Home / Artikel / Opini Hatkor! / Nggak Apa-apa Pemabuk, yang Penting Aku Orangnya Baik

Nggak Apa-apa Pemabuk, yang Penting Aku Orangnya Baik

KONTERKULTUR–Anak-anak muda jaman sekarang umumnya suka ngelawan orang tuanya. Mereka merasa benar kalau berargumentasi dibandingkan argumentasi ortunya. Dulu sebagian anak punk yang saya kenal juga seperti itu. Sukanya maunya sendiri. Kalau dimarahin sama ortunya gara-gara berdandan gembel, suka mabok, dan pakai narkoba, jawabnya konyol:

“Iya saya memang pemabuk, pemakai narkoba, dan keliatan kayak gembel. Tapi kan yang penting disisi lain saya melakukan kegiatan-kegiatan sosial kemanusiaan. Ikut bela-belain hak buruh, nolongin cari dana buat korban bencana alam, bagi-bagi makanan saat Food Not Bom, dan lain sebagainya! Meski saya pemabuk, yang penting hati saya baik!”

Seperti itu katanya.

Permasalahannya bukan karena dia jadi pemabuk, tapi karena orang seperti ini adalah DUALIS. Menjadi pemabuk, sekaligus merasa suci. Padahal keduanya adalah dua kondisi yang kontradiktif.

Darimana pemikiran semacam ini? Pemikiran ini berasal dari Barat. Asalnya dari filsafat akal yang disukai oleh tokoh-tokoh macam Descartes, Kant, Leibniz dan Christian Wolf.

DR. Hamid Fahmi pernah mengutip apa yang disampaikan Christian Wolff, bahwa seorang dualis adalah orang yang mengakui wujud materi dan jiwa terpisah. Akhirnya kebenaran pun dianggap dua juga. Satu kebenaran obyektif, satu lagi kebenaran subyektif.

Doktrin dualisme saat ini sudah memenuhi otak manusia moderen. Sebagaimana argumentasi anak punk itu, “emang aku pemabuk, tapi yang penting kan aku orangnya baik.”

Padahal menjadi pemabuk telah menyakiti hati orang tuanya; ibunya yang mengandung dan membesarkannya, juga ayahnya yang menafkahi dan melindunginya saat kecil hingga besar. Maka jelas ini kontradiktif.

Akhirnya pemikiran inilah yang menghasilkan anggapan konyol seperti “lakukan apa saja, yang penting niatnya baik.”

Akhirnya terjadilah perilaku yang kacau balau didunia ini. Semua hal buruk bisa sah-sah saja dilakukan asal niatnya baik. Mencuri pun boleh, asal niatnya baik. Seperti itu dulu yang saya tangkap ketika pertama kali saya membaca buku STEAL THIS BOOK karya Abby Hoffman.

Maka pemikiran seperti ini yang kemudian melahirkan anak-anak muda yang berkumpul di acara BEERGEMBIRA lalu membuat slogan “Gapapa mabok, asal tahu batasnya.” Padahal batasnya sendiri nggak pernah jelas ketika seseorang udah dalam kondisi mabok.

Lalu apa bedanya dengan kalimat “Gapapa lah berbuat dosa, asal tau batasnya…”?

Pertanyaanya, emang siapa yang tau batasnya? Emang apa batasannya kalau orang sudah mabok?

Trus ujung-ujungnya ada yang teriak, “Hey,… jangan bawa-bawa istilah agama dan dosa-dosaan disini dong!”

Maka pada akhirnya ketahuan juga, kalau muara dari seluruh pemikiran ini adalah berasal dari orang-orang anti-Tuhan di Barat. Sebenernya mereka nggak seratus persen anti-Tuhan, karena tuhan mereka sebenarnya adalah akal mereka sendiri. Suatu kaum yang menyembah akalnya sendiri.*[]

Oleh: Sip Markosip

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*