Home / Artikel / Celoteh Agen KK / Media Sosial Emang Bikin Edan!

Media Sosial Emang Bikin Edan!

KONTERKULTUR–Sudah lama sekali sebenarnya saya ingin sekali nulis soal media sosial. Tapi entahlah selalu saja keduluan topik-topik yang lain. Alhamdulillah ini keturutan. Meski tulisan ini rencananya memang nggak dibuat ilmiah-ilmiah amat ala paper seminar. Biarlah kalau memang nggak dianggap tulisan yang layak jadi rujukan akademik, yang penting mah nulis. Hehe

Semua orang tahu kalau udah membahas soal media sosial (social media) pasti ngerasa itu jadi bagian dari dirinya. Karena dijaman sekarang siapa sih yang nggak punya akun sosial media? Entah itu facebook atau twitter, pasti hampir semua punya. Bahkan sejak populernya smart phone, semua orang jadi berbondong-bondong masuk Path, Instagram, Line, dan masih banyak lagi. Rasanya nggak masuk akal kalo orang jaman sekarang nggak punya akun sosmed. Apalagi yang remaja. Pasti temen-temennya pada jijik bergaul sama dia, gara-gara dianggap nggak gaul, nggak apdet, dan pasti bakal nggak nyambung ngomong apapun sama dia. Ujung-ujungnya malah jadi bahan bullying ntar.

Emang bener gitu kenyataannya. Sampai-sampai saya pernah baca buku yang meriset tentang media sosial mengatakan kalau 9 dari 10 remaja memiliki akun facebook. Dan dari tinggi jumlah itu, 50% diantara mereka menggunakan akun tersebut dengan aktif! Dan sekali lagi, itu baru facebook saja. Belum sosial media yang lainnya! Wow, wow, wow…, fakta itu luar biasa menurut saya. Ini berarti kehidupan dari mayoritas remaja saat ini nggak bisa lepas dari yang namanya media sosial. Mulai bangun tidur pagi sampai tidur lagi di malem hari – di era smartphone begini – kita bisa ratusan kali berinteraksi lewat sosial media. Mulai yang cuma nengok notification, liatin status temen, ngomenin status temen, nge-share link, bikin status sendiri, liatin berapa banyak like di status yang barusan di share, balesin personal message, nge-tag foto, ngerubah profile picture, ngerubah cover picture, hadeeeeh… buanyak!

Dan sekali lagi, itu baru 1 akun facebook aja lho… Apalagi jaman sekarang banyak juga yang punya akun facebook lebih dari 1. Alesannya macem-macem, ada yang katanya dihack orang lah, dipakai buat jualan online lah, friends-nya penuh lah, ada aja. Lalu gimana dengan akun-akun lainnya? Twitter, Instagram, Path, dan lain-lain? Gila! Hidup kita bisa habis buat ngurusi sosial media!

Nah, dampaknya dari menjamurnya sosial media ini ternyata memberi banyak perubahan perilaku penggunanya. Nggak pake riset akademis aja, saya bisa nemuin banyak banget hal-hal aneh, menggelikan, sampai hal-hal bodoh yang sulit bikin kita percaya bahwa pengguna facebook itu masih waras.

Gara-gara facebook ini, orang-orang seperti punya kepribadian yang berbeda dengan dunia nyata. Ada yang di dunia nyata keliatan pendiem, nggak banyak omong dan cenderung nggak punya banyak teman, tapi kalau nongol di facebook seolah jadi orang yang sama sekali beda! Status-statusnya lebih pede, banyak omong, dan narsis. Nah, ngomong soal narsis ini memang benar-benar sudah penyakit akut para pengguna sosial media. Bagi orang-orang tertentu, ngapdet foto terbaru dengan  pose yang sekeren-kerennya, secantik-cantiknya, atau seganteng-gantengnya, itu merupakan kepuasan tersendiri. Apalagi kalau yang nge-like banyak. Apalagi kalau yang memuji banyak.

“Ya ampun mbak… cantik banget!”

“Subhanallah, ukhti… bidadari surga..”

Woooahaha… kalo pujiannya udah yang ‘seberat’ itu, yakin dah… dia akan lebih bersemangat untuk nyiapin foto-foto narsis lainnya! Mulai nyari-nyari, ngumpulin foto-foto di kamera hape, di laptop, sampe foto jaman masih unyu-unyu dikumpulin semua dan dimasukin daftar aplot yang berikutnya.

Memang sih, tabiatnya orang suka banget dipuji. Tapi Islam kan punya aturan untuk membatasi agar nggak riya dan ujub. Sampai-sampai yang udah nikah pun masih ada aja yang suka selfie dengan pose, senyuman dan dandanan yang seharusnya hanya boleh dilihat oleh suaminya sendiri. Banyak banget yang suka kalau kecantikan wajahnya, keelokan tubuhnya, dinikmati oleh lawan jenis selain suaminya.

Mungkin gara-gara baca tulisan ini ada yang protes,

“Enak aja! Saya nggak punya niat gitu kok!”

Yah, oke lah.. mungkin sebagian orang memang nggak berniat gitu. Tapi kalau nggak punya niat macam itu, paling tidak hindarkan diri dari pemicu fitnah. Bukankah wanita dalam Islam itu semakin terjaga kehormatannya jika dirinya bisa semaksimal mungkin menjaga dirinya dari penyebab munculnya fitnah?

Saya pribadi sangat bersyukur, istri saya nggak terlalu suka aktif di sosial media. Akun facebooknya sudah bertahun-tahun dicuekin. Apalagi sosial media lainnya seperti Instagram, Path, Twitter, dan sejenisnya. Dia nggak peduli berapa ratus orang yang ingin berinteraksi dengannya. Kalau mau ngontak, dia cuma ngasih akses ke handphone atau BB-nya.

Tentu ini bukan berarti saya menyalahkan seluruh wanita punya akun sosial media loh ya… Tulisan ini tidak sedang menyinggung teman-teman akhwat yang bisa menjaga diri ketika berinteraksi di sosial media. Karena memang saya juga masih menemui banyak perempuan yang mampu menjaga diri meski sering berinteraksi dengan sosial media. Sedangkan bagi yang masih tersindir gara-gara tulisan ini, harapan saya bisa berubah di kemudian hari.

Eh, kenapa jadi hanya bahas perempuan yah?

Hahaha…

Iya maaf. Sebenernya kasus narsis nggak cuman dialami perempuan. Yang laki juga banyak banget. Cuman kenapa nggak terlalu banyak dibahas disini, itu karena narsisnya laki-laki (menurut saya) nggak terlalu bikin ‘pusing’ dan menimbulkan fitnah bagi lawan jenisnya. Kayaknya jarang banget saya nemuin perempuan yang suka banget mem-follow laki-laki untuk ngeliatin foto-foto gantengnya. (Kecuali cewek-cewek alay yang suka artis-artis Boyband Korea lho ya… itu nggak masuk itungan!).

Intinya, laki-laki, meski banyak juga yang seharusnya menghindari keseringan melakukan selfie di sosial media, tapi pada dasarnya itu nggak terlalu memicu fitnah. Itulah kenapa Rasulullah Saw pernah berpesan kepada para sahabat bahwa nggak ada fitnah besar setelah masa hidup beliau selain fitnah yang disebabkan oleh perempuan.

Perempuan itu, nggak bermaksud memicu fitnah aja tetep bisa menimbulkan fitnah. Misalnya, kalau perempuan punya suara normal udah lembut, meski nggak disengaja menggoda lawan jenis ketika berinteraksi lewat telpon, tetap aja berpotensi menimbulkan fitnah. Padahal kan udah setting-annya gitu? Pakai baju juga gitu. Agak membentuk lekuk tubuh misalnya. Meski niatnya pakai itu karena baju yang lain nggak ada, lagi dicuci atau apalah. Tetap aja lawan jenis yang ngeliat bisa terpicu fitnah bentuk tubuhnya. Kalau stop sampai disitu nggak apa-apa. Lah kalo akhirnya malah ngelamun yang aneh-aneh? Lah kalo malah nggodain balik? Siapa yang salah??

Udah ah. Kok jadi ngomongin fitnah wanita? Lagipula biarin bahasan ini diterusin sama ustad-ustad yang lebih kompeten ngomongin dalil. Saya bagian ngasih wacana dan opini ajah.

Okey, kita balik lagi ke bahasan sosial media.

Hehehe.. maaf tulisannya jadi ngalor-ngidul.

Balik soal narsis di facebook tadi, saya nggak mukul rata semua laki-perempuan yang nongolin foto-fotonya di facebook itu pasti penyebar fitnah. Saya setuju dengan pendapat pengamat media sosial kalau foto-foto yang digunakan untuk Self Branding atau pencitraan penokohan dirinya di publik memang benar-benar dibutuh, maka itu sah-sah saja. Karena beberapa profesi membutuhkan self branding yang serius. Tapi tentunya berfoto dengan motif semacam itu nggak asal moto aja. Pasti lebih terencana, dan nggak asal-asalan layaknya foto narsis ABG labil. Jeprat-jepret pake kamera hape sendiri, senyum-senyum sendiri, diupload-upload sendiri cuma pengen dikatain cantik, keren, dan sejenisnya.

Menurut saya, sosial media tuh disadari atau tidak, sudah banyak menjerumuskan manusia ke aktivitas yang sia-sia. Kalau kita nggak pinter-pinter memanfaatkan media sosial itu untuk aktifitas yang berguna atau berpotensi pahala, facebook malah jadi bumerang bagi penggunanya. Contoh paling konkrit aja, waktu update status. Berapa banyak orang-orang yang suka banget update status nggak jelas maksudnya. Nggak ada angin, nggak ada ujan, tiba-tiba ngumpat-ngumpat, maki-maki di statusnya. Padahal semua orang kan nggak tau maksud dia apa? Lagipula kalo itu urusan personal, privat, ngapain ngumpat-ngumpat di facebook? Itu akan aneh??

Misalnya, dia bertengkar sama temen kuliahnya. Trus ngumpatnya di facebook. Maki-maki di facebook. Itu kan aneh? Peduli amat kita mikir masalah dia? Boro-boro nanyain kronologi sejak awal kenapa dia sampai bertengkar gitu, peduli amat?? Kan aneh? hahaha…

Atau ada juga yang suka banget update status nggak penting banget. Contohnya,

“Aaah,.. cerah banget pagi ini… #mulet”

“sedang apa ya cayangkyuuu…?”

“malem ini nonton apa ya…?”

Dan sejenisnya lah!

Menurut saya itu bener-bener status nggak penting banget. Apalagi yang mosting status orang muslim. Tragis kan? Makanya kalau ada yang nanya ke saya, kenapa facebook buatan Yahudi tapi saya juga makai? Jawaban saya simpel aja. Ya kalo dipakai buat mosting status nggak jelas gitu ya dia salah! Kalau kita pakai buat banyak hal yang bermanfaat dan mendatangkan pahala, maka pembahasannya jadi lebih panjang dan memungkinkan pintu-pintu untuk ‘berkompromi’.

Menurut saya sih, ngapet status ‘nggak penting’ itu masih agak mending ketimbang ngapdet status yang sejak awal berbau maksiat. Udah gitu kalimat-kalimatnya kotor dan justru menonjolkan aib dia sendiri! Saya pernah nemuin kasus seperti itu. Masa’ dia ngapdet status jorok banget! Gini nulisnya (maaf),

“Duh, jembutku wis gondrong rek… wayahe nyukur!” (translate dlm bahasa inggrisnya: “Aduh, bulu kemaluanku sudah panjang nih… waktunya bercukur!”).

Maaf sekali lagi maaf. Saya terpaksa ngasih contoh seperti ini. Biar kita semua teredukasi dan menyamakan persepsi bahwa kalau ada orang semacam itu pasti dia GILA! Otaknya perlu diperiksakan ke dokter spesialis otak siapa tahu ada sumbatan-sumbatan kotoran di pembuluh darahnya!

Fakta-fakta ini benar-benar nyata! Eksis sehari-hari di News Feed facebook kita. Saya menemui status-status gila semacam itu beberapa kali dan rata-rata mereka remaja laki-laki. Kalau sudah tahu gitu, pasti saya remove dari friend list saya sebelum suatu hari nanti dia tiba-tiba bikin status semacam itu lalu mention atau nge-tag random nama saya. Jiaaaaah…!!! Hahahaha…

Yang pasti orang-orang seperti itu jelas sudah bodoh tingkat tinggi. Sebaiknya di-remove dan dijauhi. Biar nggak nular. Hehe..

Nah, dari tulisan ngalor-ngidul ini paling tidak bisa jadi bahan renungan. Minimal bisa bikin kita lebih cerdas dalam berinteraksi dengan sosial media. Jika aktivitas kita dalam sosial media justru kita menjauhkan diri kita dari Allah, menyebar fitnah, membuat kita lalai dengan perintah-perintah Allah, menyebabkan kemungkaran, maka nggak heran dahulu MUI memfatwakan facebook diharamkan. Karena memang alasan itulah yang menyebabkan facebook jadi haram.

Gitu deh…

Udah ah.. Saya mau update status dulu! Hahaha..*[]

Oleh: Aik

2 comments

  1. wow jadi gituh yah gan? makasih lhoh udah share

  2. bermamfaat banget nih 🙂 hehe makasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.