Home / Artikel / Kenal Tokoh / Sutan Syahrir, Orang Indonesia Pertama yang Mencicipi Kehidupan ala Punk
Sutan Syahrir saat meninggal karena penyakit jantung (foto: http://www.triharyo.com/)

Sutan Syahrir, Orang Indonesia Pertama yang Mencicipi Kehidupan ala Punk

KEBANGETAN kalau ada yang tidak mengenal Sutan Syahrir. Karena Dialah yang membocorkan berita kekalahan Jepang atas sekutu lewat “pasukan radio” yang rajin mencari sinyal hingga ke kantor berita BBC Inggris sana.

Gerombolan Syahrir pula yang memaksa duo sejoli Soekarno-Hatta untuk segera mengumumkan proklamasi. Bahkan, mereka juga dinilai memiliki kaitan dengan kelompok Sukarni yang mengorganisir penculikan Rengasdengklok. Keduanya sama-sama mewakili kelompok muda yang ingin mendesak kelompok tua (Soekarno-Hatta) agar bergerak lebih lincah.

Syahrir yang populer dengan sebutan populer “Bung Kecil”. Meskipun perawakannya mungil, tapi Bung Kecil ini dikenal sangat bernyali.

Pernah suatu saat, ketika Belanda melakukan agresi militer di penghujung Desember 1946, mobil rombongan Syahrir, yang waktu itu menjabat sebagai Perdana Menteri, dicegat oleh serdadu Belanda di wilayah Cikini Raya.

Entah apa sebabnya, tiba-tiba seorang Kopral Inggris (NICA) bernama Ritchard langsung mengarahkan pistolnya ke kepala Syahrir yang bertubuh pendek dan tampak tak berdaya. Tapi, sebenarnya, raut wajah Syahrir begitu tenang meskipun nyawanya sedang dipertaruhkan.

Tanpa banyak cakap, Kopral itu pun menarik pelatuk hendak dipicu. Pistolnya nempel di kepala Syahrir. Rombongan pun panik. Seorang anggota rombongan, Abdul Halim, meyakinkan serdadu itu kalau orang yang sedang ditodongnya adalah seorang Perdana Menteri. Tapi Richard tetap tidak percaya. Dia menyuruh semua orang angkat tangan menghadap tembok.

Syahrir tetap tenang. Dia memasukkan tangan ke kantong celananya untuk mengambil jam sambil menanyakan waktu ke serdadu tersebut dalam bahasa Inggris. Bukannya mendapat jawaban, Syahrir malah dibogem pakai popor pistol. “Gila si Kecil (Syahrir), mereka hampir membunuhnya!” ungkap Halim seperti yang dikutip Rudolf Mrazek dalam bukunya Politics and Exile in Indonesia.

Sikap berani itulah yang mencerminkan jiwa revolusioner seorang Syahrir. Namun hebatnya Syahrir, bukan sekedar hebat-hebatan. Dia seorang intelektual yang konsekuen dengan nilai-nilai perjuangan. Beda dengan orang kita sekarang yang cuma mengartikan revolusioner itu dari tutur, perilaku dan gaya yang urakan.

Syahrir mengenal gerakan-gerakan revolusioner ketika ia melanjutkan studi ke Belanda. Di sana, dia kenal akrab dengan Salomon Tas, Ketua Klub Mahasiswa Sosial Demokrat. Tas sedikit banyak memperkenalkan Syahrir dengan teori-teori sosialisme. Syahrir pun mengembangkan daya tangkapnya dengan membaca buku-buku Karl Kautsky, Rudolf Hilferding, Rosa Luxemburg, Otto Bauer, dan Hendrik de Man.

Bahkan suatu ketika, demi memperdalam pemahaman progresif itu, Syahrir berkelana ke berbagai pemikiran, hingga akhirnya dia sempat terdampar dalam sebuah kolektif anarkis radikal yang mengharamkan segala hal berbau kapitalis. Di waktu yang sama, ia juga menggabungkan diri dengan Federasi Buruh Transportasi Internasional, semacam gerakan sindikalisme.

Dalam buku seorang wartawan kawakan, Rosihan Anwar, berjudul Sutan Sjahrir, True Democrat, Fighter for Humanity, disebutkan “Syahrir hidup bagaikan bohemian, seniman bebas merdeka, bertahan hidup secara kolektif, saling berbagi satu sama lain, kecuali sikat gigi”.

Agaknya, laporan Rosihan ini mengutip dari memoar Sol Tas, kawan sosialis Syahrir.

“Saya kehilangan jejak Sjahrir untuk beberapa waktu. Kemudian saya dengar cerita-cerita bahwa dia, dalam mencari teman-teman radikal, telah berkelana kian jauhnya ke kiri, dan akhirnya berhenti pada segelintir kaum anarkis yang berhasil membebaskan diri dari semua noda kapitalis dengan menghindari semua perkejaan yang menguntungkan dan yang bertahan hidup dengan membagi segala sesuatunya satu sama lain, termasuk alat kontraseptik, terkecuali sikat gigi (sejauh ada sikat gigi itu). Namun akhirnya Sjahrir pergi dan kembali ke bentuk sosialisme yang lebih praktis dan realistis.”

Begitulah Syahrir selama di Eropa sana. Dia ke Eropa bukan untuk konser atau gaya-gayaan. Ini Syahrir, bukan Syahrini!

Dia ke Eropa untuk membebaskan bangsanya dari cengkraman kolonialisme. Dia menimba ilmu perjuangan, bahkan berkelana keliling Eropa, menemui gerakan-gerakan revolusioner untuk mempelajari praktik-praktiknya. Lalu, dengan modal itu, Syahrir turut membawa negara ini ke gerbang kemerdekaan.*[]

NB: Oh, ternyata, Punkers pertama di Indonesia itu bukan anak band tho?! Berarti gue salah selama ini…

Salam,

Bang Thoyib, Tiga kali tujuh belasan, belum pulang pulang

One comment

  1. inspiratif dan bervariasi postingan” di konterkultur!
    (Y)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.