Home / Artikel / Celoteh Agen KK / Kere Secara Profesional

Kere Secara Profesional

prof

KONTERKULTUR–Dunia makin kompetitif. Apalagi telah menunggu di depan jendela, Pasar Bebas. Bagi yang masih ingin duduk-duduk sambil memandangi burung perkutut buang air besar, sebaiknya periksakan diri ke psikiater. Sebab, orang waras butuh makan. Dan makan perlu uang. Masa akan datang, mencari uang sama sulitnya seperti mencari orang baik.

“Untuk itu, kita harus profesional dalam segala hal!” kata seorang pengamat bisnis. “Kalau anda sekalian ingin bermalas-malasan seperti kucing persia, sebaiknya anda cari lowongan kerja sebagai budak piaraan,” lanjutnya.

Itulah susahnya. Profesional punya lembaga tafsir sendiri-sendiri. Ada yang bilang, profesional berarti kerja sungguh-sungguh. Sejauh apa? Ya sejauh kemauan majikan. Kalau majikan belum pencet tombol shut-down, ya mau tidak mau, demi profesionalitas, roda gerigi tangan dan kaki harus terus bergerak. Biar senyum majikan terus mengembang seperti perutnya.

Profesional macam gini, tidak pernah ribut soal deadline. Karena baginya seperti santapan sehari-hari. Hidup baginya indah kalau selalu pulang-pergi kerja saat hari buta. Kalau tidak ada deadline, demi profesionalitas, maka dia akan men-deadline dirinya sendiri untuk hal-hal yang dianggapnya penting. Seakan-akan bila dia tidak mengerjakannya, maka besok akan pecah perang dunia ketiga.

Ada pula yang bilang, profesional itu ahli. Dia paham seluk beluk detail. Sehingga, Pak Pos yang profesional, haruslah hafal seluruh nama jalan, termasuk letak-letak selokan di gang-gang sempit. Kalau Pak Satpam yang ahli, dia harus mampu mengendus setiap kemungkinan maling memasuki wilayah kekuasannya. Telinganya buat melacak suara ‘klontang’. Matanya untuk meraba semak-semak. Dan, hidungnya untuk menganalisa maling macam apa yang kentutnya bau ubi dan keringatnya bau oli.

Keahlian itu tentu saja bukan bawaan lahir. Karena tiap bayi yang baru lahir, tak terbersit pun keinginan untuk bercita-cita menjadi Pak Pos ataupun Pak Satpam. Lebih tepatnya karena kondisi dan lebih ringkasnya karena terpaksa. Siapapun bakal jadi ahli. Meskipun kerjanya cuma makan, tidur, nonton tivi, ketawa-ketiwi, asalkan dilakukan berulang-ulang dan sungguh-sungguh. Nah, dia bisa dianggap profesional dalam menikmati hidup.

Jadi betapa sulitnya menjadi profesional itu, hingga saya sendiri putus asa. Bila saya menganggap diri sebagai seorang yang sungguh-sungguh, Majikan saya pasti ketawa. Padahal saya sudah berusaha bersungguh-sungguh dan berkomitmen dalam pekerjaan.

Misalnya, meskipun saya sering datang terlambat ke kantor, tapi saya membayar kesalahan itu dengan pulang lebih cepat. Coba bayangkan, kalau hari itu saya datang terlambat dan pulang juga terlambat, berarti saya melakukan dua kesalahan. Majikan saya memang tidak pernah mau melihat pengorbanan saya selama ini. Huh!

Majikan saya pernah bilang, “Tenang saja, lembur tidak akan membunuhmu,”. Sebagai seorang yang beragama, yang mengerti betapa berharganya sebuah nyawa, saya tidak akan mau bunuh diri. Makannya, saya jarang lembur. Biar tidak dikira mau melakukan percobaan bunuh diri.

Baiklah. Kalau dibilang ahli. Ah, tentu saja saya ahli. Saya melakukan pekerjaan itu berulang-ulang. Bahkan untuk hal-hal yang tidak penting. Contoh paling cocok adalah revisi. Mengapa suatu pekerjaan tidak pernah sekali jadi. “Kalau sekali jadi, mungkin kamu tidak akan lahir ke bumi. Apa kamu lupa? Kamu adalah hasil dari berkali-kali revisi!” begitu kata majikan saya. Aha!

Agak mengecewakan tentunya. Saya harus menggali lagi, mengapa manusia dibedakan menjadi profesional dan amatiran. Padahal semuanya selalu dinamis. Profesional di satu sisi, bisa jadi sangat amatiran di sisi lain. Sudah ada pos-posnya.

Jikalau profesional berarti tindakan berulang, maka pengamen jalanan lebih profesional daripada The Beatles sekalipun. Sebab mereka ‘manggung’ tanpa jeda. Dari satu bis, terbang ke bis lain. Dari pagi sampai petang. Bahkan dilakukan puluhan tahun lamanya.

Jikalau begitu, Pak Sumringah, seorang tanpa pekerjaan tetap, yang hidup di rumah kardus dan selalu berpindah seperti bekicot, bisa kita katakan profesional. Boleh jadi, profesional dalam menjalani hidup. Jika Mister Sumringah ini melakukan dengan sumringah pula, tentu, makin tinggilah pula derajat profesionalitasnya, terutama dalam hal mensyukuri hidup.

Betapa banyak yang senasib dengan Pak Sumringah. Sehingga, menurut para ahli, kaum profesional kita akan meningkat di era pasar bebas nanti. Mereka lah para ahli kemiskinan. Menghayatinya dengan sungguh-sungguh. Menelitinya jauh ke dalam. Hingga suatu waktu nanti kita akan mengenal istilah ‘kere secara profesional’ sebagai suatu lowongan pekerjaan istimewa buat bangsa ini.

Nah, bila anda masih bingung dengan pengertian ‘profesional’, silahkan tanya Pak Jokowi. Beliau paham betul soal beginian. Bahkan mencari jarum ‘profesional’ di dalam tumpukan jerami ‘parpol’ pun bisa dilakukannya. Mohon bimbingannya ya Pak!*[]

Bang Bokir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.