Home / Bedah Karya / Bedah Lirik / Supir Angkot GOBLOG!

Supir Angkot GOBLOG!

KONTERKULTUR–“Oke. Lagu ini buat oknum-oknum supir angkot. Yang suka menaikkan ongkos seenaknya, yang suka menyalip sembarangan, yang suka membawa penumpang ugal-ugalan”–(Mesin Tempur)

Emang bener kok. Mereka memang ngeselin! Seenaknya sendiri. Belok nggak pake lampu sign. Berhenti mendadak. Selap-selip nggak karuan. Suka ngambil jalan orang. Terus kalo nyenggol nggak mau tanggung jawab.

Mentang-mentang “wong cilik”. Mentang-mentang mobil jelek. Mentang-mentang temen paguyubannya banyak. Kalau salah nggak mau disalahin. Kalau bener, nuntut macem-macem.

Lho, ini kok kayak nyeramahin diri sendiri ya? Kayak nonjok muka sendiri? Nahloh!

Hari Senin ini udah kayak kiamat sughro. Setelah merasakan nikmatnya jalan di Jakarta pas lagi lebaran. Eh, sekarang, orang-orang udah pada masuk kantor dan anak-anak mulai masuk sekolah lagi. Klop! Perang dimulai lagi! Jalanan, bagi saya, sudah seperti arena gulat. Semua yang dihadapan adalah musuh yang harus dienyahkan. Orang jadi kesetanan atau setan yang jadi keorangan?

“Anjing lu!” sapaan ramah dari sesama pengguna jalan ketika saya memulai perjalanan pagi ini.

Rasanya, dianjing-anjingkan saat jam-jam sibuk, itu bikin kangen. Selama 2 minggu belakangan (saat libur lebaran), hidup saya terasa hampa. Di jalan yang terlalu lengang, saya merasa sepi. Kangen dengan teriakan itu. Teriakan yang mengingatkan bahwa di dalam diri saya masih terdapat nafsu hewani yang perlu diredam.

“Heh Goblok!” sautan dari pengguna jalan yang lain.

Digoblokan seseorang yang tidak kita kenal adalah sebuah mutiara hikmah bagi saya untuk senantiasa instropeksi diri dan tidak jumawa atas segala capaian yang saya raih. Terima kasih kawan seperjalanan. Kalian adalah AA Gym bagi saya.

Maka dari itu, saya sepakat bulat dengan band metal kawakan, Mesin Tempur. Mereka menggambarkan kebuasan jalanan cukup dengan tiga kata: SUPIR ANGKOT GOBLOK!

Supir angkot itu semacam simbol. Bukan angkot dengan warna dan nomer tertentu. Itu angkot dalam arti lugas. Tapi makna sebenarnya, angkutan perkotaan ya kita-kita ini yang mengangkut diri kita di jalanan perkotaan. Sehingga pada dasarnya, kita juga supir angkot.

Inti pesan Mesin Tempur sejujurnya tentang bagaimana kita berperilaku di jalanan. Kita yang percaya agama, tahu adab. Bagi yang tidak percaya agama, tahu moral. Bagi yang percaya kemanusiaan, tahu perikemanusiaan. Hukum sederhananya,”Jangan mencubit kalau tidak mau dicubit”.

Jalanan adalah ruang hidup kita selain rumah tempat tinggal. Kalau kata Om Iwan Fals, “Di Jalanan kami sandarkan cita-cita”. Orang perlu ke jalan untuk menggapai cita-citanya. Mereka tidak bisa sekedar berdiam. Mereka harus mau berdesak-desakan, karena yang punya cita-cita bukan kita saja.

Sebagai tempat hidup, jalanan menyediakan berbagai karakter. Dari keras hingga lembut. Jangan berharap semua orang lembut pada anda. Dan sebaliknya. Karena karakter bervariasi inilah yang membuat kita belajar.

Jalanan juga mewakili struktur sosial manusia. Lengkap dengan feodalisme dan penindasannya. Mari kita lihat motor yang kecil nan picik. Mobil yang besar dan arogan. Bis yang kalem namun menindas. Ini seperti sebuah sinetron!

Perhatikan lagi Prolog di atas. Vokalis Mesin Tempur menyampaikan tiga hal penting menyangkut karakter mayoritas orang kita: “seenaknya, sembarangan, ugal-ugalan”. Coba berkaca. Apakah naluri dasar kita masuk dalam kategori itu? Tidak hanya ketika di jalan, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau memang iya, berarti lagu Mesin Tempur itu seyogyanya lagu penojok buat kita. Dan kita pantas berterimakasih pada Mesin Tempur karena telah diingatkan. Meskipun lewat sarkas penggoblokan.*[]

Ditulis oleh Che Kabayan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*