Home / Artikel / Opini Hatkor! / Musik Hanyalah Budak Iklan Bagi Merek-Merek Minuman Beralkohol

Musik Hanyalah Budak Iklan Bagi Merek-Merek Minuman Beralkohol

KONTERKULTUR—Di kalangan scene underground di Indonesia, sudah banyak band yang menuliskan lagu tentang minuman beralkohol. Tak kurang dari nama-nama, Ciu, Intisari, Lapen, Arak, telah jadi semacam ikon pemberontakan. Mereka mengabadikannya dalam judul lagu, lirik, motto, slogan, sampai jalan hidup.

Seperti misalnya, band asal Jogja, Shaggydog. Mereka pernah merilis lagu berjudul Di Sayidan. Lewat lagu ini Shaggydog secara tidak langsung mempromosikan dan mengampanyekan budaya ‘minum’. Bagi penggemarnya, lagu ini seperti Anthem atau lagu wajib. Dalam lagu itu, mereka hendak bercerita tentang kebersamaan. Di dalam kebersamaan itu, rasanya tidak lengkap kalau tidak ‘minum’ bersama. Dalam liriknya mereka menyebut Lapen, salah satu brand bir lokal dari Yogyakarta.

Superman Is Dead juga sempat merilis lagu seputar Arak Bali. Dan banyak band-band underground lainnya juga sempat mengabadikan nama merek-merek bir tersebut. Namun, sesampainya di jagat musik mainstream, biasanya mereka menghindari tema-tema ini untuk menjaga keberlangsungan band mereka.

Sejalan dengan ini, sebuah studi di John Hopkins School of Public Health ternyata menunjukkan gejala yang sama. Mereka mencatat ada empat brand minuman keras yang sering muncul di lagu-lagu populer dalam daftar The Most Popular Billboard’s Song List. Diantaranya: Patron Tequila, Hennessy Cognac, Grey Goose Vodka, Jack Daniels Whiskey.

Penelitian yang dilakukan dalam jangka empat tahun belakangan ini, menunjukkan, dari 790 lagu, 167 (23.2%) diantaranya menyebutkan kata alkohol. Dan 46 (6.4%) lagu secara spesifik menyebut merek bir tersebut. Alkohol paling banyak disebutkan dalam genre rap, hip-hop and R&B (37.7%) kemudian diikuti oleh musik Country (21.8%) dan musik pop (14.9%).

Setidaknya, ada 14 penilitian yang menunjukkan bahwa marketin dari bran-brand alkohol itu memasuki jagat dunia hiburan dengan sangat intensif. Target mereka adalah kalangan pemuda. Bagi yang masih pemula, di media ini, mereka diperkenalkan. Bagi yang sudah terjerat, mereka dipaksa untuk makin masuk ke dalam ketergantungan. Kaum muda di Amerika rata-rata menghabiskan waktunya 3 jam per hari untuk mendengarkan musik.

“Beberapa brand alkohol bahkan nampak jelas berusaha untuk semakin sering menyusup dalam musik-musik pop,” kata Michael Siegel, MD, MPH, proffesor di Boston University School of Public Health. “Ini menjadi tugas bersama untuk menangkalnya,” tambahnya.

Di Amerika, Alkohol bertanggung jawab atas kematian 4700 pemuda tiap tahunnya. Bahkan, rata-rata umur mereka masih di bawah 21 tahun. Lebih dari 70% siswa SMA di Amerika telah mengonsumsi Alkohol dan 20%-nya telah dinyatakan kecanduan.

Kenyataan ini mirip seperti di Indonesia. Sudah sering kita dengar di Televisi, dalam satu kejadian bisa 5 sampai 10 pemuda tewas karena menenggak alkohol. Terutama mereka yang mencoba bereksperimen dengan campuran-campuran lain. Bayangkan, alkohol saja sudah berbahaya, apalagi dioplos dengan yang lain.*[KK]

Oleh: Bang Bokir

2 comments

  1. ini tulisannya S.Bahtiar?

  2. berhenti bermusik

    saya rasa dalam kehidupan saya saat ini musik/bermusik sudah tidak lagi relevan!.
    maaf sekedar numpang lewat eh numpang komen 🙂 permisi.

Leave a Reply to berhenti bermusik Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.