Home / Artikel / Celoteh Agen KK / Saya Nggak Mau Mati Ditempat itu…
ilustrasi: punk yang sedang berdansa saat ada acara konser (sumber foto: hdrjournal.wordpress.com)

Saya Nggak Mau Mati Ditempat itu…

ilustrasi: punk yang sedang berdansa saat ada acara konser (sumber foto: hdrjournal.wordpress.com)

ilustrasi: punk yang sedang berdansa saat ada acara konser (sumber foto: hdrjournal.wordpress.com)

KONTERKULTUR—Teman-teman saya dulu saat masih aktif di scene punk tanpa kita sadari satu persatu meninggal. Sempat terdengar bagaimana mereka meninggal. Ada yang overdosis obat bius, ada yang terserang penyakit kanker hati akibat terlalu sering minum alkohol, ada juga yang sakit paru-paru akibat merokok, dan masih banyak lagi. Ini belum yang dulu saat saya masih aktif di scene, teman-teman di berbagai kota ada saja kejadian yang akhirnya merenggut nyawa seseorang. Ada yang meninggal karena stage diving, ada yang nonton konser punk lalu kecapekan dan lupa makan, dan masih banyak lainnya.

Kita semua pasti tahu bahwa kematian memang selalu datang mendadak. Sewaktu-waktu. Tanpa perjanjian waktu dengan kita. Maka banyak diantara kita yang tidak menyiapkan bekal apapun untuk menghadapinya. Bagi orang-orang yang sama sekali tidak berilmu tentang apa itu kematian, dan apa yang akan terjadi setelahnya, mungkin kebanyakan mereka justru bersantai-santai saja. Tapi bagi yang paham, mereka akan berlomba-lomba menyiapkan bekal kematian mereka masing-masing.

Saya nggak bisa membayangkan bagaimana sakitnya malaikat maut ketika mencabut nyawa seseorang. Bahkan orang sekelas Nabi Muhammad Saw saja yang jelas-jelas dijamin masuk surga dan bergelimang kemuliaan dunia-akhirat tetap saja merasa kesakitan saat malaikat maut mencabut nyawa beliau.

Coba bayangkan bagaimana Allah mencabut nyawa orang-orang yang mati karena overdosis? Bayangkan bagaimana orang-orang yang mati saat mabuk, moshing saat konser, atau saat sedang berada ditempat-tempat maksiat? Na’udzubillah..

Itulah kenapa,.. itulah kenapa pada tahun 2005 lalu, saya mulai merasa gelisah ketika manggung bersama teman-teman saat itu. Sambil menunggu giliran main, saya berdiri disamping panggung sambil memandangi apa yang dilakukan orang-orang saat event musik underground kala itu. Saya melihat band-band black metal melakukan ritual-ritual sadis, para penontonnya mengacungkan telunjuk dan kelingkingnya sambil menyembah-nyembah kearah sang vokalis. Begitu pula dengan band-band punk maupun hardcorenya yang berteriak-teriak kesana kemari sambil mengelilingi panggung. Penontonnya pun demikian. Mereka begitu bersemangat sekali. Sedangkan disudut-sudut ruangan tempat diadakannya event itu terdapat puluhan bahkan ratusan muda-mudi yang menonton konser sambil menyeruput Es Cukrik yang dibungkus plastik, menghisap ganja dan rokok.

Saat itu saya bertanya dalam hati.

“Bagaimana jika aku mati ditempat ini?”

“Bagaimana jika nanti ketika aku diatas panggung kemudian Allah memberiku serangan jantung?”

“Bagaimana jika setelah aku mati disini lalu seluruh keluargaku tahu seperti apa parahnya tempat ini?”

“Meski aku saat itu nggak ikutan mabuk dan merokok, tapi kalau aku mati ditempat ini apakah itu tidak akan mencemarkan nama baikku sendiri?”

Pikiran itu terus mendengung ditelinga saya. Saat diatas panggung pun demikian. Seluruh lagu-lagu yang saya mainkan seperti hampa dan nggak ada gregetnya. Sampai akhirnya hati saya mantab. Saya harus memutuskan sesuatu sebelum terlambat.

Saat turun panggung, meski keringat belum sempat kering, saya temui teman-teman satu band. Saya katakan kepada mereka:

“Maaf teman-teman, setelah ini kalian boleh lanjutkan nge-band tanpa saya… Saya keluar dari band.”

Ini keputusan yang nggak bisa diganggu gugat lagi.

Saya merasa sangat lega setelah mengucapkannya…

Thank you Allah.. atas petunjuknya.

“I don’t wanna die in that place…” ucap saya dalam hati.*[]

 

Oleh: Pejantan Tanggung

Editor: Aik

One comment

  1. haha..punk tobat..iya saya mendukung anda keluar dari scene..mending jadi jamaah sholawat habib syech jelas bikin hati tentram..salut!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*