Home / Artikel / Opini Hatkor! / Punya Band, Tapi Nggak Laku-Laku? Dengerin Saran Arian Seringai, Eben Burgerkill, Erix Kamtis, dan Otong Koil ini!

Punya Band, Tapi Nggak Laku-Laku? Dengerin Saran Arian Seringai, Eben Burgerkill, Erix Kamtis, dan Otong Koil ini!

KONTERKULTUR–Kali ini konter kultur mengangkat salah satu tulisan Che Cupumanik yang berjudul “Udah Lama Bikin Band Dan Punya Album, Tapi Gak Punya Penggemar. Kenapa Nasib Band Kamu Sebutut Itu?” di web supermusic.id. Kami meringkasnya agar lebih ringan dan mudah diingat. Terutama bagi kalian yang benar-benar serius di musik.

Di tulisan itu, Che Cupumanik menyajikan wawancara singkat dengan para dedengkot band yang dulunya indie namun sekarang berkembang pesat dan beranjak jadi band besar, bahkan mengalahkan band-band mainstream. Che mewawancarai Arian (Seringai), Otong (Koil), Eben (Burgerkill), dan Erix (Endank Soekamti). Mereka pun secara blak-blakan membuka “rahasia dapur” mengapa band mereka tetap eksis di tengah kerasnya persaingan blantika musik Indonesia. “Saya bongkar isi kepala mereka (para sesepuh), untuk saya curi ilmu mereka, demi kemajuan bersama” ungkap Che.

Alasan utama Che menulis ini untuk menjawab kegelisahan band-band yang frustasi dalam mengembangkan diri. Ujung-ujungnya, personil band jadi tidak percaya diri, menganggap musik tidak bisa menjadi sandaran hidup dan mereka pun memilih bubar. Padahal potensi band-band indie di era sekarang ini sangat besar. Tentu seleksi alam akan terjadi. Yang terbaik akan keluar sebagai pemenang.

Berikut beberapa poin yang perlu diingat:

1. Karya Berkualitas Harga Mati

Karya adalah nafas bagi seorang seniman. Apabila seniman sudah tidak lagi berkarya, mereka boleh dikatakan “mati”. Karya juga modal awal seorang seniman. Seniman yang belum punya karya (seperti misalnya, masih suka cover-cover lagu orang) bisa diangap seniman ilegal. Ibarat supir belum punya SIM.

Karya juga tidak harus mewah. Boleh sekedar aransemen ulang atau hanya sebuah single, bikin EP, ataupun full album sekalian. Pokoknya, ada usaha kreatif yang dilahirkan. Proses kreatif itulah yang akan dinilai publik. Sejauh mana potensi band tersebut cocok dengan kebutuhan dan selera publik.

Pandangan ini sejalan dengan pandangan keempat sesepuh yang diwawancarai Che. Masalah utama band yang tidak berkembang itu, kata Arian, disebabkan karena “Karyanya jelek, materi jelek dan promonya gak bagus,”.

Sedangkan Otong mengungkapkan hal yang senada. “Bikin lagu yang bagus. Karya tuh harus sebagus mungkin. Karya yang nonjok. Kalo lo bikin karya yang nonjok, sampai kapan pun orang akan suka,” kata vokalis yang telah eksis sejak tahun 1993 ini.

Lagi-lagi senada. Eben menyatakan hal yang hampir mirip. “Bikin album yang bagus. Karya itu di atas segalanya. Burgerkill juga bikin album terus dan itu syarat biar ada sesuatu yang baru yang mau dikasih ke fans. Kalau kita mau bersentuhan lagi kan harus ada yang ditawarin dong. Karya yang bagus itu seperti makanan. Penyuka musik pasti mencari musik terbaik yang dia suka. Orang kan juga maunya makan makanan yang enak. Kalau sudah punya materi yang layak didengar, kita harus pede, karena penggemar yang akan mengikuti selera kita. BK sih nggak begitu peduli selera pasar,” ungkap gitaris yang juga pendiri superband asal Bandung, Burgerkill.

Sementara itu, Erix mengartikan karya lebih luas lagi. Erix menekankan proses kreatif lebih berarti apabila dilakukan secara kolektif (dengan melibatkan fans). Selain bikin lagu, mereka bikin video catatan harian secara berkala. Mereka juga kreatif dengan artwork bernuansa modern. “Kami bikin album dengan melibatkan fans untuk berkontribusi, seperti saat kami bikin album di Lombok. Itu jadi ajang silaturahmi dengan fans. Momen itu bahkan yang melahirkan lagu Soekamti Day.”

Sepertinya, dari penjelasan di atas, karya yang bagus itu sudah harga mati, nggak bisa ditawar lagi. Kecuali kalau kalian masih betah jadi band kacangan.

2. Strategi Promosi yang Baik, Satu-Satunya Pintu Menuju Sukses

Marketing adalah ilmu tertua di dunia. Orang menggunakan marketing untuk membangun peradaban. Marketing bukan sekedar proses “menjual sesuatu”, tapi dengan marketing, orang bisa merubah dunia.

Marketing tidak melulu soal ekonomi. Politik ada marketingnya sendiri. Sosial ada marketingnya sendiri. Hukum juga begitu. Boleh dibilang, tidak ada satupun sendi kehidupan yang tidak terpengaruh konsep marketing. Apalagi musik. Kegunaanya luar biasa. Kehadiran orang di luar band seperti producer, promotor, event organizer dll adalah salah satu refleksi pentingnya marketing di dunia musik.

Otong Koil bikin satu teori tentang pentingnya promosi. “Gini ya Che, kalo lo mau punya banyak penggemar, band lo harus main di TV, jalan menuju apapun di Negara ini no. 1 harus lewat TV, kita jadi diperhatiin orang, diomongin orang. Coba aja orang punya obrolan yang sama, pada suka bola, sangat peduli berbagai hal, itu karena orang-orang itu pada nonton TV, semua orang nonton TV, ya kalo gue sih gak nonton”.

Otong Koil benar. TV itu salah satu simbol raksasa media yang bisa mempengaruhi banyak kepala hanya dalam waktu singkat. Mungkin sekarang eranya lebih berkembang. Orang bisa memanfaatkan Youtube (sebagai pengganti TV) dan sosial media sebagai pengganti koran. Ada juga beberapa situs berbagi lagu yang cukup populer, mungkin dulu kita mengenal myspace sebagai salah satu pionirnya.

Hampir senada, Arian juga fokus agar band punya link ke media, seperti TV dll. Tapi selain itu, dia juga bicara agar promosi memiliki karakter yang menggambarkan band tersebut. Dengan begitu, fans memiliki kebanggaan karena kesamaan identik dengan band idolanya. “Harus punya sesuatu yang disukai dari musik, dari personality-nya dan karakter band-nya”.

Sementara itu, Eben BK lebih menekankan eksistensi lewat banyaknya intensitas manggung. “Manggung terus aja dulu, karena BK terbentuk tahun 1995, dan 1998 baru punya demo rekaman, dan di tahun 2000 baru rilis album, rentang waktu sebelum rilis kita main aja terus, begitu rilis album, orang tinggal makan”.

Burgerkill sendiri berusaha konsisten berbagi dengan fans mereka, salah satu cara promosi paling sederhana. “BK sadar kita harus sharing ke penggemar, apa yang gue dapet, yang BK dapet harus di share, contohnya BK baru tour Eropa, pas pulang bikin pameran fotografi dan video,”.

Eben menambahkan, “Eksistensi terus, propaganda terus, promosiin musik lo yang bener, lakuin direct selling, samperin pembeli, manggung terus di mana pun, jangan pikirin uangnya dulu. Keuntungan yang udah dirasain BK: Loyalitas Begundal akhirnya makin kuat, kita gak khawatir main dimanapun ada mereka, si band jadi punya power”

Sedangkan Erix Kamtis, mengungkapkan kesannya tentang awal band Endank Soekamti berdiri. “Tahun 2003 juga kita masih goblok Che, gak tau caranya. Tapi dari dulu kita emang udah gak aman, coba Che, dari nama band aja kita udah culun, gak keren, personil gak ganteng, dulu aku bikin sticker gak ada yang mau nempel.”

Hampir senada dengan Burgerkill, Endank juga rajin mendokumentasikan kegiatan mereka kemudian di-share ke fans.“Intinya jangan sekedar komunikasi melalui karya,”.

Endank juga membuat album kompilasi dengan beberapa band seperti CJR, Cherrybelle, Slank, Naif, Gigi dan Pure Saturday dalam album Kolaborasoe, agar karya Endank lebih didengar oleh berbagai pecinta musik yang berbeda aliran. Mungkin ini taktik promosi yang jitu untuk mendongkrak penjualan album.

3. Fans, Nyawa Sebenarnya dari Sebuah Band

Di antara keempat orang ini, Erix yang paling bersemangat membicarakan fans. Endank Soekamti sendiri memang dikenal sebagai band dengan massa membludak. Coba lihat follower di facebook dan twitternya. Gila! Di facebook ada hampir 2 juta likers dan di twitter ada setengah juta follower. Bayangkan! Kalaupun seandainya band ini tidak ada job, band ini punya potensi mendirikan Partai Endank Soekamti buat ikutan pemilu. Siapa tahu ada yang jadi pejabat. Hehe.

Menurut data, Endank Soekamti memang juara dalam hal jumlah pengikut. Peringkat kedua diduduki Burgerkill (1,3 juta likers Facebook dan setengah juta follower twitter). Posisi ketiga ditempati Seringai (750 ribuan likers dan 140 ribuan follower). Dan di peringkat paling buncit ada Koil dengan “hanya” 200 ribuan penggemar.

Angka ini merupakan cerminan dari bagaimana cara band “memelihara” fans mereka. Prinsipnya, siapa yang getol blusukan fans, itulah yang paling cepat pertumbuhan fanbase-nya. Hal itu sudah terlihat dari cara keempat orang ini menjawab pertanyaan dari Che soal bagaimana merawat fans yang benar. Erix memang “ngotot” banget kalau bicara tentang fans. Dan, Otong harus mengakui kesalahan masa lalunya yang membiarkan fans tidak terurus.

Erix menjelaskan,”“Menurut pengamatan ku Che, tipe fans itu ada 3, yang pertama adalah Die Hard, ini lingkarannya kecil, hapal semua lagu, fanatik, dan kita akan didengar, dituruti, apa pun yang kita pake mereka ikutin. Apapun yang kita minta dituruti. Tipe yang ke dua namanya Fans, orang-orang ini kadarnya lebih rendah dari Die Hard, mereka mencintai kita, tapi juga mencintai band lain. Mereka merasa memiliki Soekamti, tapi juga memiliki band lain yang mereka suka. Nah tipe yang ke 3 adalah Listener, mereka lingkarannya lebih besar, gak fanatik, belum tentu tau semua lagu, tapi mereka juga suka banget lagu kita, mereka bisa bilang kalo lirik lagu lo gue banget. Listener ini belum tentu tau nama personil, tapi orang-orang seperti ini banyak banget.”

Erix pun menutup dengan kalimat. “Nah kalo band udah bisa memetakan mereka, kita jadi tau harus pake teknik pemasaran seperti apa.” Dia pun menaruh hormat kepada para fansnya. “Kamtis seperti bensin, bahan bakar kita dalam melakukan apapun, mereka alasan kami bisa berdiri dalam melakukan hal hebat, bahkan pemicu kami dalam melakukan hal yang gak mungkin menjadi mungkin,”.

Keren kan?

Sekarang, dengarkan pengakuan dari Otong Koil. “Salah satu kesalahan gue ya itu, gak memelihara fans, padahal Koil punya potensi, tapi Koil malah males-malesan, mungkin karena kita gak terdidik ke arah sana, soalnya semua personil Koil juga orangnya Introvert. Koil gak pernah bikin fans gathering, mungkin karena gue gak nyaman, gue tuh gak bisa berada dalam sebuah kondisi ngumpul dikelilingi orang yang kagum sama gue, kalo di panggung kan jarak sama penonton jauh”.

Otong Koil bahkan berani jujur ketika ditanya Che,”Jadi lo melihat fans seperti apa?”. Otong pun menjawab, “Fans adalah konsumen, mereka adalah uang”.

Hampir mirip dengan kondisi Koil, Arian Seringai mengaku agak kesulitan mengembangkan fanbase. “Kita harus punya link untuk tampil di media seperti TV, dengan itu fanbase jadi nambah. Cuma Seringai gak punya program, ga punya rencana membesarkan fanbase. Kita cuma main aja terus di tempat yang jarang dikunjungi. Mungkin aktif juga di sosmed, like nambah di facebook, jadi lebih banyak yang dengerin karya kita”. Arian pun melihat fanbase sebagai potensi daya tarik EO, sehingga band bisa tetap eksis tampil dimana-mana.

Sementara itu, Eben memberikan satu tips yang harus dipegang band-band baru. “Intinya lo harus membaur. Lo nggak bisa jadi rockstar. Meskipun cuma satu atau dua orang, kita rela menanggapi permintaan mereka untuk foto bareng,”. Dan ini yang perlu diingat,”Serajin apapun lo aktif di sosmed, percuma kalo lo nggak deket sama penggemar dan nggak bikin karya. Apa yang mau lo kasih? tutur Eben.

Itulah sekumpulan petuah dari para sesepuh. Kalau bisa disimpulkan, ada tiga hal yang harus diingat: Karya, Promosi, dan Fans. Dan, terakhir, yang paling penting lagi: “Jangan Pernah Berpikir Jalan Pintas”. Karena sesuatu yang didapat dengan mudah, akan hilang dengan mudah juga.*[]

Oleh: Asep Nyungsep “Makasih Che atas sharingnya!”

9 comments

  1. Well. Ok ya sudah sdkit numpang PROMOsi nih Min ,MaaF kalo berKenan coba intip YOUTUBE ( My SCOOTER by STUPID Bnd )

    *salah Satu BAND INDIE MALANG ,MaaF. klo suka dan berKenan

  2. gak penting! :p

  3. oh jadi si che bikin band biar dpet fans? biar trknal gt?

    wah dah jadi industri yak brarti :p

    • lah lu ngeben, bikin musik buat apa? buat hobi? yaudah genjreng sendiri dikamar lu, musik lu disuka dan bikin banyak yang ngikutin apa itu salah? lu punya musik bagus dan pengen semua orang denger apa yang lu bikin apa itu salah? mikir, ada musisi yang gantungin hidupnya hanya dari musik, apa salah kalo dapat duit dari situ, apa dia harus kerja dikantoran atau jadi pns buat bikin dapur ngebul? lu idealis apa naif broer?

    • Hahaha konyol banget nih komen, seidealis-idealisnya band pasti butuh fans bro !
      walaupun dalam kalangan tertentu, lu butuh terkenal juga bro. Kalo band dan karya lu gak dikenal, siapa yg mau dengerin ? paling cuma org lewat doang yg baru denger lagu lo beberapa detik terus langsung cabut. lol
      don’t be naive

  4. sukses terus untuk band para sesepuh dia atas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.