Home / Artikel / Opini Hatkor! / Seandainya Milih Presiden Juga Bergaransi

Seandainya Milih Presiden Juga Bergaransi

KONTERKULTUR–If you buy an apple but you get a pear. You would complain it would not be fair” (Captain SKA).

Saat ingin beli barang, selain soal harga, kadang-kadang soal kualitas, kita juga timbang-menimbang soal garansi. Berapa lama garansinya? Garansi penuh atau sebagian?

Nah, kalau barang ini garansinya lama, tentu motivasi membeli kita jadi meningkat. Seringkali deal-deal jual-beli terjadi karena rasa aman bergaransi.

Tapi pengalaman saya, garansi itu bullshit. Sebelum membeli kita dihipnotis mbak-mbak penjual. “Jadi bapak kalau beli barang ini, garansi 3 tahun, semua kerusakan kita ganti. Bahkan kalau mati total, kita ganti yang baru. Semua baru!” ujar mbak-mbak sales cantik ini mencoba meyakinkan.

Berbekal cuap-cuap si mbak cantik, maka kita tak lagi pikir matang-matang. “Nah, bapak bawa kuitansi ini kalau mau ambil garansi”. Cuma gitu doang? Ah, gampang sekali syaratnya. Akhirnya kita pulang menenteng barang belian kita dengan senang hati.

Eh, tanpa disangka, ternyata 3 hari kemudian barang itu ngadat. Entah apa sebabnya. Mungkin gara-gara murah. Meskipun, kalau dibilang murah pun tidak juga. Hanya trend yang bikin sesuatu itu mahal atau murah. Kalau sudah trend, apapun jadi terasa murah.

Karena rusak, pasti dong kita datang ke tempat kita beli. Kita ajukan klaim garansi. “Mbak, saya beli barang ini 3 hari lalu, kok tiba-tiba rusak? saya minta ganti yang baru,”. Si Mbak cantik yang 3 hari lalu ramah, kok dilipat mukanya? Jadi jutek, sok-sok nggak kenal.

“Bapak kapan beli?” jawabnya ketus. “Tiga hari lalu, masak nggak ingat?” pembeli malah jadi sopan, setengah memohon. “Ah, yang benar Pak, saya pasti hafal kalau masih 3 hari lalu,”. Sambil menunjukkan kuitansi lecek, pembeli mencoba bicara baik-baik,”Ini mbak, coba dibaca teliti,”.

“Kenapa lecek kuitansinya? Tulisannya juga sudah mulai kabur. Mana barangnya? sini saya lihat,”. Barang itu pun dicek di ‘dapur’ mereka.

Setengah jam kemudian, mereka datang lagi. “Maaf pak, kerusakan ini karena kesalahan Bapak. Kami tidak bisa menanggung garansinya kalau kesalahan dari pembeli” ujar sang ‘teknisi’ sambil menyebut istilah-istilah teknis yang membuat pembeli garuk-garuk kepala.

Logikanya sederhana saja. Mana ada perusahaan yang mau rugi? Mereka jual barang berapa, untungnya paling tak seberapa. Lalu, barang rusak minta diganti baru?

Hey bung, yang benar saja. Kami lebih percaya data-data quality control kami daripada penjelasan pembeli yang sangat awam. Tentu, tidak akan pernah ada penggantian penuh. Semua cuma cuap-cuap marketing.

Masalahnya, itu kalau soal barang. Ini soal presiden? Orang yang akan menentukan masa depan kalian. Meskipun tidak terlihat berefek secara langsung. Tapi, bila kalian salah memilih, tentu bisa berabe. Eksistensi sebuah bangsa dipertaruhkan.

Baru setahun, mereka sudah jualan ini -itu. Milyaran rupiah dihamburkan untuk membuat kalian yakin. Dan, saya ingin berhitung, berapa banyak kuitansi garansi yang kalian terima?

Sekarang presiden sudah terpilih. Artinya, kalian sudah membeli obralan janji mereka. Bila dalam perjalanannya presiden kita eror/malfunction, kemanakah kita harus menyampaikan kuitansi garansi? Dan yang paling penting, apa garansi kita diakui? Mana capnya?

Kami harap, presiden kami bukan mbak-mbak sales yang cantik tadi. Modal gincu tebal, membual begini-begitu tapi miskin implementasi. Seandainya suatu hari nanti, presiden bertindak begitu menyebalkan, sebagai konsumen, kita berhak adukan dia ke lembaga kepuasan konsumen. Tuntut hak konsumen. Kembalikan suara konsumen. Haha!*[KK]

Oleh: Bang Bokir

One comment

  1. Hate Speech (satirXsarkas)

    mahasiswi buruh tani rakyat miskin kota………………………………………………..
    ………………………………………………………………………….
    marilah kawan mari kita nyanyikan
    sebuah lagu tentang PENCITRAAN
    ……………………………………..
    ……………………………………
    dibawah kuasa tirani ……..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.