Home / Artikel / Kamu Harus Tahu! / Menguak Dusta Kaum Marxis-Leninis
(foto: marxistleninist.wordpress.com)

Menguak Dusta Kaum Marxis-Leninis

KONTERKULTUR–Ideologi Marxis-Leninis atau Komunis telah bangkrut di pentas dunia. Uni Soviet yang jadi kiblatnya telah runtuh. Begitu pula negara-negara Eropa Timur. Sementara itu, Republik Rakyat China yang masih eksis sampai saat ini, dari segi ekonomi misalnya, sudah dekat kepada liberalis-kapitalis.

Melihat kenyataan diatas, beberapa kalangan lantas mengatakan bahwa komunisme tak perlu dikahwatirkan lagi, bahkan tak usahlah diperbincangkan. Itulah sebabnya kalau ada pihak yang berusaha terus menelaah kemungkinan bangkitnya komunisme, lantas dianggap buang-buang waktu. Di Indonesia, pihak ini akan segera dicap sebagai neo Orde Baru—yang berusaha meneguhkan kekuasaan dengan terus memelihara “monster” komunisme.

Tunggu dulu. Benarkah begitu? Benarkah ideologi komunisme benar-benar telah bangkrut, hancur dan tak akan bangkit lagi?

Suatu hari awal Oktober 2002 lalu, di sebuah aula di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, berlangsung sebuah hajatan. Aula tersebut penuh sesak, bahkan dihadiri seorang mantan presiden Republik Indonesia yang pernah berniat mencabut TAP MPRS No XXV Tahun 1966 tentang Pelarangan Komunisme.

Itu bukan hajatan mantu anak pejabat atau ulang tahun kaum selebriti. Namun peluncuran sebuah buku berjudul Aku Bangga Jadi Anak PKI. Sang penulis bernama Tjiptaning Proletariawati. Orang tuanya dulu memang aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI)

Ning—panggilan akrab Tjiptaning—mungkin kecewa atas perlakuan tidak adil pemerintah kepadanya dan anak-anak PKI lainnya. Tapi bila menyimak judul buku tersebut, kegelisahan yang ingin diungkapkan Ning bukan haya itu. Bukankah ia sendiri merasa bangga menjadi anak PKI? Bahkan di sela-sela acara tersebut, Ning sempat mengatakan kepada sejumlah wartawan tentang keinginannya untuk menghidupkan kembali partai komunis di Indonesia dan ikut berlaga di pemilu 2004.

Pada tahun 2006, Ning sempat menjadi anggota DPR RI. Ia memang tak diusung oleh partai obsesinya, melainkan oleh Parta Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Yang jelas, terpilihnya ia menjadi anggota dewan waktu itu mengandung arti bahwa orang seperti dirinya punya simpatisan yang tidak sedikit.

Taufiq Ismail, budayawan yang langsung bergelut dengan hiruk pikuk situasi sosial-politik-budaya menjelang pemberontakan PKI tahun 1965, menengarai adanya upaya kebangkitan kembali ideologi palu arit—simbol kebesaran kaum komunis, termasuk di negeri ini. Bahkan dalam pengamatannya, kini telah muncul generasi neo-komunis.

Untuk menghapus sejarah berdarah kaum komunis, generasi baru ini sering melontarkan jargon-jargon palsu. Misalnya memperjuangkan hak asasi manusia (HAM), demokratik, dan tidak anti-agama. Padahal itu semua sebenarnya dusta belaka. Taufiq Ismail mengajak pembaca untuk menguak dusta kaum Marxis-Leninis yang pernah mengalirkan sungai darah di berbagai belahan dunia. –bersambung

Oleh: Mahladi

Editor: Markonah

4 comments

  1. pernah waras (masih dan semoga)

    etdah keren judulnya..

  2. tulisan yang dangkal, terutama isinya.. keren judulnya doank (walau tak berlandaskan)

  3. Mana sambungannya ?
    Hufft …

  4. ciaaaa kep*r*t kau,Selamat tinggal kau pendusta hati…, pendusta janji…Hari-harimu kan penuh karma…
    Kau hancurkan semua hanya untuk kejar ambisi…

    no offense bro!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.