Home / Artikel / Celoteh Agen KK / Kita Tak Sedang Menjadi Utopis!

Kita Tak Sedang Menjadi Utopis!

KONTERKULTUR—Utopis adalah impian-impian ideal yang tak mungkin dapat tercapai. Kata utopis banyak diasosiasikan dengan sosialisme-nya Karl Marx. Utopia sendiri berasal dari kisah pulau Utopia karangan Thomas Moore, seorang negarawan Inggris. Pertanyaan besar dalam benak kita adalah apakah prinsip yang kita pegang kuat selama ini akan menjadi nyata di kemudian hari?

Siapa yang tak kenal Sekulerisme, Kapitalisme, Komunisme, Sosialisme, Pluralisme, Feminisme, Liberalisme, Hedonisme dan isme-isme yang lain? Mereka ada di sekeliling kita sekarang. Lantas, prinsip siapakah yang akan memenangi peperangan ideologi di kancah dunia modern saat ini?

Menarik jika kita simak buku Dr. Kuntowijoyo yang berjudul Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi. Pada bagian kedua buku itu dibahas pertanyaan-pertanyaan di atas. Kalau membicarakan agama dalam kontrol sosial tentu akan layak disandingkan dengan paham sekulerisme. Lima abad lampau, Niccolo Machiavelli berjasa besar merumuskan sekulerisme. Dalam buku Il Principe yang masyhur itu, ia menegaskan bahwa untuk menjadi pemimpin besar sebuah negara, ia harus menjauhi nilai moral dan agama dalam trik rekayasa sosialnya. Bukan berarti pemimpin itu tampil brengsek di depan rakyatnya. Bohongilah rakyatnya dengan penampilan seakan-akan berintegritas, beragama dan bermoral tinggi. Tapi di balik layar, selalu ada kesepakatan rahasia antara orang-orang yang tak lagi peduli akan moral untuk sebuah kejayaan.

Sosiolog terkenal, Prof. Selo Sumardjan berpendapat bahwa tahun 2012, yaitu tahun selesainya Pelita V, masyarakat Indonesia akan mengalami sekulerisasi. Pendapat ini dilontarkan ketika Orde Baru dalam posisi puncak dan tentu jauh sebelum film 2012 ada. Menurutnya, sekulerisasi itu tak akan terelakkan bagi masyarakat Indonesia. Hal itu disebabkan industrialisasi berkembang pesat mempengaruhi kehidupan sosial politik, ekonomi, budaya dsb. Dalam perjalanannya menggeser peran agama dan norma dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan sosial.

Kuntowijoyo mengkritik cara berpikir bahwa sekulerisme adalah keharusan sejarah. Walaupun dalam dunia ekonomi saat ini, pertimbangan yang dipakai menyangkut bagaimana tetap untung tak pernah rugi. Berkembangnya rasionalis sebagai penopang sekulerisme akan mematikan eksistensi kemanusiaan. Benar terjadi di dunia barat saat ini. Di tengah perkembangan I PTEK,  kebudayaan barat mengal ami  kekosongan yang hebat. Mereka hidup tanpa makna. Akhirnya pergi mencari pelarian dengan spekulasi-spekulasi filsafat untuk menjustifikasi bahwa kehidupan ini sangat membosankan. Manusia dipenjara dalam sistem yang dibuatnya sendiri.

Menurutnya, itulah problem yang dialami manusia modern. Masalah yang muncul dari perasaan untuk berlepas diri dari agama atau agnostisisme. Teknologi modern yang sesungguhnya diciptakan untuk pembebasan manusia dari kerja, berbalik jadi alat perbudakan baru. Karena motif rakus dalam keuntungan, perusahaan memaksakan semua faktor produksi untuk bekerja termasuk manusianya. Manusia yang semula merdeka, merasa jadi pusat dari segala sesuatu, berbalik menjadi mesin modern. Sebuah nilai rendah bagi kemanusiaan.

Hidup manusia dikendalikan pasar. Kualitas kerja manusia bahkan kualitas kemanusiaan suatu bangsa ditentukan pasar. Manusia benar-benar jadi bulan-bulanan pasar. Pola pikir kapitalistik ini ternyata tak lebih ringan.*[]

Oleh : Atalarik Syah Bahar

3 comments

  1. semoga kita semua dapat mengisi hari hari kita dengan pandangan hidup yang bisa menyelamatkan kita semua di dunia maupun di akherat kelak.

  2. Solusi konkritnya apa nih bang? Artikelnya kaya nanggung.

    • yah intinya sih ———-) Isi kehidupan ini dengan konsep hidup yang jauh lebih jelas dan teruji. Konsep yang sudah teruji dan telah sempurna sejak 1400 tahun yang lalu! 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.