Home / News / Sound News / SUM 41 Berhenti Nge-Punk?
SUM 41 saat wawancara (youtube.com)

SUM 41 Berhenti Nge-Punk?

KONTERKULTUR–Bagi sebagian orang, Punk bisa diwakili oleh band-band semacam Greenday, Blink 182, atau SUM 41. Sehingga trend apapun yang dimunculkan oleh band-band tersebut bisa dianggap sebagai fatwa resmi bagaimana seorang Punk harus berpikir, bersikap, dan bahkan berdandan.

SUM 41 adalah band yang lumayan fenomenal pada awal era milenium. Tidak seperti Greenday dan Blink 182 yang lebih eksotis, SUM 41 menampilkan sosok yang lebih brutal dan kelihatan lebih Punk secara kasat mata. Coba saja lihat gaya rambut sang vokalis, Deryck Whibley, mirip seperti vokalis NOFX, Fat Mike, seakan-akan mereka adalah pelanggan pada satu salon penata rambut yang sama. Mantan suami Ratu Punk Avril Lavigne ini yang membawa SUM 41 menjadi salah satu anggota pasukan Punk MTV yang memperoleh kejayaan pada peralihan abad 20 dan 21.

Band dengan total penjualan album lebih dari 30 juta kopi ini memang agak aneh. Menggebrak dengan dua albumnya yang fenomenal bernuansa Pop-Punk (Half of Our Power dan All Killer No Filler), mereka malah pindah “agama” menjadi metal di album Does This Look Infected. Alhasil, mereka justru dikafir-kafirkan oleh para fans mereka yang kecewa atas perubahan genre ini.

Seakan tidak peduli, Deryck Cs makin menggeber dengan suasana gelap pada album berikutnya: Chuck dan Screeming Bloody Murder, meskipun pada pertengahan kedua album itu SUM 41 juga sempat meluncurkan album Underclass Hero yang merupakan pertobatannya pada aliran Pop-Punk. Murtadnya SUM 41 ini pada dasarnya memang sudah tercium jauh-jauh hari. Para fans mulai merasa ada yang aneh setelah SUM 41 lebih sering meng-cover lagu-lagu Iron Maiden, Metallica, dan Guns n Roses ketimbang band-band Punk legendaris.

Dalam wawancara dengan Knac.com, Jason McCaslin, sang basis, menceritakan perjalanan SUM 41. “Kami memulai karir di jalur Pop Punk. Kami senang punya banyak sekali fans. Mereka memborong dua album perdana kami dengan penuh antusiasme. Ketika kami berubah menjadi metal, sebagian mereka pergi dan mencemooh kami. Kami tidak kecewa. Buktinya, konser kami masih ramai penonton,” tuturnya.

Jason juga mengungkapkan rencana SUM 41 berinovasi dengan mencoba genre lain. “Setelah Deryck keluar dari rumah sakit, kami seperti mendapat energi baru. Mungkin kami akan mencoba warna musik lain” ungkap Jason bersemangat. Seperti diketahui, Deryck hampir saja mati akibat alkohol. Dia dirawat berbulan-bulan karena liver, sehingga tubuhnya semakin ceking seperti orang kelaparan.

Menanggapi isu SUM 41 yang tidak lagi ngepunk, pernyataan sang frontman, Dercyk, cukup menohok. “Menjadi Punk bukan berarti mengikuti mereka (band-band Punk legendaris) dong! Kalau gue nggak mau ikut, terus lo bilang gue sudah nggak Punk lagi? Itu terserah lo! Yang penting bagi gue, Punk’s Not Dead!” ucapnya setengah kesal.

Mungkin SUM 41 ingin mengembangkan PunKoplo? Kami rasa itu ide brilian!*[KK]

Rep: Caca Marica Hey Ho!

Red: Bokir

One comment

  1. Karena “punk” hanya dijadikan modal buat jualan aja kali min…ketika sudah kaya, pindah ke dugem core

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.