Home / Artikel / Opini Hatkor! / Kebodohan Logika Para Atheis

Kebodohan Logika Para Atheis

KONTERKULTUR–Atheisme merupakan paham yang populer di Barat yang diadopsi tidak sedikit orang di negeri  ini. Meski setiap orang memiliki penyebab yang berbeda hingga mereka memilih jalan untuk menjadi atheis, tapi secara garis besar mereka berawal dari dua penyebab: faktor traumatik dan faktor kekeliruan logika.

Faktor traumatik bisa ditemui pada kehidupan mereka di masa lampau yang dinilai tragis, menyedihkan dan terpuruk, membuat mereka cepat menyimpulkan bahwa Tuhan tidak adil dalam kehidupan manusia. Akhirnya yang muncul adalah kebencian terhadap Tuhan. Lalu berkembang pada ketidakpercayaan akan adanya peran Tuhan dalam kehidupannya.

Dua tahun yang lalu, saya pernah ‘ditarik’ masuk kedalam sebuah grup facebook yang berisi orang-orang atheis. Agaknya waktu itu seorang teman facebook saya menginginkan saya berdebat dengan orang-orang atheis itu demi membela agama. Tadinya saya tertarik, tapi setelah mengamati alasan-alasan mereka ber-atheis ria rata-rata karena faktor traumatik. Meski mereka sering memaki-maki Tuhan dalam berbagai comment dan status mereka di dalam grup itu, justru itu membuat saya mereka kasihan. Kemudian saya memilih leave group, karena menasehati mereka melalui media sosial semacam itu juga tidak akan memberikan progres keimanan apapun.

Faktor traumatik, bisa juga berawal dari lemahnya iman seseorang sehingga melihat Tuhan hanya sebagai pihak yang membatasi, mengungkung, memenjarakan dirinya dengan beragam aturan-aturan dalam kitab sucinya. Tidak heran jika di Barat yang trauma terhadap agama Kristen mereka cenderung memilih untuk menjadi atheis. Mungkin disebabkan oleh tradisi beragama Kristen yang hanya berisi doktrin-doktrin teologis, namun tidak didukung dengan keshahihan dalil yang dapat menjelaskan alasannya. Alasan semacam ini juga yang dialami oleh Karl Marx semasa hidupnya. Ketika dia melihat ketidak-adilan sosial di masyarakat, hatinya protes karena ternyata agama (baca: Kristen) tidak mampu memberi solusi apapun.

Selain faktor traumatik, faktor kekeliruan logika juga dapat menggiring seseorang menjadi atheis. Membuat pertanyaan-pertanyaan aneh dan bodoh seperti “Jika Tuhan itu bisa segalanya, maka bisakah Dia menciptakan sesuatu yang lebih besar dari dirinya hingga Dia sendiri tidak mampu mengangkat?”. Atau logika bodoh seperti “Jika Tuhan-lah yang mematikan dan menghidupkan saya, maka kalau dalam 15 detik ini saya ingin mati dan ternyata tidak mati juga, berarti Tuhan memang tidak ada.”

Logika-logika macam itu sebenarnya logika yang lucu. Bagaimana mungkin Tuhan diperintah-perintah seenaknya oleh manusia untuk mematikan dan menghidupkan seseorang? Kalau Tuhan bisa disuruh-suruh seperti itu maka namanya bukanlah Tuhan. Karena jelas Tuhan punya jadwal sendiri untuk mencabut nyawa siapapun menurut kehendakNya. Bukan karena suruhan kita. Bahkan seseorang yang ingin bunuh diri sekalipun, kalau Tuhan nggak mengijinkan, ya nggak bakal bisa.

Sebenernya kalau otak kita bisa berpikir logis, dan mengakui bahwa kapasitas otak dan akal kita nggak mungkin menyamai apa yang menjadi pengetahuan Tuhan, maka nggak akan muncul pertanyaan super-dungu seperti logika “batu besar” seperti diatas. Akalnya atheis mah cuma sebatas akal yang udah keracunan paham materialisme yang segala sesuatunya cuma mampu diukur secara fisik (materi) aja. Dia pikir Tuhan itu bisa diukur dengan akal manusia. Dia pikir ketika dia membayangkan Tuhan itu seperti membayangkan raksasa yang kekar, besar, dan berotot. Makanya sampai nemu pertanyaan super dungu macam itu.

Saya sendiri lebih memilih tersenyum saja daripada meladeni orang-orang atheis yang bertanya semacam itu. Karena pertanyaan-pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sudah salah sejak awal. Jika pertanyaannya saja sudah salah, apalagi nanti menjawabnya? Jika kita menanggapi atheis semacam itu, berarti sama halnya kita menanggapi orang gila secara serius.*[]

Oleh: Aik

Penulis Buku ‘Melawan Arus’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.