Home / Artikel / Kamu Harus Tahu! / Ketika Paham Homoseksual Masuk Scene Punk Hardcore
Hardcore punk Homo: Kover album LIMP WRIST yang menjijikkan

Ketika Paham Homoseksual Masuk Scene Punk Hardcore

KONTERKULTUR–Apa yang kamu bayangkan ketika kamu memikirkan tentang Punk? Telinga di-piercing? Rambut di-mohawk? Perilaku anti-sosial? Musik yang berantakan? Apa pun yang kamu kaitkan dengan genre musik. Namun ada sesuatu yang mungkin tidak kepikiran dalam benak kamu adalah ternyata ada hubungan antara Punk dengan perilaku seks menyimpang alias LGBT (Lesbian, Gay , Biseksual, Transgender).

Di London, setahun atau lebih, sebelum munculnya band punk The Sex Pistols, Punk adalah subkultur yang dipinjam dari budaya pemborosan busana yang merepresentasikan identitas anak-anak muda laki-laki dan perempuan. Mereka, para punk, terkadang terlihat menyeberang ke klub-klub gay. Yang mana klub gay itu juga sering dipakai sebagai lokasi utama untuk musik ‘black dance’, soul, dan disko, yang sangat dipengaruhi oleh kultur pertengahan tahun 70an dari David Bowie dan Roxy Music.

Pertemuan subkultur kaum muda yang diwakili oleh klub-klub ini, yang mengadopsi soul, disco, LGBT dan ‘rocker’ atau ‘greasers’, adalah untuk menangkap imajinasi Malcolm McLaren dan Vivienne Westwood, menempatkan mereka pada kondisi dimana mereka jadi menyukai gaya berpakaian yang tidak lazim. Unsur-unsur pengaruh homo-erotic ini, dipadukan dengan gaya anarkis Westwood dan McLaren, akhirnya terwujud dalam penampilan The Sex Pistols, sebuah band yang menjadi pelopori Punk di Inggris.

Melacak efek-efek ini ke dalam post-punk ‘New Romantic’ dan ‘Indie’, kita akan menemukan isu LGBT dan masalah identitas seksual didalam lirik-lirik lagu mereka. Era tahun 1980-an kita bisa menemukan sosok Morrissey sebagai contoh.

Seorang doktor, peneliti tentang hubungan Punk dan Homo, Dr Wilkinson menyimpulkan,

“Tidak ada keraguan bahwa Punk bisa mengubah dinamika seksualitas dan gender dalam musik rock dan pop.” ujarnya.

Hari ini kita bisa menemukan banyak band-band punk di Amerika yang mengusung ide-ide LGBT. Seperti PANSY DIVISION, misalnya. Di masa itu, tahun 1990an, belum ada seorang penyanyi atau pemusik yang terang-terangan mengaku gay. Apalagi di jagad dunia rock. Pergaulannya bebas, tapi bukan hubungan sejenis. Para artis, meski suka gonta-ganti pasangan, tapi tetap dalam koridor “mur ketemu baut”.

Belum lagi band hardcore punk homo yang sangat ekstrim dalam menunjukkan penyimpangan seksualnya, LIMP WRIST. Dalam artwork album mereka selalu menunjukkan secara vulgar bagaimana sesama homo melakukan oral seks secara blak-blakan. Lirik dan judul lagu mereka juga hanya seputar hubungan seks sesama jenis dan tuntutan kebebasan bagi kaum LGBT.

Jauh sebelumnya, pada awal 80-an, beberapa band hardcore AS menulis lagu-lagu bertema penyimpangan seks, diantaranya Gary Floyd dari THE DICKS bersama Randy Turner dari BIG BOYS yang terang-terangan mulai bikin lirik-lirik lagu tentang homoseksual. Di Inggris, dalam adegan anarko-punk, Andy Martin dari THE APOSTLES juga sama berterus terang. Sedangkan band-band AS yang bermotif politik seperti MDC dan 7 SECONDS juga termasuk yang membela homoseksual karena memasukkan pesan anti-homophobia ke dalam lagu mereka.

Saat ini, mereka mendeklarasikan genre mereka sebagai QUEERCORE, atau dengan kata lain aliran Hardcore Homo. Jaringan mereka juga sangat kuat. Mereka juga aktif dalam kolektif-kolektif bawah tanah yang aktivitasnya menulis dan mendistribusikan zine-zine yang bermuatan LGBT di scene punk.

Maka dari itu, mulai saat ini berhati-hatilah. Karena bisa jadi penismu dicolek temanmu dan saat itu kamu baru tahu kalo dia seorang penganut Queercore.*[]

Rep: Markonah

Red: Jamilah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*