Home / Artikel / Kenal Tokoh / Ian MacKaye dan Perjuangannya Menjadi Straight Edge

Ian MacKaye dan Perjuangannya Menjadi Straight Edge

KONTERKULTUR–“I’m a person just like you. But I’ve got better things to do. Than sit around and fuck my head. Hang out with the living dead Snort white shit up my nose. Pass out at the shows . I don’t even think about speed. That’s something I just don’t need.  I’ve got the straight edge”

Itulah sepenggal lirik lagu dari Minor Threat berjudul ‘Straight Edge’. Lewat sepenggal lirik lagu itu sepertinya Ian MacKaye tak menyadari bahwa di masa depan pengaruhnya melebihi apa yang ia perkirakan—menjadi legenda bagi Teen Idles, Minor Threat hingga Fugazi.

Sejarah telah membuktikan bahwa jalan hidup pentolan hardcore ini telah menciptakan sebuah genre musik yang baru. Ketika MacKaye datang ke dunia punk rock; seks, narkoba dan rock and roll adalah ‘norma’. Namun, ia memutuskan untuk tidak mengikuti norma tersebut. Di saat itulah sebuah lagu berjudul ‘Straight Edge’ lahir.

Lewat Straight Edge juga MacKaye menginspirasi orang lain untuk menjalani hidup yang terbebas dari narkoba dan alkohol—yang pada perkembangannya melahirkan sub-budaya punk rock yaitu Straight Edge.

Pada tahun 1979, MacKaye mendirikan label rekaman Dischrod Record sebagai pengejawantahan semangat Do-It-Yourself  bersama Ginn dari Black Flag dan Jello Biafra dari Tentacles Alternatif.

MacKaye merekam dan mendistribusikan musik band-nya, serta musik dari band-band lain di kota asalnya, Washington D.C seperti Government Issue, Scream, Marginal Man, dan Jawbox.

Bahkan, ia bersikeras bahwa pertunjukan band-band di bawah label rekamannya harus menetapkan harga tiket pertunjukan dan album yang terjangkau bagi komunitas hardcore.

Sementara MacKaye dipuji karena pendekatan etisnya, beberapa orang mempertanyakan kelayakan ekonominya. Akan tetapi sejarah membuktikan bahwa naluri MacKaye benar, 37 tahun kemudian, Dischord Records masih berkembang dan dianggap sebagai puncak kesuksesan label independen yang memegang teguh prinsip.

Seperti halnya anak muda lain pada zamannya, MacKaye hanyalah seorang anak yang mencari jalan di dunianya sendiri. Ia tidak menyangka bahwa dirinya akan menjadi legenda. Steven Blush pengarang buku American Hardcore mengatakan bahwa MacKaye telah “…menggerakkan sebuah estetika yang menciptakan hampir semua yang kita sebut musik indie,”

Michael Friedman, Ph.D., seorang psikolog klinis yang mengkhususkan diri untuk mengetahui bagaimana hubungan sosial memengaruhi kesehatan mental dan fisik—mewawancarai  MacKaye untuk memahami etos hidup, daya kreatif dan inovatif yang dimilikinya selama ini.

“Masyarakat kita sebagian besar didasarkan pada, ‘Ini adalah bagaimana Anda melakukan itu…Ini adalah bagaimana sesuatu dilakukan. Sekarang Anda di sini, Anda harus melakukan ini dan itu,” kata MacKaye saat menjelaskan kenapa seseorang harus mempunyai sudut pandang yang berbeda mengenai suatu hal.

“Saya telah menemukan bahwa pada umumnya orang-orang di dunia itu bukan karena mereka bukan orang baik atau mereka tidak mampu mengajukan pertanyaan…Mereka hanya tidak tahu bahwa ada pertanyaan untuk ditanyakan,” ujar MacKaye.

Selain itu, MacKaye juga menyarankan untuk tidak menunggu orang lain melakukan sesuatu untuk hidup Anda. Dengan melakukan berbagai hal sendiri, kata MacKaye, Anda lebih mungkin untuk mencapai tujuan dan tetap lebih terlibat dalam setiap langkah hidup Anda.

“Saya memiliki filosofi tentang kehidupan secara umum yaitu, ‘That’s the weather, dress accordingly’  (Bagaimanapun cuacanya, berpakaianlah dengan sesuai) … Ada banyak hal yang tidak benar dan tidak adil dan tidak baik dan saya mendapatkannya,” kata MacKaye.

“Jadi cari tahu bagaimana Anda akan menghadapinya. Itu mungkin memainkan peran dalam pemikiran saya yang konstan tentang berbagai hal. Saya berada dalam situasi di luar kendali. Jadi satu-satunya hal yang dapat saya kendalikan adalah bagaimana menavigasi situasi tersebut,” imbuhnya

Karena itu, MacKaye tidak mendefinisikan kesuksesan dalam bentuk uang, tetapi lebih pada tingkat koneksi kehidupan seseorang. “Saya hanya tidak memberi uang pada uang—tidak  seperti yang dilakukan orang lain. Saya tidak berorientasi pada tujuan. Dan saya tidak berorientasi pada kesuksesan—seperti yang didefinisikan orang lain. Itu tergantung pada bagaimana Anda mendefinisikan kesuksesan,” jelasnya.

“Ada band-band yang hampir tidak semenarik atau berbakat atau kreatif daripada beberapa band yang pernah saya tangani, tetapi mereka telah jauh lebih populer dan menghasilkan lebih banyak uang secara eksponensial,”

“Dan itu sukses untuk mereka. Bagi saya itu tidak. Saya merasa hubungan mendalam dengan kehidupan itu sangat penting.” ungkap MacKaye.

Selain hubungan yang mendalam dengan kehidupan, MacKaye menolak gagasan ‘persaingan’ dengan orang lain. “Saya sedang mencari sebuah kontra budaya, sebuah gerakan bawah tanah—sesuatu yang akan mempertanyakan pemikiran konvensional dalam masyarakat,” jelas MacKaye.

“Saya selalu melihat orang sebagai sesama pelancong. Saya tidak menganggap orang sebagai pesaing. Salah satu cara untuk menjadi bintang adalah menjadi bagian dari konstelasi … Anda dengan bintang lain yang Anda rasa terhubung,” katanya.

“Dan itulah mengapa kami mencari koneksi ini,”

Melatih Diri

Menempa jalan hidup sesuai dengan pilihannya, membuat MacKaye dalam beberapa fase kehidupannya menolak ‘sogokan’. Tidak hanya berhenti  disitu, masalah yang juga tidak kalah pelik dihadapi adalah soal pendidikan.

“Saya tidak menentang belajar lebih banyak. Saya tidak menentang kuliah. Tetapi saya pasti menentang gagasan ‘Anda harus kuliah’. Rasanya seperti lereng yang licin. Dan (anjuran) itu sepertinya gila menurutku ketika saya masih sekolah menengah. Mengapa Anda akan kuliah setelah dua belas tahun menghabiskan semua waktu Anda dalam pengaturan kelembagaan?,”

Alasan MacKaye menolak masuk universitas didasari atas masalah keuangan yang cukup berat, di mana hal ini pada akhirnya akan membatasi kebebasan dan fleksibilitasnya.

“Saya lulus (SMA) pada tahun 1980 dan keluarga saya tidak mampu membayar kuliah dengan cara apa pun. (Ketika) saya tidak punya uang pasti saya akan mengambil pinjaman. (Setelah itu) Anda harus langsung bekerja untuk mulai membayarnya. Dan itu bagi saya terasa seperti perbudakan yang diwajibkan. Ini adalah cara menyedihkan untuk bekerja,” ungkapnya.

Berlabuh di jalur Punk

Sementara itu di komunitas punk rock, MacKaye menemukan sudut pandang alternatif dan pendekatannya terhadap musik. Di dunia punk inilah, orisinalitas dan intensitas sebuah sikap dihargai.

Meski pada saat itu banyak band-band yang bermain dengan mengcover sejumlah lagu terkenal, MacKaye lebih fokus pada sebuah konsep orisinalitas terlepas dari apakah ia dianggap terampil memainkan instrumen.

“Tidak ada yang menulis lagu sendiri. Itu sangat jarang atau mereka menulis satu atau dua lagu blues, jika tidak, mereka melakukan versi mereka atas 40 hits terkenal. Tapi kami (komunitas punk) hanya menulis lagu kami sendiri. Itu bukan sesuatu yang umum. Tapi itu masuk akal bagi kami,” kata MacKaye.

“Hal pertama yang Anda dengar jika Anda ingin berada di sebuah band adalah Anda harus belajar memainkan instrumen—dalam struktur pelajaran formal atau apa pun. Dan saya menolak itu. Saya pikir itu konyol … Punk memberi saya izin penuh untuk melakukan apa pun yang ingin saya lakukan,”

Meski punk memberi kesempatan MacKaye melakukan apapun, ia mengakui bahwa pada perkembangannya musik juga memberi dampak buruk. Penggunaan obat-obatan dan alkohol telah merajalela di kancah musik rock pada umumnya, dan punk rock tidak terkecuali. Jimi Hendrix dan Janis Joplin meninggal karena kelebihan dosis obat-obatan, seperti halnya punk rocker Sid Vicious dan Johnny Thunders.

Di saat seperti inilah, MacKaye justru membayangkan untuk ‘membangun benteng’ sementara beberapa kawannya justru memiliki keinginan ‘mari kita mabuk’.

Bagi MacKaye, penolakan alkohol bukanlah masalah sederhana pemberontakan di kalangan remaja. Salah satu alasan utama orang menikmati minum alkohol atau menggunakan narkoba adalah bahwa mereka dapat melarikan diri sementara dari realitas mereka saat ini. Karena itulah MacKaye tidak mau menggunakannya.

Meski mengidolakan Jimi Hendrix sejak kecil, ia sadar bahwa penggunaan obat-obatan atau alkohol sang idolanya adalah sesuatu yang tidak harus diikuti. Semua zat itu menurut MacKaye bisa menurunkan daya ingat hingga tingkat kewarasan seseorang.

“Saya ingin mengingat selamanya Bad Brains. Saya ingin mengingat selamanya Black Flag,” katanya.

“Tapi saya juga tumbuh pada saat banyak kerusakan terjadi. Maksud saya Janis Joplin dan Jimi Hendrix adalah orang-orang yang sangat saya cintai … jelas zat-zat itu tidak baik untuk mereka,” imbuhnya.

Menempa jalan hidupnya sendiri (dari pengaruh zat kimia, pendekatan etisnya dan memiliki label rekaman sendiri) bukanlah sesuatu yang mudah bagi MacKaye. Namun, ia tidak menyesal dengan pilihannya. Waktu berbicara, pendekatan kreatifnya, etika pribadi dan profesionalnya telah membuktikan kepada dunia bahwa orang-orang bisa sukses dengan bersikap jujur ​​terhadap visi mereka.

“Tidak banyak orang seperti saya di luar sana,” kata MacKaye. Bagi MacKaye, yang pasti berubah adalah waktu. Akan tetapi semangat dan inovasi yang diyakini tidak boleh ikut berubah. *[]

Oleh: Gerardus Septian Kalis

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.