Home / Artikel / Opini Hatkor! / Radikalisme Punk Sangat Tergantung dengan Kondisi Politik di Indonesia

Radikalisme Punk Sangat Tergantung dengan Kondisi Politik di Indonesia

KONTERKULTUR—Meskipun saya bukan orang yang paling paham tentang punk, tapi paling enggak saya pernah jadi saksi mata bagaimana perkembangan punk di beberapa kota seperti Bandung, Jakarta dan sekitarnya, Surabaya, Jogja dan Malang sejak tahun 1997 hingga saat ini. Meskipun mungkin apa yang saya interpretasikan dalam tulisan ini tentang kondisi punk ketika itu hingga kini tidak sepenuhnya benar, tapi paling tidak ini bisa menjadi salah satu alternatif analisa bahwa ternyata perkembangan scene punk di tanah air kita ini sangat-sangat dipengaruhi oleh kondisi politik Indonesia saat itu.

Saya ingat betul, saat masih SMP, masih pakai celana pendek warna biru dongker, tahun 1995 saya mengenal punk pertama kalinya. Waktu itu saya hanya tahu Green Day dan Offspring saja. Emang kebetulan punk menjadi mainstream gara-gara dua band itu sering nongol di MTV yang dulu masih ngontrak di ANTV. Jujur saja. Awal mengenal punk, MTV adalah produk paling berjasa dalam hal ini. Meski kemudian saya merasa konyol aja ketika udah SMA saya tahu bahwa seharusnya punk tidak boleh berkompromi dengan kapitalisme macam MTV.

Saat punk baru masuk Indonesia berupa rilisan-rilisan kaset dan video-video klip di MTV, saya tahu betul bahwa punk masuk hanya sebatas subkultur. Budaya anti-mainstream yang menjadi alternatif pilihan buat anak-anak muda jaman itu. Sama sekali nggak ada minat bagi para penggemar musik punk untuk melihat punk sebagai kultur-perlawanan alias counter culture. Makanya, saat itu punk sama sekali nggak punya taring. Nggak pernah menjadi ancaman apapun bagi ‘musuh-musuh’nya (baca: kapitalisme, pemerintah, dll).

Nah, sampai titik dimana pemerintahan orde baru mulai ketahuan bobroknya, masyarakat mulai sadar, pers mulai mengangkat opini tentang kezaliman pemerintah Soeharto, disitulah punk mulai politis. Punk yang tadinya hanya sekedar bermusik, tiba-tiba muncul kolektif-kolektif perlawanan yang tujuannya sangat politis: mengorganisir teman-teman untuk melakukan aksi, membuat band dengan lirik yang lebih berani dalam mengkritik pemerintah, membuat artwork-artwork, zine, dan diskusi-diskusi yang mengarah lebih ideologis banget.

Disinilah puncaknya, sekitar tahun 1997-an, dimana tiba-tiba teman-teman yang nggak mau melek politik dan kondisi sosial dianggap sampah, poser, apatis, dan nggak layak mengaku punk.

Dampak dari kondisi ini, banyak band-band punk baru bermunculan dengan mengusung lirik-lirik lagu yang lebih berani. Berdandan lebih serius dan aksi panggung yang radikal. Saya ingat betul ada band punk yang rela manggung di event besar yang disponsori McD demi bisa menghancurkan alat-alat band di atas panggung sebagai bentuk perlawanan kepada korporasi itu. Pokoknya saat itu makin radikal, ekstrim, brutal, maka akan makin disukai!

Bukan cuma band, zine-zine pun dulu nggak kalah ekstrim isinya. Mulai tips-tips mengutil, merusak fasilitas umum, merusak mobil polisi, membuat molotov, dan semacamnya benar-benar menjadi pembahasan yang biasa dikalangan zine hardcore/punk. Dulu, saat kondisi politik memanas seperti saat lengsernya Soeharto, saat itu pula puncak radikalisme scene punk di Indonesia.

Namun, lambat laun, kondisi politik semakin kelihatan ‘stabil’. Meskipun sebenernya nggak gitu-gitu amat, tapi udah nggak memanas lagi seperti jaman Soeharto. Maka band-band punk di Indonesia mulai surut semangatnya. Taring mereka mulai tumpul karena udah nggak ada lagi yang seru untuk dilawan. Paling-paling cuma isu kecil, yang timbul tenggelam dengan cepat. Bahkan di era tahun 2000an hingga sekarang, kalau ada band hardcore-punk yang cenderung radikal, malah nggak banyak yang ngasih support layaknya dulu di era akhir 90an. Kini band radikal justru terkesan aneh dan ketinggalan jaman. Bahkan sebagian teman-teman di scene punk sendiri mengakui bahwa kondisi sudah berubah dan menjadi radikal sudah cenderung nggak relevan.

Era 2010an keatas adalah era punk bertransformasi menjadi alat untuk melampiaskan kesenangan. Band-band yang dulu pernah vakum setelah ‘era radikal’ berakhir, kini mulai banyak melakukan reuni, dan manggung lagi. Namun kondisi mereka sudah berbeda. Kini mereka muncul dengan sudah punya istri dan anak, perutnya udah buncit, dan nggak radikal lagi seperti dulu. Mereka muncul dan reuni cuma buat bersenang-senang sambil mengingat masa-masa kejayaan dahulu. Bukan sebagai ancaman bagi musuh-musuh yang dulu pernah mereka lawan.

Saya hargai teman-teman yang kini bermunculan lagi untuk reuni dan mulai bikin gigs rutin. Tapi apa yang mereka lakukan itu nggak punya arti apa-apa lagi selain urusan pribadi: ingin bersenang-senang dan bernostalgia. Menurut saya kalau Cuma itu tujuannya, mending nggak usah bikin band punk. Akan jauh lebih indah kalau nostalgia tuh bikin band mellow aja.

Para pembaca tulisan ini silakan kalau tidak sependapat dengan saya. Saya hanya mencoba untuk kritis terhadap situasi yang memang kenyataannya demikian. Awalnya saya memang marah ketika ada slogan-slogan bahwa punk sudah mati. Tapi setelah saya pikirkan kembali, slogan itu ada benarnya, bahkan mungkin 100% benar.*[]

Oleh: Efredi

2 comments

  1. Efek rumah kaca masih Punk bung!

  2. Kurang berkesan , puter dulu ah lagunye Bunga hitam – Dukung yang berikutnya !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.