Home / Artikel / Opini Hatkor! / Ternyata Ada Kelas-kelas Sosial Di Dalam Scene Punk!

Ternyata Ada Kelas-kelas Sosial Di Dalam Scene Punk!

KONTERKULTUR–Punk selama ini dikenal sebagai subkultur yang sangat anti terhadap kelas sosial. Menurut mereka, kelas sosial adalah bukti adanya penindasan antara kelas sosial yang berada diatas kepada kelas sosial yang berada di bawahnya. Pemikiran punk semacam ini diadopsi dari Marxisme bikinan om brewokan bernama Karl Marx, yang jadi “nabi” bagi para penganut posmoderen.

Namun anehnya, dikalangan punk/hardcore sendiri tanpa disadari telah membentuk kelas-kelas sosial yang seharusnya mereka lawan. Diakui atau tidak, ini benar-benar adanya. Pertama, PUNK KELAS ATAS. Biasanya para scenester punk kelas atas ini ada di kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya, Bandung, dan kota-kota besar lainnya seperti Jogja, dan Surabaya. Mereka berasal dari keluarga yang berduit alias kaya. Biasanya kehidupan mereka sejak kecil memang sudah mapan. Hanya saja mereka ketemu dengan subkultur punk dan bergabung didalamnya. Biasanya PUNK KELAS ATAS begini, kalau punya band tuh pasti yang naik-daunnya cepet. Gimana enggak, mereka punya semua fasilitas yang mereka butuhkan. Alat-alat musik lengkap dan berkualitas, mampu bayar studio mahal, mampu mixing yang kualitasnya bagus, mampu memproduksi rilisan dalam jumlah banyak, dan bahkan sampai mampu untuk mengadakan tour kemana aja yang mereka mau.

PUNK KELAS ATAS sering nggak ambil pusing soal duit. Soalnya mereka udah punya. Biasanya dari orangtua mereka yang kaya, atau dari hasil kerja mereka yang bergaji tinggi, atau yang parah adalah duit hasil jualan barang-barang hacker. Kalau nongkrong bawaannya mobil bagus atau motor modifikasi yang harganya mahal. Dandanannya maksimal, misalnya kaosnya orisinil dari band luar, sepatunya berkelas, topi, celana, semuanya barang mahal. Terlepas dari itu barang hasil carding atau enggak.

Kedua, PUNK KELAS MENENGAH. Nah, biasanya anak punk jenis ini adalah mereka-mereka yang berasal dari keluarga kelas menengah. Penghasilan orangtuanya pas-pasan. Nggak kaya, tapi juga nggak miskin. Secara umum penghasilan keluarganya hampir sebanding dengan pengeluaran mereka tiap bulan. Biasanya punk jenis ini paling banyak jumlahnya di Indonesia, karena memang mayoritas penduduk Indonesia adalah kelas menengah. Kelas menengah ditandai dengan kesibukan mereka dalam mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka jarang menggunakan barang-barang mahal kecuali ada peluang diskon atau semacamnya.

PUNK KELAS MENENGAH, nggak punya banyak duit untuk memajukan bandnya. Mereka biasanya harus mati-matian menabung agar bandnya bisa rekaman. Udah syukur mereka bisa rekaman, meskipun di studio rekaman yang biasa-biasa aja. Alat-alat yang mereka pakai cenderung seadanya, karena memang segitu kemampuan mereka. Kalau manggung, mereka jarang punya alat musik sendiri. Gitar, bass, effect, atau perangkat tambahan pada drum biasanya minjem dari temen-temen mereka sendiri.

Biasanya, PUNK KELAS MENENGAH nggak terlalu akur dengan PUNK KELAS ATAS, karena mereka merasa bahwa PUNK KELAS ATAS itu suka sok-sok’an, pamer dan nggak suka ngumpul sama kelas yang ada dibawahnya. Kalau bikin event juga demikian, biasanya yang dijadikan band tamu ya hanya muter aja dikalangan kelas mereka sendiri. Bagi PUNK KELAS MENENGAH, kalau bandnya bisa manggung di event sekelas HAMMERSONIC itu senengnya udah bukan main rasanya. Meski nggak dibayar sekalipun. Beda dengan PUNK KELAS ATAS yang manggung di acara gede, bukannya seneng banget kayak band-band kelas menengah, mereka biasanya malah suka debat soal tarif manggung yang kurang tinggi.

Ketiga, PUNK KELAS BAWAH. Punk jenis ini biasanya jarang diakui sebagai punk oleh para scenester punk yang kelas sosialnya berada diatasnya. “Mereka itu bukan punk, mereka cuma anak jalanan yang berdandan punk, tapi nggak ngerti apa-apa soal punk!”, atau “Mereka itu cuma poser!” adalah contoh-contoh kalimat yang sering dilontarkan oleh PUNK KELAS ATAS maupun PUNK KELAS MENENGAH kepada anak-anak street punk yang sering ditangkap polisi karena melakukan tindak kriminal atau sekedar tidur ditrotoar dan meresahkan masyarakat.

PUNK KELAS BAWAH emang nasibnya paling nggak enak. Hidupnya dijalanan, berdandan ala punk agar diakui sebagai punk, tapi justru dikecam oleh kalangan punk sendiri yang berasal dari kelas di atasnya. Ditambah lagi, mereka yang jarang mengenal subkultur punk secara utuh. Mereka jarang mengenal punk sampai pada tataran ideologinya atau filosofinya. Boro-boro bikin band punk yang harus rutin latihan, mereka itu buat makan sehari-hari aja susah. Semestinya punk semacam ini, kalau ditangkap oleh satpol PP kemudian harus mendekam di penjara, justru harus bersyukur. Karena mereka justru bisa tidur didalam rumah dan terjamin makannya tanpa harus ngemis atau ngamen dijalan. PUNK KELAS BAWAH juga sama sekali nggak akur dengan punk dikelas-kelas sosial diatasnya. Mungkin karena perbedaan ekonomi mereka yang membuat mereka agak canggung berkumpul bersama-sama.

Mau diakui atau tidak, kelas-kelas sosial tersebut benar adanya. Kamu pasti pernah merasakan dalam gigs-gigs punk yang didalamnya ada band-band punk yang “melarat”, “sedang-sedang saja”, dan yang tajir. Meskipun terkadang mereka masih bisa saling menyapa, tapi sebenarnya mereka seperti ada gap pembatas yang tidak bisa dileburkan.

Punk yang berideologi dasar anarkisme, yang anti hirarki, ternyata tanpa disadari mempraktekkan hirarki-hirarki sendiri didalam scene. Beginilah buah pemikiran posmoderen. Membingungkan para penganutnya sendiri, dan saling kontradiktif sendiri. Hehehe.*[]

Oleh: Jono, (mantan PUNK KELAS MENENGAH yang kini sudah naik kelas)

13 comments

  1. Yesterday afternoon boy

    ulasan ngeyel buwakakak

  2. kapitalis itu jahat!

    ”Beginilah buah pemikiran posmoderen. Membingungkan para penganutnya sendiri, dan saling kontradiktif sendiri. Hehehe.” ! 🙂

  3. Anggap Saja Kenal

    ngikutin gerakan Indonesia Tanpa Stigma nggak sih nih orang ?

  4. artikel macam apa pula ini..kwkwkkw..

  5. lah ini anak punk apa anak mami, pake ngebahas duit ortu segala… eeh tong kurangin ngemil mecinnya

  6. Ente ngomongin Punk apa ngomongin Kasta Jawa ? Wkwkwkk . Ngopi dulu bang pake bodrexin 2 strip biar seru . :v

  7. yang membuat kelas sosial dalam punk adalah yang menulis artikel ini.

  8. yang benar seperti apa?

  9. Tapi memang seperti inilah realitanya, klo ad ttp menutup mata…melek whoooiiii

  10. Pertama tama saya mau mengatakan bahwa saya bukan anak Punk, namun saya besar dari lingkungan dan perkawanan dengan banyak Punk yang punya berbagai pandangan yang berbeda.Kalo liat komunitas yang disebut diatas kadang jadi bertanya tanya lagi, Spirit perlawanan dari hegemoni modal yang menggunakan slogan “kemandirian/ DIY ” kok menghilang ya?
    Dalam benak saya, Punk adalah gaya hidup yang melawan kapitalism yang menindas kaum pekerja, dan menghindari barang barang yang di produksi secara massal, hingga Do its yourself sebagai alternatif menggantikan corak transaksi dalam pertukarannya meminimalisasi penggunaan mata uang di setiap komoditi yang di tawarkan. Hanya saja, realita objektifnya penggunaan uang sebagai alat tukar tidak bisa di hindari. Karena komoditi yang dibutuhkan untuk menopang hidup baik primer maupun sekunder banyak menggunakan uang sebagai alat tukar. Dalam teori ekonomi politik marxism memang mendambakan masyarakat tanpa klas. Namun tahap ini masih jauh, hingga mimpi yang bisa di mungkinkan untuk menjangkau utopia ini berada dalam langkah transisi menuju kesana. Yang perlu di kedepankan sekarang adalah bagaimana memperkuat posisi tawar buruh/pekerja agar tidak menjadi korban penghisapan dari kekuatan modal. Maka tawaran yang ingin saya majukan dalam diskusi ini adalah bagaimana menjadikan fenomena kontradiksi kals ini bisa di tajamkan, untuk bisa memblejeti klas yang menindas dan klas yang ditindas seperti paparan oleh penulis diatas. Sebab tidak bisa di pungkiri bahwa di dalam gaya hidup, ada beberapa komunitas Punk yang mengingkari filosopi Punk yang menganjurkan DIY tetapi bertolak belakang dari prinsip DIY.ambil contoh Band papan atas yang memproklamirkan diri sebagai Punk namun didalam komoditi yang mereka buat termasuk marchendies, kaset/cd dan pertunjukannya terkandung corak produksi dan proses produksi yang mengambil keuntungan dari scene Punk itu sendiri. Maka analasis klas dibutuhkan agar spirit perlawanan Punk tidak meninggalkan kemunculan sejarah Punk itu sendir. Hancurkan budaya palsu, bangun budaya kerakyatan (*0*)/

  11. “Semestinya punk semacam ini, kalau ditangkap oleh satpol PP kemudian harus mendekam di penjara, justru harus bersyukur. Karena mereka justru bisa tidur didalam rumah dan terjamin makannya tanpa harus ngemis atau ngamen dijalan”..

    lucu juga sih.. hehehe

  12. benerr bangeeetttssss…
    gw anak daerah yg kuliah djkarta yg nongkrong di scene punx n skins jakarta…
    bener bangetssss itu memang ada kelas sosial di scene punkk…
    ada tambahan lagi… kelas sosial para senior dan selebrita..
    kelas sosial kuliahan dan non kuliahan…
    kelas sosial anak2 art dan non art.. kaya ikj yg paling didewa2kan dalam hal scene roots n art..
    ga usah sok menafikan lah..
    belum lagi scene skinhead yg sekarang…
    bener2 hi class jauh diatas punk…
    pada punya scooter mahal2 joget2 reggae sound system dengan boots sampe shirts kinclong harga jutaan gonta ganti terus..
    working class my ass… 😀
    lol

  13. Artikel mantap iki! Hahaha…

Leave a Reply to Adell Metalhead Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.