik ketika itu. Festival dimana-mana. Open Air hampir disetiap kampus ada. Lalu acara musik punk secara khusus juga banyak. Jadinya aku ngerasa banget, waktu itu gara-gara ada acara musik yang hampir setiap minggu selalu ada, akhirnya banyak pula penonton yang tertarik datang karena euforia.

Gara-gara acara musik pula, akhirnya dagangan lapak temen-temen jadi laris. Jualan zine ludes, jualan kaset laris, jualan kaos pun demikian. Anak-anak muda jadi rutin nongkrong dan ketemuan sama temen-temen lainnya ya pas di acara-acara musik semacam itu. Jadi beneran ternyata punk waktu itu muncul karena kondisi seperti itu.

Lalu, apakah kemudian hidup-matinya punk harus tergantung dengan acara musik??

Hmmm…. gimana ya jawabnya…

Coba deh, kita inget-inget. Kalau kita kumpul-kumpul bareng temen-temen di scene punk, pas sedang santai dirumah atau di warkop atau dimana aja selain pas acara musik, sambil ngobrolin scene punk yang saat ini sedang lesu, nggak bersemangat, dan nggak lagi diminati seperti tahun 90-an dulu, cobalah ingat-ingat… Pernahkah tercetus kalimat semacam ini:

“Eh, ayo dong bikin gigs…!”

atau, “Hey, kapan ya ada gigs kayak dulu lagi?”

atau, “Oh iya, kapan band si A manggung lagi? Udah lama lho nggak ada event seperti dulu…”

Yah, kalimat-kalimat semacam diatas itu sepertinya biasa diomongin saat ketemu temen-temen satu scene punk yang kondisi perkembangan scene punk dikotanya sedang lesu. Intinya sama, mereka merindukan acara musik!

Jadi, diakui atau tidak, diterima atau tidak, hidup-matinya scene punk tergantung pada acara musik. Terlebih lagi, silakan direnungi bahwa ternyata makna punk dikalangan teman-teman semua masih sebatas musik, ngeband, dan manggung. That’s all. Nggak lebih dari itu.

Udah gini aja tulisan isengku. Thanks.*[]

Oleh: Marno, mantan penjaga sound sistem acara kawinan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*