Home / COUNTER BANDS / Band Bule / Mengenang COCK SPARRER, Pionir Punk Inisiator Lagu “Iwak Peyek” yang Legendaris
Cock Sparrer (foto: amnesiarockfest)

Mengenang COCK SPARRER, Pionir Punk Inisiator Lagu “Iwak Peyek” yang Legendaris

KONTERKULTUR–Terima kasih kepada Trio Macan. Band “Punk” paling anarkis se-Indonesia Raya ini, beberapa tahun lalu mempromosikan sebuah anthem berjudul “Iwak Peyek”. Sontak, ingatan saya balik lagi ketika awal-awal dulu mengenal Punk. Lagu Iwak Peyek familiar dengan telinga saya. Tapi siapa ya pencipta nadanya …

Begitu lama saya berpikir, sambil menggumamkan lagu itu dengan lirih. Agar makin fokus berpikir, saya pun pergi ke WC, tempat bersemedi yang paling menjanjikan. Beberapa lama kemudian akhirnya mulai ada titik terang. Saya pun teringat lagu ini sering dinyanyikan arek-arek Bonek di setiap pertandingan Persebaya.

Aha! Barulah ingatan saya pulih. Nada seperti ini memang cocok dibuat lagu wajib suporter. Ya, siapa lagi kalau bukan Cock Sparrer, band yang paling saya ingat imejnya ketika mereka berpose di bawah gapura bertuliskan “West Ham United”, klub sepak bola asal Inggris yang terkenal memiliki pendukung fanatik meskipun tidak pernah juara. Coba dengar salah satu penggalan liriknya.

“Take ’em all… take ’em all” “Put ’em up against a wall and shoot ’em” “Short and tall, watch ’em fall” “Come on boys take ’em all”

(Reffrain lagu Take ’em All, dari album paling legendaris Shock Troops (1982) yang kemudian diplesetkan menjadi : “Iwak peyek, Iwak peyek/ Iwak peyek sego Jagong/ Sampek elek, Sampek tuwek/ Sampek matek, Tetap didukung”)

Band ini memang tidak cukup terkenal. Band ini juga tidak pernah menikmati kesuksesan komersial, seperti halnya Sex Pistols, kawan seangkatannya. Padahal dulu, Malcom McLaren (manajer Punk paling tersohor) sudah menawari Sparrer untuk gabung manajemennya. Tapi sang frontman, Collin McFaull, menolak mentah-mentah, “Maaf kami bukan Punk murahan”.

Beberapa tahun kemudian sebuah fanzine bertanya pada Collin. “Apa kamu tidak menyesal menolak pinangan Malcolm? Padahal kalau kamu menerima, mungkin kamu bisa selegendaris Sex Pistols,” seru si interviewer. “Hahaha. Tidak sama sekali. Kami pernah merasakan panggung hanya dihadiri 5 orang. Pernah jauh-jauh tur, tapi pulang nggak dapat apa-apa. Namun, karena itulah kami eksis. Band ini seperti keluarga besar. Para fans mencintai kami seperti keluarganya sendiri,” ujar McFaull.

Memang kelima personil Sparrer, Collin McFaull (Vocal), Mick Beaufoy (Lead Gitar), Daryl Smith (Rhytm), Steve Burgess (Bass), dan Steve Bruce (Drum), tidak menyandarkan kebutuhan sehari-harinya dengan bermusik. Mereka bekerja sebagai buruh atau pelayan restoran di sekitar rumah mereka untuk membiayai keluarganya. Padahal mereka ini sangat identik dengan Subkultur Skinhead yang bisa saja mereka eksploitasi secara komersial atau bisa juga menjadikan diri mereka sebagai artis scene. Ternyata mereka lebih memilih tetap merakyat.

Salut buat band yang usia personilnya seumuran orang tua saya ini!

July 2015 lalu, zine Punk kawakan, Maximum Rock n’ Roll (MRR), berkesempatan mewawancarai band ini dalam rangka konser pertama mereka setelah 15 tahun lebih tidak tampil secara live di kampung halaman mereka, Inggris. Rencananya Sparrer ingin mengadakan konser besar sebagai momen nostalgia dengan para pasukan sepatu boot. Bagaimana isi wawancaranya? Cekidot…

MRR: Baiklah. Kita mulai dengan pertanyaan, sebutkan tiga gigs yang paling keren yang pernah kalian mainkan?

Bruce: Pertama, yang akan kita mainkan nanti. Kedua, setelahnya. Ketiga setelahnya setelahnya lagi.

Collin: Pertanyaan sulit. Mungkin yang pertama konser reuni kita di London 1992 lalu, yang tadinya kita berharap hanya 10 orang penonton, eh yang datang malah 2000 orang. Kedua mungkin saat tur Eropa tahun 1994 di Jerman salah satunya. Atau waktu di San Fransisco. Kami juga dapat sambutan meriah di Serbia, Norway, Italia, Swedia, Denmark, Austria, Texas, dan banyak lagi. Maaf, saya tidak bisa memilih tiga di antara semua itu.

Mickey: Susah banget jawabnya karena memang saking banyaknya. Ada konser “profesional” ada juga gigs kecil-kecilan yang bikin kangen. Jadi saya nggak bisa memutuskan. Tapi di London 2010, San Fransisco, Chicago, Berlin 2009 dan CBGB tahun 2000 salah satu yang terbaik.

Daryl: Astoria-London 1992, semua tur sepanjang 1994 dan yang lainnya.

Burgess: Kamu tidak bisa bilang satu gigs lebih baik dari yang lain. Kami selalu ingin memberikan yang terbaik untuk para penonton. Mungkin ada penonton yang menempuh jarak jauh untuk sekedar datang ke acara kami, keran nggak tuh? Ini bukan perkara favorit kami, tapi favorit mereka (para penonton).

MRR: Lalu, apa pengalaman buruk kalian?

Bruce: Waktu tahun 70-an, gigs jarang. Sekalinya ada gigs, lokasinya jauh. Dan yang lebih menyakitkan, penonton yang hadir hanya lima orang. Lalu kita pulang hanya membawa uang lima pounds saja.

Collin: Paling sial waktu tampil tanpa penonton sama sekali dan semuanya jadi tidak menarik (tertawa)

Mickey: Susah sebenarnya menjawab karena kami menjalani semuanya menyenangkan. Oh iya, kecuali saat di Wina 1994, waktu itu suhu sangat panas tapi para penonton membuat kami bersemangat.

Daryl: Sulit membayangkan sebuah pengalaman buruk. Saya menikmati semuanya. Ada mungkin ketika sound di atas panggung agak jelek. Tapi sebagai musisi, kita harus bisa menyelesaikan kendala tersebut karena para fans hanya ingin menikmati penampilan terbaik. Kami sangat beruntung karena fans kami benar-benar mengapresiasi kami.

MRR: Kalian kan terkenal sebagai band Hooligans, apa kalian masih aktif jadi suporter sepak bola? Klub apa yang kalian idolakan?

Collin: Saya fans fanatik West Ham United dari kecil. Ini cuma soal dari mana kamu berasal. Saya juga mengajari anak-anak saya mencintai West Ham United dari kecil. Saya, Will dan Burge masih menjadi pendukung West Ham. Steve pendukung Millwall. Mickey selalu mendukung Arsenal. Daryl jadi pendukung Watford. Dan kami semua pendukung Inggris. Tapi bagi saya, West Ham yang pertama, baru setelah itu Inggris.

MRR: Jaman telah berubah cepat. Apa yang kalian pikirkan tentang Skinhead sekarang ini?

Bruce: Kalau kalian tidak tahu filosofi seorang skinhead, lebih baik jangan menjadi skinhead.

Collin: Skinhead adalah kultur yang harus dilestarikan. Terlalu banyak nilai sejarah, baik lewat musik maupun fashion. Skin muda dan tua harus bersama-sama menjaga ini. Tapi kadang saya melihat, skinhead muda sudah tidak begitu peduli lagi dengan filosofi skinhead.

Mickey: Sudah jarang saya melihat hooligan atau skinhead di jalanan. Mungkin karena saya tidak tahu. Tapi kondisi sekarang lebih baik dan manusiawi sepertinya.

Daryl: Kamu bisa menjadi skinhead tanpa harus menjadi hooligan. Yang harus kalian ingat, hooligan adalah produk dari perkembangan sosial masa itu. Menjadi hooligan sekarang sudah kuno. Tapi skinhead merupakan bentuk etos hidup seseorang. Skinhead berarti identik dengan kerja keras dan mandiri. Kalian tidak perlu memakai sepatu boots atau atribut lainnya untuk menjadi seorang skinhead. Ini lebih kepada cara berpikir kalian dan prinsip yang ada dalam hati kalian.

MRR: Banyak orang memakai lagu kalian untuk kampanye bernuansa fasis atau rasis, bagaimana tanggapan kalian?

Mickey: Sama juga yang dilakukan oleh kaum kiri garis keras (komunis). Mereka juga menjijikan. Saya lebih senang hidup damai.

Daryl: Kami tidak suka lagu kami dipakai oleh seorang ekstrimis. Entah kanan maupun kiri.

MRR: Apa arti Punk buat kalian?

Bruce: Tidak menjadi apa yang orang lain harapkan. Jujurlah pada diri sendiri.

Mickey: Bagi saya, Punk artinya memberontak. Tanyalah hati nurani. Pegang omongan kalian.

Collin: Punk cuma berkesan sebentar buat saya. Karena setelah itu, industri musik dan media di tahun 1976 (awal Punk) menyusup bahkan berpura-pura menjadi gerakan independen. Akhirnya sama saja seperti kapitalisme. Punk, secara sederhana, buang semua aturan dan bikin aturan baru. Semua hal, seperti ketika kalian membuat band yang berantakan, tidak punya penonton, bikin fanzine dan meninjau pertunjukan di depan kamar mereka. Independent record menyebar kemana-mana dan kita akan melihat semakin banyak pelawak-pelawak baru. Untuk sementara waktu, ini menyegarkan, tapi kemudian sangat membosankan. Punk pun meniru cara yang sama untuk sukses dan diperhatikan orang. Salah satu formula sukses adalah jatuh ke perangkap yang sama. Kami tidak pernah berusaha mengidentikan sesuatu. Boleh kalian sebut kami street punk, oi, skinhead, rock, metal, terserah kalian. Kami juga tidak suka banyak berdandan seperti seorang mahasiswa seni.

MRR: Kalian sering disebut sebagai “Band punk terbaik yang tak pernah dikenal”. Bagaimana perasaan kalian?

Bruce: Saya senang sekali. Gue banget!

Collin: Saya juga senang. Saya telah berbicara dengan banyak orang yang mereka merupakan band nggak terkenal, komunitas kecil, dan mereka bangga karena merasa seperti Cock Sparrer. Waktu itu kami sedang di bandara, sewaktu diperiksa, seorang petugas bertanya nama band kami lalu kami sebutkan Cock Sparrer. Dia dengan polos menjawab “Kok saya tidak pernah dengar nama band kamu?”. Dia nampak lebih kecewa daripada kami.

Burgess: Jujur saja, kadang agak mengganggu. Kami telah bermain di banyak tempat dan tiketnya seringkali ludes. Media mainstream tidak mempedulikan kami.

Mickey: Saya bersyukur dengan keadaan ini. Inilah pencapaian kami. Memangnya, kalau band ini besar apa kita menjadi bahagia? Apa kita tetap berteman seperti ini? Apa kita tetap hidu? Saya senang dengan keadaan yang sekarang.

MRR: Dari seluruh lagu yang pernah kalian buat, mana yang favorit?

Bruce: “Because You’re Young” bikin merinding.

Collin: “Riot Squad”

Mickey: “Secret Army”

MRR: Nah, sekarang,’Bagaimana rasaya menjadi tua?’

Burgess: Lebih baik daripada mati

Mickey: Tanya terus, maka saya akan menjawab ‘Selama bermusik, saya tidak pernah merasa tua’. Saya masih stage diving di umur 55!

Collin: Auk dah. Tanya si Bruce

Daryl: Idem. Tanya Tuan Bruce aja deh.

Bruce: Oke. Selama hidup, oke-oke saja.

MRR: Siapa yang paling berjasa dalam hidup kalian?

Bruce: Ayah saya

Collin: Ibu saya tentu saja. Lalu istri saya, Wendy.

Mickey: Kakek saya mengajarkan saya untuk menjadi pemberani dan dia yang memberikan saya kasih sayang

Daryl: Kakek saya tahu cara menyemangati saya. Jadi dia sering memarahi saya. Tapi semua omelannya terbukti benar!

Burgess: Orang tua, tentu saja. Ini seperti klise, teman-teman band saya juga berjasa. Lalu istri saya dan anak-anak saya. Dan juga istri dan anak-anak anggota band lainnya.

Yeah. Demikian wawancara dengan band yang selalu rendah hati ini, meskipun dia amat berjasa bagi perkembangan scene Punk khususnya anak-anak Skinhead. Contohlah mereka. Agar kalian tidak gampang lupa diri.

Oi! Oi! Oi! Buka Sithik Joss!*[]

Oleh: Pak Tamat

2 comments

  1. NAMPAR! 😀 ”Collin: Punk cuma berkesan sebentar buat saya. Karena setelah itu, industri musik dan media di tahun 1976 (awal Punk) menyusup bahkan berpura-pura menjadi gerakan independen. Akhirnya sama saja seperti kapitalisme. Punk, secara sederhana, buang semua aturan dan bikin aturan baru. Semua hal, seperti ketika kalian membuat band yang berantakan, tidak punya penonton, bikin fanzine dan meninjau pertunjukan di depan kamar mereka. Independent record menyebar kemana-mana dan kita akan melihat semakin banyak pelawak-pelawak baru. Untuk sementara waktu, ini menyegarkan, tapi kemudian sangat membosankan. Punk pun meniru cara yang sama untuk sukses dan diperhatikan orang. Salah satu formula sukses adalah jatuh ke perangkap yang sama. Kami tidak pernah berusaha mengidentikan sesuatu. Boleh kalian sebut kami street punk, oi, skinhead, rock, metal, terserah kalian. Kami juga tidak suka banyak berdandan seperti seorang mahasiswa seni.”

  2. koreksi jika saya salah … sebelum iwak peyek nya tri macan , The Jaks ( Persija ) lebih dulu memperkenalkan irama ini di tribun …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*