Home / Artikel / Celoteh Agen KK / Sampai Kapan Mau Tetap DIY?

Sampai Kapan Mau Tetap DIY?

KONTERKULTUR—Suatu hari saya bertemu salah seorang teman yang dulu pernah mengundang saya untuk ikut sebuah event yang dia adakan. Nama event itu menggunakan istilah yang sama dengan singkatan do it yourself (DIY) karena memang secara filosofis dia sangat tertarik dengan prinsip-prinsip kemandirian itu.

Saat beberapa hari yang lalu ketemu, dia mengingatkan bahwa akan ada acara yang sama yang menjadi kelanjutan dari acara-acara sebelumnya di tahun-tahun sebelumnya pula. Entah kenapa tiba-tiba mulut saya tercetus untuk menyarankan kepadanya agar mendiskusikan tentang pertanyaan, “sampai kapan kita tetap DIY?”

Saat itu terpikir begitu saja pertanyaan tersebut karena saya melihat betapa semangatnya teman saya itu hingga prinsip-prinsip kemandirian yang dia lakukan dan dia banggakan itu sebenarnya juga nggak DIY-DIY amat. Bahkan bagi saya, di jaman sekarang ini, nggak ada satupun orang yang bisa bertahan memegang prinsip do it yourself secara kaffah (baca: totalitas).

Saat saya usul demikian, dia sendiri mengakui memang nggak mungkin kita murni DIY. Alasannya yang paling saya ingat saat itu adalah, “Jaman kan udah berubah. DIY yang dulu dengan DIY yang sekarang jelas beda, lah.”

Kurang lebih seperti itu kalimatnya.

Nah, berarti dia tahu benar bahwa DIY memang nggak bisa benar-benar diterapin di kehidupan kita secara totalitas. Susah. Dan jaman sudah berubah. That’s right! Lalu pertanyaannya, kenapa mesti pakai-pakai istilah DIY segala, sedangkan jelas terang-terangan DIY sudah nggak lagi relevan diterapkan? DIY yang dilakukan setengah-setengah namanya bukan DIY, lah..!

Bahkan hidup mandiri yang di klaim oleh Steve Ignorance dalam film dokumentasi CRASS “There’s No Authority But Yourself” pun menurut saya tidak benar-benar DIY. Mereka tetap bergantung pada alat-alat sehari-hari yang tidak bisa mereka bikin sendiri. Mereka tetap membutuhkan produk-produk kapitalisme seperti komputer dan internet untuk berkomunikasi, sedangkan itu jelas tidak dapat mereka ciptakan sendiri.

Maka menurut saya DIY adalah prinsip hidup yang omong kosong. Jika yang ingin dikatakan adalah “saya sedang belajar mandiri, mas..,” maka nggak perlu sok keren dengan mengatakan “saya penganut prinsip do it yourself!

Karena menurut saya itu lebay…*[]

 

Oleh: Pejantan Tanggung

Editor: Aik

One comment

  1. DIY adalah bila kita bisa melakukan sendiri kenapa harus minta bantuan orang lain? kalo saya bisa cuci piring sendiri kenapa harus menunggu orang lain (ibu,kakak,adik ato pembantu) yg melakukannya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.