Home / Artikel / Celoteh Agen KK / Punk Menyerah!

Punk Menyerah!

KONTERKULTUR–“If you don’t vote, you don’t count,”. John Lydon a.k.a Johny Rotten mengatakan hal tersebut sekitar dua minggu lalu. Media seluruh dunia membahasnya. Bahkan menimbulkan sedikit goncangan di kalangan para musisi yang memiliki kecenderungan politis, terutama di dalam scene Punk itu sendiri. Pertanyaannya, apakah frontman Sex Pistols, band yang pertama kali menyeret-nyeret anarkisme ke dalam dunia musik, telah melakukan bunuh diri terhadap apa yang selama ini diyakini oleh para pengikutnya?

Memang benar, kita tidak bisa mengatakan Sex Pistols sebagai perwakilan dari -apa yang kita sebut dengan-anarchist punk. Tapi tidak bisa dipungkiri juga, berkat mereka, subkultur Punk muncul ke permukaan sebagai sebuah ancaman, terutama bagi politik yang sudah mapan. Hingga banyak orang menjadi sedikit tersadarkan bahwa dunia ini sedang tidak baik-baik saja. Harus ada yang berani bersuara untuk membongkar semua itu. Dan, Punk, bisa dianggap sebagai salah satu arus yang paling deras menghantam. Dibuktikan dengan seberapa keras dan seberapa seraknya kita bernyanyi di panggung.

Tapi sesungguhnya kita agak canggung mengenai makna Punk di satu sisi, dan Anarkisme di sisi lain. Apakah keduanya bisa berjalan seirama? Satunya tentang musik, dan yang lain tentang politik. Sulit untuk menggabungkan. Tapi kita bisa sekedar ambil contoh di era 60-an, saat generasi hippies mampu memadukan musik, gaya hidup, dan asosiasi politiknya untuk “sedikit” merubah tatanan hidup masyarakat. Kenapa “sedikit”? Karena memang tidak berpengaruh besar dan hanya sebentar saja. Terkecuali buat nostalgia di hari tua, mengenang masa muda penuh ugal-ugalan. Selebihnya, tidak meninggalkan jejak berarti.

Begitu pula dengan Punk. Sempat jaya di era 80-an, tapi kemudian redup pada periode 90-an, bahkan mati sama sekali pada era sekarang ini. Pertanyaan besarnya, apakah Punk sudah kehabisan tema politik? Atau mereka menemukan kebosanan dalam mengulangi slogan-slogan yang usang? Padahal politik semakin berinovasi meliuk-liuk mengelabui siapapun yang buta terhadap politik. Apakah Punk lupa, bahwa dirinya diciptakan untuk menjadi anjing herder bagi tiap perampok hak-hak individual?

Kemudian tiba-tiba, Johny Rotten datang membawa pesan perdamaian dengan demokrasi. Sebuah hal yang amat bertentangan dengan cara berpikir seorang anarkis (kalau saja Rotten masih ingat, dulu dia pernah ‘meracuni’ banyak anak muda di seluruh dunia dengan logatnya berkata: I am Anarchista!). Benar kata CRASS, pionir Anarcho-Punk (yang bisa lebih dipercaya), mengatakan kalau Sex Pistols sendiri tidak mengerti apa itu Anarkisme, sehingga CRASS perlu sedikit bertindak seperti Satpam Ideologi untuk meluruskan cara berpikir Punk yang benar.

Kalau memang Anarkisme berslogan tentang ‘Against All Authority’, itu juga berlaku buat kekuasaan pemerintah, hukum, jaksa, hakim, polisi, militer, dan segala bentuk struktur dalam masyarakat kita. Seharusnya tidak ada kata perdamaian dengan demokrasi. Sebab, berpartisipasi dalam demokrasi berarti memperkuat otoritas, melestarikan perilaku otoritarianisme, dan membuat struktur masyarakat makin kuat. Padahal penghancuran semua sistem adalah sasaran utama Anarkisme.

Tapi apakah kita bisa menyalahkan begitu saja cara berpikir Johny Rotten? Dia tidak sepenuhnya salah. Walaupun tidak sepenuhnya benar juga. Mari perhatikan kata-katanya:

“If you’re not voting, not contributing, you’re demanding to be ignored. Not very smart at all. You don’t get nothing because you’ve done nothing. Stand up and be counted, make your voice heard or else you’re just going to fade into insignificance”

Kalau kalian tidak berpartisipasi, kalian tidak dianggap, bahkan tidak dipedulikan. Kalian tidak mendapat apa-apa, karena memang tidak melakukan apa-apa. Jadi buatlah suara kalian terdengar dan berpengaruh. Di akhir ucapannya, dia bilang “Nevermind Anarchism”. Maksudnya, ya tidak ada masalah lagi dengan Anarchism. Semua harus bergerak dan berpartisipasi lebih jauh dalam politik, bukan sekedar menebar slogan. Contoh yang paling kongkrit seperti apa yang pernah dilakukan Jello Biafra, frontman Dead Kennedys, dengan ikut terjun dalam bursa pemilihan Walikota tempat dia tinggal.

Meskipun pandangan Rotten ini agak bermasalah dalam teori anarkisme secara umum. Tapi masalah utamanya, untuk meyakini Anarkisme, Punk harus bersandar pada siapa lagi? apakah kita bisa percaya pada Steve Ignorant, yang kini kerjanya sehari-hari hanya menjual ‘revolusi’ lewat emblem-emblem CRASS yang terkenal itu. Agaknya dia konsisten dengan liriknya yang berkata kalau Punk memang sebuah komoditi. Maka dieksplorasilah itu semua demi kepentingan komersial. Bahkan kita juga tidak percaya, bahwa Black Flag, dulu yang teramat kental pandangan politisnya, bahkan kini sedang ribut sendiri berebut hak cipta sebuah nama “Black Flag” yang berarti “Bendera Hitam”, lambang kebanggaan Anarakisme yang kini bernilai jutaan dollar itu. Ternyata mereka semua sama. Pragmatis.

Jadi, biarkanlah anarkisme itu berkembang dalam versinya masing-masing. Begitu juga Punk. Mereka berdua tidak bisa di-paten-kan. Semua orang boleh punya pandangannya masing-masing, bagaimana Punk/Anarkisme itu sendiri bisa diartikan. Sebab kalau ada orang yang berani-berani mendoktrinkan Punk harus begini dan harus begitu, berarti dia telah mengangkat dirinya seperti ‘Authority’ dimana kita sepakat untuk tidak sepakat pada hal tersebut.

Lagipula, apa yang diucapkan Rotten sendiri sudah diamini oleh beberapa kalangan Punk di Indonesia, bahkan jauh-jauh hari sebelum Rotten memuntahkan kata-katanya. Pernah kita saksikan beberapa pamflet gigs/konser oleh beberapa komunitas musisi atau bahkan Punkers, yang terang-terangan memihak pada arus politik tertentu pada saat musim politik berlangsung. Sekarang kalian tanggung resiko berdamai itu. Selamat!

-Kamerad Bokirov-

2 comments

  1. ucok al ghifary

    ”Lagipula, apa yang diucapkan Rotten sendiri sudah diamini oleh beberapa kalangan Punk di Indonesia, bahkan jauh-jauh hari sebelum Rotten memuntahkan kata-katanya. Pernah kita saksikan beberapa pamflet gigs/konser oleh beberapa komunitas musisi atau bahkan Punkers, yang terang-terangan memihak pada arus politik tertentu pada saat musim politik berlangsung. Sekarang kalian tanggung resiko berdamai itu. Selamat!” np milisi kecoa-Punkrock, Terdomestikasi.

    ”Jadi, biarkanlah anarkisme itu berkembang dalam versinya masing-masing. Begitu juga Punk. Mereka berdua tidak bisa di-paten-kan. Semua orang boleh punya pandangannya masing-masing, bagaimana Punk/Anarkisme itu sendiri bisa diartikan. Sebab kalau ada orang yang berani-berani mendoktrinkan Punk harus begini dan harus begitu, berarti dia telah mengangkat dirinya seperti ‘Authority’ dimana kita sepakat untuk tidak sepakat pada hal tersebut.”
    ………………..adalah hal yang lucu bila punk dan segala bentuk tetek bengek anarkismenya mempermasalahkan hak cipta! :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.