Home / Artikel / Opini Hatkor! / Ketika Musisi Cadas Menjadi Bintang Iklan Merek Baju Terkenal

Ketika Musisi Cadas Menjadi Bintang Iklan Merek Baju Terkenal

KONTERKULTUR–Dulu, rasanya sulit membayangkan musisi-musisi band ‘musik ekstrim’ masuk dalam dunia trend fashion. Rasanya hampir tidak mungkin ada korelasi antara budaya tandingan (counter culture) berjalan beriringan dengan budaya pop (popular culture). Namun kini kita dikejutkan dengan tampilnya musisi-musisi yang selama ini memiliki citra “anti-mainstream” justru muncul di iklan-iklan perusahaan fashion kelas dunia.

Merk baju Harper’s Bazaar kini punya produk kaos metal. Musisi industrial Marilyn Manson kini menjadi model untuk merk pakaian Marc Jacobs dan Saint Laurent, Metallica menjadi model untuk perusahaan baju asal Italia. Gucci juga pernah mengambil simbol-simbol band AC/DC untuk produk-produknya yang mahal. Iggy Pop, bapak para punk di Amrik juga pernah jadi bintang iklan merek parfum Paco Rabanne. Sedangkan baru-baru ini, pentolan band hardcore punk legendaris BLACK FLAG, Henry Rollins jadi bintang iklan untuk merk baju kelas atas Calvin Klein, setelah dulu pernah nongol di iklan GAP.

Agaknya kini budaya perlawanan sudah melebur dengan budaya populer. Semakin sulit kita membedakan antara do it yourself (DIY) dengan sell out. Mengapa demikian?

Jawabnya: Karena budaya perlawanan di jaman sekarang punya nilai jual!

marilyn manson

Dulu, budaya pop yang mainstream merasa menjadi sasaran dari serangan budaya tandingan (counter culture). Kini sepertinya para kapitalis yang bermain dibalik budaya pop jauh lebih pandai daripada kita-kita yang berada di pihak budaya tandingan. Ketika budaya tandingan yang memiliki ikon perlawanan mulai diminati di masyarakat. Lama-kelamaan para kapitalis ini membaca kondisi dimana budaya tandingan tersebut bisa menjadi trend di kalangan anak muda yang memiliki ciri khas yang spesifik. Mereka bisa membaca peluang pasar dari kondisi tersebut. Hingga akhirnya, mereka mengadopsi simbol-simbol, ikon-ikon khas budaya tandingan untuk dijadikan produk-produk kelas atas.

iggy pop

Fenomena ini kemudian menjadi bahan pembicaraan yang hangat di kalangan scenester hardcore punk di seluruh dunia. Seperti apa yang dilakukan oleh Henry Rollins beberapa bulan lalu menjadi bahan bullying yang cukup keras di sosial media. Meski demikian, John Joseph ‘CROMAGS’ tetap saja membela mati-matian teman lamanya itu dengan mengatakan dirinya sudah kenal Rollins puluhan tahun lamanya, dan dia tahu sendiri Rollins jauh lebih banyak paham dan lebih banyak berbuat tentang hardcore punk dari pada para penghujatnya.

Well, begitulah jika sudah tersudut, akhirnya menggunakan senioritas sebagai argumentasi terakhir.

Meskipun demikian kita tidak bisa menutup mata. Musisi underground di Indonesia pun juga tidak sedikit yang sell out. Band punk banyak, tapi yang otaknya jualan juga banyak. Beda tipis dengan kapitalisme yang dulu pernah mereka lawan.*[]

Oleh: Samboje

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*