Home / News / Sound News / Inilah Band Punk Pertama Di Dunia yang Mengaku Homo

Inilah Band Punk Pertama Di Dunia yang Mengaku Homo

 

KONTERKULTUR–Jangan dikira scene punk tidak menjadi sasaran kampanye gaya hidup homoseksual. Kehadiran band-band yang mengusung kesetaraan gender maupun yang membela hak-hak gay dan lesbian semakin bermunculan dari tahun ke tahun.

Pada awalnya, di tahun 90-an, Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) belum dikenal seperti sekarang ini. Di masa itu, belum ada seorang penyanyi atau pemusik yang terang-terangan mengaku gay. Apalagi di jagad dunia rock. Pergaulannya bebas, tapi bukan hubungan sejenis. Para artis, meski suka gonta-ganti pasangan, tapi tetap dalam koridor “mur ketemu baut”.

Lalu awal 90-an muncul lah band bernama Pansy Division. Jon Ginoli sebagai frontman mengatakan, band ini didirikan untuk mendobrak sekat-sekat yang selama ini mendiskriminasi kaum homo di scene musik. Dia menyadari, kaum gay seperti dirinya tidak akan diterima di kalangan sesama musisi. Apalagi di scene Rock. Suasana homophobia-nya masih terasa.

Karena kegusaran itu, Ginoli akhirnya memasang iklan di San Fransisco Weekly. “Dicari: Musisi Gay yang Mau Ngeband Bareng Ala Ramones”. Tak disangka, Chris Freeman merespon iklan itu. Freeman pun langsung menempati posisi basis. Sebelumnya, Ginoli memang bermain solo di bawah bendera Pansy Division. Dengan hadirnya Freeman, Ginoli jadi bersemangat.

Kemudian dia menemukan Jay Puget sebagai drummer. Pansy Division telah lengkap saat itu. Mereka dinobatkan sebagai band rock pertama yang terang-terangan mengaku gay setelah mereka menandatangani kontrak dengan Lookout! Record untuk sebuah album berjudul ‘Undressed’ di tahun 1993.

Semua lirik lagu di album itu ditulis oleh Ginoli. Semuanya bercerita tentang kehidupan seorang gay. Bahkan di album itu juga disertai sebuah buku panduan bagaimana memakai kondom yang baik dan benar. Mereka mengeksplor habis-habisan seputar kelainan seksualnya itu.

Apa yang diharapkan Ginoli dari band ini tercapai juga. Akhirnya bermunculan beberapa pecinta musik yang juga seorang gay. Mereka menuliskan surat langsung ke Ginola. Seorang anak di sebuah kota kecil bahkan menceritakan, dia harus menyembunyikan album Pansy Division. “Band kalian membuat saya bersemangat dalam hidup,” katanya begitu. Atas inspirasi itu, Pansy merilis album kedua berjudul “Deep Water” di tahun 1994. Isi lagunya seputar betapa terkucilnya hidup sebagai seorang gay.

Demi menaikkan pengaruhnya, Pansy bahkan mau mengekor Green Day yang turut juga dalam naungan Lookout! Record. Pada era 95-an, Green Day sedang nge-hits. Seiring dengan naiknya Green Day, Pansy ikut sebagai band pembuka dalam konser-konser Green Day. Sejak saat itu, mereka mulai disorot media mainstream. MTV bahkan menyebutnya sebagai “idola queercore masa kini”.

Bukan hanya itu, berkat menumpang nama Green Day, album kompilasinya berjudul “Pile Up” pun ikut melesat jauh. Mereka tetap berada dalam jalur mainstream, bahkan di album terakhirnya di tahun 2009 yang vulgar berjudul “That’s So Gay”. Di saat bersamaan mereka merilis dokumenter perjalanan mereka berjudul Pansy Division: Life in A Gay Rocky Band. Bahkan Ginoli juga menerbitkan otobiografi seperti layaknya orang besar nan berjasa.

Pansy Division bukan hanya sukses secara komersial, tapi juga secara ideologi. Mereka berhasil mengatasi sekat-sekat tabu, kemudian menyebarkan pemahaman “seks sejenis”-nya kepada para fans, hingga akhirnya mereka menjadi promotor bagi budaya homoseksual. Giloni sendiri mengaku telah hampir mencapai ‘cita-citanya’. “Kini, Gay bukan lagi makhluk asing. Mereka hadir di tengah-tengah masyarakat. Hidup bersama tanpa canggung,” kenangnya.

So, setelah membaca ini, ada yang berniat bikin band punk bencong?*[KK]

Rep: Markonah

Red: Jamilah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.