Home / News / Sound News / Sikap Tom Morello ‘ex-RATM’ Jika Ada Tawaran Manggung di Negara Penjajah
Tom Morello (youtube)

Sikap Tom Morello ‘ex-RATM’ Jika Ada Tawaran Manggung di Negara Penjajah

KONTERKULTUR—Mantan gitaris RAGE AGAINST THE MACHINE sekaligus aktivis politis, Tom Morello mengungkapkan sikapnya jika diberi tawaran manggung di negara penjajah Israel.Pernyataan itu disampaikan kepada The Huffington Post akhir tahun 2015 lalu.

Ditekan tentang masalah ini, Morello tidak memberikan jawaban yang tegas. Mengingat dulu sebelum bubar pada tahun 2000, RATM juga pernah manggung dua kali di negara penjajah Israel. Dia berkata, bahwa dulu ketika manggung disana, saat itu tidak ada aksi boikot yang sedang berlangsung.

“Saat itu nggak ada aksi boikot yang eksis,” katanya.

Meskipun pada saat RATM manggung di Israel sempat menentang penjajahan yang dilakukan negara fasis tersebut kepada bangsa Palestina di West Bank maupun Gaza, namun tetap saja aksi mereka itu membawa keuntungan bagi pemerintah Israel.

“Disana banyak juga para penggemar kami yang tidak setuju dengan kebijakan pemerintah mereka yang menjajah wilayah orang lain.” Kata Morello.

Tidak lama kemudian, kini muncul musisi-musisi yang menolak secara tegas untuk manggung di Israel sebagai bentuk protes terhadap penindasan yang dilakukan Israel kepada bangsa Palestina. Kampanye itu disebut Boycott, Divestment and Sanctions of Israel, yang berawal dari kelompok masyarakat sipil Palestina pada tahun 2005.

Gerakan BDS tersebut mengajak kepada masyarakat, pemerintah, maupun perusahaan-perusahaan, serta institusi lainnya untuk memboikot Israel sampai negara fasis itu mengembalikan tanah Palestina, nafkah yang setara kepada warga Palestina yang tinggal dijajahan Israel, serta hak-hak pengungsi Palestina sejak tahun 1948 untuk dikembalikan ke tempat tinggalnya sebelum dijajah.

Beberapa musisi yang menolak tegas untuk manggung di Israel adalah Devendra Banhart, Roger Waters (Pink Floyd), dan Elvis Costello.

Tom Morello pernah membuat video untuk kolaborasi dengan Kamilya Jubran pada tahun 2014 lalu yang didalamnya menggambarkan seorang anak Palestina yang menggunakan gitarnya untuk melakukan perlawanan politik kepada Israel.*[KK]

Rep: Marko

Red: Jamil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.