Home / Artikel / Kamu Harus Tahu! / Pengantar Memahami Cara Punk Berpakaian
Punk dan cara berpakaiannya (sumber foto: stylehunterman.com)

Pengantar Memahami Cara Punk Berpakaian

“Dibalik pakaian badut tersembunyi wajah kapitalisme yang tidak bisa diterima dan tidak bisa digambarkan.” –Hebdige

KONTERKULTUR–Musik yang melankolis dan membosankan pada tahun 70-an, serta gaya berpakaian orang-orang di era itu dianggap sebagai representasi budaya dominan ketika itu.  Mereka dianggap sebagai orang-orang borjuis yang satu kubu dengan kapitalisme. Mereka menjadikan anak-anak muda sebagai korban dari komoditas mereka, mendorong dan menghipnotis agar mau membeli barang dagangan yang sering tidak sesuai dengan kebutuhan.

Ketika masyarakat saat itu berpakaian layaknya iklan-iklan di televisi dan majalah, muncullah sebuah subkultur yang berbasis perlawanan terhadap budaya mainstream tersebut. Subkultur itu ‘merusak’ estetika yang selama ini dibentuk dan dicitrakan oleh para kapitalis melalui media-media massa dan iklan-iklan. Itulah PUNK!

Punk muncul sebagai kritik yang keras terhadap konsep keindahan yang dibangun oleh masyarakat arus utama. Hal ini yang paling menonjol dari cara berpakaian yang mereka lakukan. Mereka secara terang-terangan melakukan pembalikan atas penilaian terhadap warna, tekstur, dan bahan, yang selama ini dipahami oleh sistem budaya dominan. Tidak hanya itu, fashion punk ingin berlepas diri dari industri mainstream secara totalitas dengan menerapkan prinsip do-it-yourself dalam hal produksinya.

Ketika mayoritas orang berpikir bahwa rambut yang baik adalah disisir rapi, maka punk muncul dengan rambut acak-acakan, mohawk dan spiky. Ketika mayoritas orang berpikir bahwa baju yang keren adalah kemeja katun yang disetrika rapi, lalu dimasukkan kedalam celana, serta diberi ikat pinggang yang elegan, maka punk muncul dengan kaos oblong yang sudah kumal, jaket kulit yang penuh coretan dan emblem, dan spike. Begitu pula dengan bentuk perlawanan lainnya seperti celana jeans belel dengan jahitan dan sobekan sana sini, sepatu boots lusuh, dan asesoris  tambahan lainnya.

Meski demikian, fashion punk juga mendapati beberapa kritikan dari para akademisi yang ahli dalam bidang studi budaya ini. Diantaranya yang disampaikan oleh dosen seni ITB, Yasraf Amir Piliang, yang mengatakan bahwa fashion punk mengandung ironi dimana simbol-simbol tertentu yang dipakai oleh subkultur punk ternyata adalah hasil ‘curian’ dari kelompok-kelompok kebudayaan lain yang posisinya lebih mapan. Seperti misalnya dalam fashion yang dipakai subkultur ska-punk, skate-punk, dan beberapa simbol army yang mereka pakai. Tentu ini merupakan hal-hal yang tak terhindarkan. Sampai saat ini belum ada penjelasan yang pasti mengapa adopsi simbol-simbol kelas sosial yang berada diatasnya itu dilakukan.*[]

Oleh: Aditya Rahman Yani

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*