Home / Wawancara / [Wawancara] 17 Tahun Eksis, ‘SPEAK UP’ Terlihat Makin Politis, Apa Kata Sang Frontman?
Speak Up (foto : Reno/detikHOT)

[Wawancara] 17 Tahun Eksis, ‘SPEAK UP’ Terlihat Makin Politis, Apa Kata Sang Frontman?

KONTERKULTUR–Bagi pecinta musik Punk, khususnya mereka yang mengabdi di jalur Melodic Punk, tentulah mengenal band kawakan asal Jakarta, SPEAK UP. Band yang telah malang melintang dari panggung ke panggung selama 17 tahun ini, dikenang sebagai salah satu perintis Melodic Punk atau yang dekat-dekat dengan Pop Punk. Album keduanya yang berjudul “Story of My Life” bahkan dianggap sebagai salah satu album Pop Punk lokal terbaik dan sukses merampas perhatian publik.

Tahun ini, SPEAK UP menelurkan album terbaru mereka bertajuk “Lini Waktu”. Butuh waktu sekitar tujuh tahun buat SPEAK UP untuk kembali produktif. Memang, selama ini SPEAK UP dikenal sebagai band yang tidak ber-deadline dalam menghasilkan karya. Tapi jangan tanya soal jadwal manggung. Band kawakan ini masih aktif jumpalitan dari satu panggung ke panggung lain.

Kemarin malam, Bang Bokir, mendapat kesempatan untuk cuap-cuap bareng Al, Sang Frontman. Konterkultur mengambil momen rilisnya video terbaru mereka berjudul “Politik Hampa Etika”. Dalam video tersebut, SPEAK UP kelihatan lebih garang. Album Lini Waktu memang menyajikan persepsi yang berbeda dari album sebelumnya. Kali ini, SPEAK UP kelihatan frontal menyuarakan protes sosial.

Tanpa banyak cingcong. Hayuklah kita nikmatin saja, cuap-cuap panjang di malam yang dingin itu.

BB: Ke Tanabang ayo melipir. Pake mobil pick up disupirin ikan hiu. Eh, sodare…ini aye Bang Bokir. Pengen minta SPEAK UP buat interpiu.

Al: Oiii…Bang Bokir! Hahaha! Mati kutu kite kalau udah maen pantun gini.

BB: Haha. Tes…tes…Kijang satu di sini. Dengan siapa di sana? Ganti.

Al: Di sini dengan Al. Ganti.

BB: Wah, Al! Ini mah abangnya El sama Dul nih! Emang ye, bokap lo yang botak itu jago banget bikin lagu. Pantesan lo jago bikin lagu!

Al: Hahaha! Bisa aje Bang Bokir.

BB: Pertama-tama. Gue pengen tanya. Spikap ini udah umur berape sik?! 17 tahun ya? Wah…cuit cepentin dong. Kuat juga ya ngeband segitu lama!

Al: Iya bener. Udah 17 tahun. Cuit cepentin yak. Hehehe. Kuat-kuatin dah, abis mau ngapain lagi…Hehe.

BB: Eh, kok milih judul album lini masa sih? Kayak bukan Speak Up bangettt..

Al: Lini waktu kaliii maksudnya 🙂

BB: Aduh, soriiii. Sori jek. Lini waktu maksud aye. Duh, nih, kebanyakan maen ama Lina, jadi Lini Masa dah!

Al: Lina anak tetangga sebelah ya?

BB: Bukan. Lina janda muda sebelah rumah yang bikin aye pusing atas bawah. Hehehe.

Al: Hehehe. Kenapa lini waktu? mungkin karena jeda album speak up yang cukup jauh (kurang lebih 7 tahun). Tema itu kita ambil karena semua track di album ini sebagai penggambaran kisah hidup kita. Jadi semacam rangkaian cerita yang kita kumpulin jadi satu selama 7 tahun belakangan ini.

BB: Buset. 7 tahun ngapain aja tong? Sibuk gawe (kerja)?

Al: Iya nih. pada sibuk banget. Kerja, pernikahan, keluarga. Banyak faktor yang membuat kita terlambat menelurkan karya baru. Apalagi rata-rata kita udah pada berkeluarga. Kecuali additional drummer kita yang masih memburu kimcil. Haha.

BB: Haha. Sekelas drummer spikap, gebuk senar sekali, kimcil pada kumpul. Tinggal cap cip cup deh!

Al: Haha. Iya. Agak picky soalnya. Dia pengennya yang buatan Jepang. Haha.

BB: Eh, gue kok ngerasa, Spikap yang sekarang lebih dewasa ya?

Al: Masak sih?

BB: Iya. Kayak baru aja ngerasain mimpi basah!

Al: Haha. Akil baligh ya…

BB: Iye. Gue lihat di album terbaru ini, dari komposisi musik yang lebih ciamik terus pemilihan kata dalam lirik juga lebih tegas alias serius. Nah itu lagu andalan lo ‘Damai Indonesia’ sama ‘Politik Hampa Etika’ itu serius amat sik…Kayak bukan Spikap yang always ceria.

Al: Mungkin karena sebagai manusia ada proses pembelajaran. Kita belajar dari album sebelumnya, apa yang kurang, dari situ kita coba untuk memperbaikinya. Nggak mungkin kan, orang semakin belajar semakin dodol. Harus ada peningkatan kualitas, baik itu dari segi lirik maupun musikalitas.

BB: Iya sih. Gue ngerasa, mixingan album ini lebih pro. Kalau album sebelumnya kan kerasa andergron abis. Suara lo juga keluar lebih bersih. Apa sebelumnya nyanyi lo minum bayklin atau karbol gitu?

Al: Hahaha. Iya, kita campur bayklin sedikit biar mati racunnya. Di album ini kita dapet kesempatan kerja bareng tim delta musik. Produser kita Daniel, music arranger Andin dan sound engineer handal Andri. Untuk mastering kita juga Alhamdulillah dibantu banget sama mas Stephen Santoso.

BB: Btw, kok album yang sekarang ini keliatan politis banget ya? Apa ini kali pertama Spikap serius banget bicara politik?

Al: Sejujurnya di album sebelumnya kita juga udah nyindir-nyindir politik dan perilaku politikus di negeri ini. Tapi mungkin di album yang terakhir ini lebih lugas.

BB: Kalo gue lihat pidio kelip ‘Politik Hampa Etika’ (PHE) yang baru lo rilis kemaren itu. Gue membatin, “Ini Spikap kenapa jadi band Anarcho-Punk? (dalam hal tema)”. Tentu agak geser dari kesan Spikap yang dianggap sebagai dewa melodic punk yang temanya nggak jauh-jauh dari kehidupan sehari-hari. Singkat kata, capek mikirin negara mah…Kenapa kali ini lo bener-bener peduli sama negara? Sebegitu parahnya kah?

Al: Bro, sebentar ya. Lagi nyetir nih!

<Pembicaraan terputus selama dua jam lebih>

Al: Bro. Masih on kah? Sory. Gue baru kelar nidurin anak…

BB: Siap kumendan! 86! Mana maling jemuran yang kudu kite tangkep! Haha. Mangga dilanjutkeun.

Al: Haha. Pertanyaannya yang di atas tadi ya?

BB: Iye Al. Jawablah pertanyaan dengan baik dan benar. Benar +4 Salah -1. Hehe.

Al: Hehe. Sebenernya lagu PHE itu pertama kali kita buat masih jauh sebelum pemerintahan yang sekarang. Masih SBY waktu itu. Dan memang orang banyak menganggap lagu Speak Up hanya sebatas cinta dan kehidupan sehari-hari.

BB: Oh jaman SBY ya. Tapi kayaknya masih relevan buat kapanpun deh. Nah itu! Biasanya Spikap kan lagunya seperti catatan harian. Tapi sekarang kok politis banget?

Al: Nggak salah juga sih anggapan tersebut. Tapi sebenarnya di setiap album kita, pasti ada kok lagu-lagu yang bertemakan sosial politik. Tapi memang agak halus. Nah kebetulan kali ini agak sedikit frontal. Tapi juga Speak Up bukan band full politis karena lagu yang bertema politik cuma satu, hehe. Yang lain balik lagi ke cinta-cintaan, cinta negeri, cinta istri, hehehe.

BB: Selain PHE, ada lagi nggak lagu tentang protes?

Al: Ada! Album ini juga diisi lagu ‘Puisi Bumi’. Sempat release di kompilasi Greenpeace (LSM multinasional spesialis isu lingkungan hidup). Nama kompilasinya ‘Green In Peace’.

BB: Kalau Puisi Bumi ini tentang apa ya?

Al: Intinya bercerita tentang “how to preserve our beloved mother nature”. Bumi ini adalah sebuah titipan yang diamanatkan Sang Kuasa untuk penerus kita.

BB: Wah Greenpeace banget ya temanya. Ada lagi?

Al: Judulnya ‘Balada Tanah Merah’. Lagu ini didedikasikan buat para pejuang alam di Indonesia.

BB: Kenapa lo tertarik garap tema lingkungan ini?

Al: Kita pikir, cukuplah alam Indonesia yang kaya raya ini dikeruk dan dihancurkan hanya demi kepuasan segelintir orang. Dan parahnya lagi, masyarakat kita terkesan tidak peduli dengan hal itu. Sepertinya karena kebanyakan menonton tontonan yang tidak mendidik dan cenderung membodohi.

BB: Oh iya. Kabarnya Spikap juga mendukung kampanye tolak reklamasi yang digaungkan Superman Is Dead (SID)? Ikut kontribusi juga di situ?

Al: Sejujurnya, aksi real belum pernah kita lakukan untuk mendukung Tolak Reklamasi. Namun sebagai saudara setanah air, sudah seharusnya kita saling membantu dalam hal apapun juga. Nah dalam konteks ini mungkin bantuan moral yang bisa kita lakukan. Sekaligus menyuarakan isu ini lewat media sosial.

BB: Kalo soal asap di Sumatera dan Kalimantan, gimana komentar lo?

Al: Itu sangat tidak adil! Masyarakat menjadi korban. Nggak tega bro gue ngeliatnya. Apalagi kita lihat sekarang sudah banyak korban nyawa dan ratusan orang menderita gangguan pernapasan. Harus ada aksi nyata sesegera mungkin dari pemerintah. Apalagi kasus ini aslinya dilakukan dengan sengaja oleh para bedebah pengeruk kekayaan alam Indonesia. Kayaknya halal tuh darahnya. Haha.

BB: Kalau soal Salim Kancil?

Al: Salim Kancil? That’s a serious crime against humanity bro! Fuck them! The government should kill those bastards.

BB: Dem! Ay totali egri wit yu brat!

Al: Tos!

BB: Ngomong soal kekerasan. Kayaknya Spikap benci militer ya? ACAB!

Al: Hahaha. Kita benci semua orang yang berkedok dalam seragam. Orang munafik yang berseragam.

BB: Wah, anak SD juga dong. Kan pada pake seragam. Kalau kagak, bakalan disetrap gurunya, hehe.

Al: Kalo seragam SD, anak gue juga make! Haha. Maksud gue seragam dianggap pembenaran untuk melakukan tindak kekerasan terhadap orang kecil. Seragam cuma jadi tameng doang.

BB: Lo percaya nggak, ada polisi/militer yang baik?

Al: Pada hakikatnya manusia diciptakan baik dan suci kok. Pasti ada orang baik diantara orang jahat.

BB: Oh gitu. Jadi nggak pukul rata ya?

Al: Nggak dong. Kalau pukul rata kan nggak adil juga. Tapi anehnya, kenapa yang baik biasanya disingkirkan. Susah menjadi orang baik di suatu tempat yang kejahatannya sudah dianggap biasa dan ditradisikan.

BB: Nah itu yang gue tangkep dari lagu PHE. Itu real banget! Nggak ada yang bisa bantah. Politik itu kejam kayak bisnis. Hajar kanan kiri oke. Tapi yang gue rasakan, lo itu termasuk musisi yang masih percaya bahwa politik itu bisa merubah suatu hal menjadi lebih baik. Bagaimana tanggapan lo terhadap temen-temen musisi yang bahkan saking muaknya bisa apolitis sama sekali?

Al: Seriously, we live in a fucked up world…Masalah percaya nggak percaya sebenarnya balik ke individu masing-masing. Politik jika dilakukan oleh orang baik dengan dukungan orang baik dari atas sampai bawah, gua masih percaya pasti akan berdampak baik juga. Namun masalahnya susah mencari orang baik di negeri ini. Susah banget bro, 32 tahun kita dibodohi.

BB: Ditambah 350 tahun dijajah Belanda. Jadi bodohnya berkerak di otak dan susah dihapus, hehe.

Al: Yoi bener banget. Sudah mengakar di semua lapisan masyarakat kita. Kayaknya musti kiamat dulu deh, baru negara kita bisa bener.

BB: Haha. Nah itu yang gua istilahkan potong generasi. Jadi Jakarta dibom atom dulu, baru deh bangun kota dari nol lagi, hehe.

Al: Nah itu mungkin salah satu caranya. Kayak Jepang dulu, dibom atom, baru sadar.

BB: Tapi, kepedulian sosial politik yang lo pahami ini, apa sama dengan member Spikap yang lain?

Al: Pastinya bro. Semua member Speak Up punya kepedulian sosial. Namun takarannya yang beda-beda tiap orang.

BB: Oke deh. Btw, ngobrol politiknya udahan. Sekarang gw boleh tanya hal-hal yang sifatnya pribadi? Tentu gua nggak akan nanya ukuran celana dalem lo Al.

Al: Boleh banget dong. Apa sih yang nggak buat Bang Bokir. Mau tanya apa? First sex? First kiss? Sebut ajeee…Hahaha

BB: Woi, gua bukan wartawan koran lampu merah! Hahaha.

Al: Hahahaha.

BB: Eh, lo kan bilang, semua member udah pada berkeluarga beranak cucu. Susah nggak sih diajakin kumpul?

Al: Susah banget broooo!

BB: Gimana ngejelasin ke bini lo supaya diijinin ngeband. Apa misalnya lo bilang kalau pemain band itu bakalan dijamin masuk surga bersama keluarganya, atau gimanalah cara spik-spiknya biar lo bisa keluyuran kayak jaman muda dulu?

Al: Yang membuat gua bisa bertahan sampai saat ini adalah ngeband itu passion gue. Salah satu tempat yang bisa bikin gue nyaman dan yang bisa menerima gue apa adanya. Dan gue juga selalu menganggap band itu keluarga kedua gue. Mungkin intinya, bagaimana lo membagi waktu antara band dan keluarga. Tentukan prioritasnya.

Alhamdulillah istri gue sangat mendukung gue dalam kegiatan per-band-an ini. Bahkan istri gue juga bantu nulis beberapa lagu di album lini waktu ini. Tapi yang lo musti sadar adalah, lo bukan bujangan lagi. Ada keluarga yang sedang menunggu di rumah. Mereka (istri) pasti mengerti kalau lo mengomunikasikannya dengan baik. Kalau perlu, sekali-sekali ajak mereka, kumpul bareng. Anak-anak juga diajak. Band family gathering juga sering kita adain.

BB: Wah keren! Kalau perlu, para istri juga bikin band sendiri, entar jadi kolektif riot grrrlll. hehehe. Yang penting mah dapur tetep ngebul ya Al. Btw, kalo boleh tahu, sehari-hari lo kerja sebagai apa? dan member yang lain pada gawe apa?

Al: Hehehe. Gue sehari-hari kerja di perusahaan perbankan swasta. Temen-temen yang lain ada yang di media, EO, dan baru lulus kuliah.

BB: Wah gile. Hidup lo kebagi tiga dong. Keluarga, Kantor, Band. Nah bingung dah ngaturnya.

Al: Awalnya sih iya. Susah banget. Tapi setelah dijalanin, udah tau selanya, Alhamdulillah aman, hehe.

BB: Btw, anak udah pada gede kan? Dia bangga punya bokap anak band? Atau, jangan-jangan dia masang poster Spikap di kamarnya? Cie…

Al: Anak pertama gue baru masuk SD, yang kedua baru dua bulan. Alhamdulillah dia cukup bangga, ehehe. Sampek bosen dengerin CD band sendiri di mobil. Dia juga udah hafal lagu-lagu Spikap. Kaget juga sih dan bangga!

BB: Ah cadas! Anak sekecil itu berkelahi dengan lirik-lirik Spikap! Rock man!

Al: Yoi

BB: Btw, udah malem nih. Udah mau jam 12. Bang Bokir harus siap-siap bikin sate 200 tusuk pesanan Suzanna.

Al: Bang Bokir dah ah! Gokil! Salam buat kawan-kawan Konterkultur.

BB: Siap kumendan. Kijang satu undur diri. Ganti.

Al: Siyap!*[KK]

 

Rep: Bang Bokir

Editor: Marko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.