Home / Artikel / Celoteh Agen KK / Jadi Punk Nggak Harus Jadi Feminis
(foto: whatson.bfi.org.uk)

Jadi Punk Nggak Harus Jadi Feminis

KONTERKULTUR–Juminten, sebut saja begitu, tiba-tiba minta putus sama pacarnya. Padahal dia udah pacaran 5 tahun lamanya. Selama ini Juminten juga seringkali minta traktir dan minta dibayarin sama cowoknya pas kalo malem mingguan di mall.

Tapi entah kenapa, Juminten seperti mulai kerasukan paham kesetaraan gender yang dia baca dari zine punk yang dikasih ama temen kuliahnya.

Gara-garanya, Juminten ama cowoknya pas ngobrolin soal masa depan. Mereka berencana menikah, dan cowoknya pengen Juminten tinggal dirumah untuk jadi ibu rumah tangga dan mengasuh anak-anaknya kelak. Sedangkan cowoknya berencana yang bekerja kantoran.

Tapi ternyata Juminten nggak mau. Soalnya menurut zine punk yang dia baca, mengurus rumah tangga itu sama saja seperti budak, yang jelas merendahkan wanita. Peran keibuan dianggap perbudakan. Sedangkan suami yang bisa bebas kerja diluar rumah dianggap sebagai dominasi dan kebebasan laki-laki. Sebaliknya, Juminten merasa dirinya nanti bakal ditindas, dikurung, didalam rumah tanpa bisa bebas.

Gara-gara itu Juminten putus ama cowoknya. Tragis emang. Padahal dia sendiri tahu, ibu kandungnya sendiri adalah ibu rumah tangga, yang karenanya dia bisa mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya secara optimal kepadanya sejak kecil.

Tapi tahun-tahun berlalu, ternyata Juminten mulai sadar. Setelah Juminten mengalami sendiri bagaimana hidup didunia yang dia idam-idamkan, bebas dari kerjaan rumah tangga, dan kerja kantoran, dia merasa karirnya nggak terlalu bagus. Masalah yang dihadapi ternyata sangat banyak. Dia jadi jarang punya waktu untuk mengunjungi orang tuanya. Apalagi sekedar jalan-jalan bareng temen-temennya.

Akhirnya Juminten sadar, kalau ternyata kesetaraan alias equality yang diajarkan zine punk pas dia baca saat kuliah itu nggak relevan.

Mimpi Juminten itu tuntutan jaman posmoderen yang sarat kepentingan sesaat dan selalu berubah-ubah. Dia pikir “persamaan adalah keadilan”. Menyetarakan atau menyamakan kerja adalah keadilan. Sedangkan membeda-bedakan adalah kejahatan.

Padahal penyetaraan adalah utopia fatamorganis, karena bisanya hanya menjanjikan, tapi nggak pernah ada jaminan. Motifnya membela, padahal dibaliknya ada keinginan untuk menguasai.

Fakta sosial bisa menunjukkan bahwa ketidak-setaraan antara sesama laki-laki atau sesama perempuan sekalipun masih bisa diterima. Apalagi antara laki-laki dan perempuan. Belum lagi fakta biologis yang menjelaskan struktur tubuh laki-laki dan perempuan jelas beda. Dan itu membawa dampak pada perbedaan psikologis.

Makanya seorang dokter bernama Dr. Ratna Megawangi menulis buku yang diberi judul dengan amat cerdas, “Membiarkan Berbeda”.

Equality memang bukan isu universal, tapi tiba-tiba jadi universal gara-gara westernisasi, modernisasi dan globalisasi. Ini semua agenda orang-orang Barat yang memaksakan pemikirannya kepada kita melalui subkultur punk. Padahal kita tahu sendiri, bahwa punk membenci globalisasi dan modernisasi. Ini jelas kontradiktif.

Tapi ya memang begitulah pemikiran posmoderen. Satu sama lain saling kontradiktif. Hanya punk bego yang memakannya mentah-mentah. Jadi punk memang harus berbuat adil, tapi nggak harus jadi feminis.*[KK]

One comment

  1. Tulisan bodoh, dan artikel pembodohan. Nggak paham feminisme kok bicara feminis cuma dari bungkusan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.