Home / Artikel / Opini Hatkor! / Syukurlah MTV Indonesia Sudah Mati

Syukurlah MTV Indonesia Sudah Mati

KONTERKULTUR–Saya mungkin satu-satunya orang diantara kalian yang bersyukur atas diberhentikannya MTV Indonesia. Meskipun dulu saya sempat menjadi salah satu penonton channel musik itu, tapi kini saya sudah bukan remaja lagi. Saya sudah punya dua orang anak yang saya benar-benar perhatikan masa depannya.

Salah satu yang membuat saya bersyukur kalau channel musik seperti MTV tidak lagi siaran di Indonesia adalah semakin banyaknya konten yang negatif dalam video-video klip yang ditayangkan di MTV (Sebenernya sih nggak hanya MTV, channel lain seperti Channel-V pun juga demikian, tapi itu nggak ngaruh karena cuma bisa diakses melalui tv berlangganan). Contoh konten negatif dari video-video klip jaman sekarang banyak bisa kita temui hampir disetiap video. Terbanyak adalah tentang seks, mulai adegan ciuman, pelukan, bahkan yang lebih vulgar lagi pun banyak. Belum lagi pornografi. Lihat saja klip-klip dari penyanyi-penyanyi pop di Barat. Hampir tidak kita temui mereka menggunakan pakaian yang sopan sebagaimana yang dipahami oleh budaya kita. Faktor terakhir adalah karena konten yang mengarah kepada kekerasan. Biasanya ini didapatkan dari klip-klip musik rock.

mtvsexadPada tahun 1984, Koalisi Nasional Televisi Anti Kekerasan berpendapat bahwa seks dan kekerasan dalam video musik membuat anak muda Amerika menjadi “tidak sehat”. American Academy of Pediatrics memperkuat pendapat ini pada tahun 1988 (Hansen & Hansen, 1990). Pada tahun 1985, para orang tua yang membentuk Music Resource Center (PMRC), sebuah kelompok yang dipimpin oleh Tipper Gore, menuntut dengar pendapat pada Senat AS bahwa video musik mengandung terlalu banyak seks dan kekerasan (Vincent, 1989).

Penelitian oleh Seidman (1992) menemukan bahwa dua pertiga dari pemirsa MTV adalah laki-laki. Sementara satu pertiganya adalah perempuan. Seidman menemukan bahwa setengah dari perempuan muda ini biasa saja mengenakan pakaian yang terbuka.  Sebuah studi oleh NCTV menyatakan bahwa dari 160 jam video musik yang ada, rata-rata terjadi 18 kasus kekerasan per jam (Kalis & Neuendorf, 1989). Lebih dari separuh dari semua video musik mengandung beberapa tindak kekerasan atau kejahatan.

Belum lagi kalau kita tengok penelitian-penelitian terkini tentang kerusakan-kerusakan otak yang diakibatkan oleh adegan-adegan erotis dan vulgar, ternyata jauh lebih besar dampaknya ketimbang kerusakan otak yang diakibatkan oleh narkoba.

Mungkin kalian boleh-boleh saja berbeda pendapat dengan saya. Karena setiap orang punya cara pandang masing-masing. Saya memang sudah tidak lagi berkecimpung di scene underground seperti kebanyakan pembaca situs ini. Maka dari itu saya tidak merasa kehilangan sesuatu dengan bubarnya MTV Indonesia. Justru sebaliknya, saya lebih bersyukur. Just enjoy your dead, MTV!*[]

Oleh: Kirun (mantan bassis band metal yang kini jadi bapak rumah tangga)

2 comments

  1. Syukurlah MTV Indonesia Sudah Mati 😀

  2. Dulu dosen saya bilang, kepanjangannya Making Temptation Visible. Godaan konsumerismenya dan degradasi perempuan terlebih-lebih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.