Home / COUNTER BANDS / Band Lokal / [Wawancara] KEEP THE FAITH: “Hanya konsep agama yang paling relevan”
KEEP THE FAITH, band hardcore dari Padang

[Wawancara] KEEP THE FAITH: “Hanya konsep agama yang paling relevan”

KONTERKULTUR–KEEP THE FAITH terbentuk pada pertengahan 2011 oleh 4 orang dengan latar belakang yang berbeda. Mereka menggabungkan musik Hardcore 80-an, Oi! dengan Heavy Metal, serta Oldskool Thrash. Secara musikal tidak ada diantara style tadi yang lebih dominan, dikarenakan dalam band ini ada kebebasan menyalurkan ide dan cara bermain dari para personelnya. Jika harus menentukan, band ini boleh dibilang band Hardcore/Crossover. Meskipun ada beberapa review zine dari luar negeri mengatakan rilisan EP mereka “Harcore For Skins” bernuasa Agnostic Front era Cause For Alarm. Ya boleh-boleh saja orang mengatakan begitu, karena mungkin mereka mendengar tarikan vokal Dennie dan alur musik yang mirip dengan band dedengkot NYHC itu. Akan tetapi, menurut Dennie sendiri, dia lebih condong ke Cro-Mags era “Best Wish”. Secara lirikal, KEEP THE FAITH bertemakan relita di scene dan pencerahan. SO HERE THEY ARE .. BOOT STOMP OVER PADANG CITY!

Kalau ingin tahu lebih banyak, simak wawancara santai dengan Dennie sang vokalis berikut ini:

Konter Kultur (KK): Sejujurnya saya sangat tertarik dengan band kalian ini, karena saya pikir musik yang kalian mainkan sangat mirip dengan band favorit saya dulu, Agnostic Front. coba ceritakan sedikit tentang cikal bakal band kalian. Sekalian, ceritakan konsep musik yang kalian bawakan dalam band ini.

Keep The Faith (KTF): Band Keep The Faith berawal dari apa yang terjadi di scene hardcore di kota saya, Padang, dimana pada masa itu, definisi hardcore ini sangat lah rancu dan bias bagi saya dan semua band mempunyai gaya yang sama, walau tidak banyak band pada masa itu.

Bias ini sebenarnya telah terjadi semenjak Scene Underground berkembang sejak 1997 dimana band yang nge-beat itu dikategorikan band Hardcore dan selain itu adalah band semacam (Bad Brains, Black Flag, Minor Threat) di kategorikan punk, sebenarnya tidak terlampau masalah karena subtansinya tetap sama, yang jadi masalah adalah cara panjang dan ujung-ujungnya ribut ga jelas, dari situasi yang demikian saya punya ide lain yaitu mengangkat sisi Skinhead pada musik hardcore dengan mengajak seorang teman bernama Yoga (yang dulu nya pernah 1 band juga) yang kebetulan lagi vakum di band nya untuk membuat sebuah band hardcore dengan konsep skinhead dan menyodorkan materi lama dari Agnostic Front (karena Warzone telah familiar) dan menawari hal yang sama pada Doni dan Aries (dimana kami 1 kerjaan).

Permasalahan yang muncul ketika Doni seorang ex-Black Mass tidak begitu menyukali chord-chord yang kencang, dia lebih tertarik dengan sound ala old thrash dari sini lah musik Keep The Faith bermulai, DRI (era Crossover), Municipal Waste, Metallica, Kreator, Agnostic Front (era Cause For Alarm – Liberty And Justice For ), Cro-mags (era best wishes), A.C.A.B, Cockney Reject menjadi patokan, dan lagu “Hardcore for skins” pun dibuat dan beberapa review luar menganggap lagu ini serupa dengan Agnostic Front “The Eliminator” (meski kami tidak menyadari nya ), nama Keep The Faith dipilih karena kata ini yang sering muncul dalam lingkaran Hardcore atau Skinhead itu sendiri,didalam perjalanan konsep band pun berubah kearah pandangan pribadi terhadap scene dan hidup, mungkin karena hidayah yang saya terima sebagai penulis rilik dan kata Keep The Faith memiliki arti yang harfiah.

Untitled-1KK: Sebagai penulis lirik lagu, tema apa yang sering kamu angkat? Dari mana kamu mendapat inspirasi dalam menulis lirik lagu?

KTF: Tema dalam lirik sejauh ini kebanyakan adalah pandangan pribadi terhadap scene dan rutinitas hidup (kerja, nonton bola ) sederhana saya tulis apa yang saya liat atau saya alami.

KK: Apakah kalian straight edge? apa pendapat kalian tentang gaya hidup itu?

KTF: Apa kami sXe? Yoga adalah seorang sXe, dan sXe adalah pilihan pribadi untuk menjalani hidup.

KK: Kini saya secara pribadi mulai paham tahapan dalam mengajak teman-teman keluar dari kebiasaan minum alkohol, narkoba, merokok dan seks bebas. Saya pikir menawarkan gaya hidup straight edge akan lebih bisa diterima meskipun sebenarnya beberapa ajaran agama (misalnya Islam) juga punya konsep yang lebih baik dari itu. Bagaimana menurut kamu?

KTF: Saya dulu nya seorang nihilis punk, positif youth…tanpa tanda X, dalam pandangan saya mungkin sXe adalah salah satu solusi untuk bebas dari jeratan (alkohol , narkoba, sex bebas) tetapi sXe juga mengalami pengevolusian konsep, maksudnya sXe-nya Ian Mackaye berbeda dengan Good Clean Fun atau para Militan atau FSU, dan semua orang bebas memikirkan konsep positif terbaik untuk hidupnya, yang kini bahkan menjadikan pro kontra. Intinya tidak ada standar baku. Bagi saya, konsep agama, dalam kontek ini saya bicara Islam, sangatlah komplit untuk menjadikan tuntunan hidup yang positif sebagai mana tertuang dalam Al Quran dan Hadits dimana kita tidak boleh mabuk dan zina, dan mengatur waktu dan apa yang kita hendak makan, kapan kita tidur. Gaya hidup ini terbukti secara klinis memang menyehatkan dan memang gaya hidup ini tidak terbatahkan.

KK: Ngomong-ngomong soal agama, apa pendapat kamu tentang hal itu? Biasanya menjadi seorang yang religius bikin seseorang nggak pede berkumpul dengan teman-teman di scene HC/Punk. Mungkin karena mayoritas punk/hc kids nggak dekat dengan agama. Bagaimana dengan kamu?

KTF: Agama adalah Jalan hidup , tuntunan hidup , apa ini menjadi kontra dalam scene? tergantung dari sudut mana kita melihat,sederhana nya begini, hampir setiap flyer acara Punk/HC di era 80an ada tulisan sound with message dimana band bebas mengeluarkan isi pikiran atas nama kebebasan berpendapat dan hal ini tetap bertahan hingga sekarang tiada larangan, paling kurang cuma masalah pro atau kontra aja, Hal ini juga di jalani dengan sudut yang berbeda, lebih spiritual oleh H.R (Bad Brains) dengan Rastafari-nya, Ray Cappo (Shelter), John Joseph (Cro-mags) dengan Hare Krisna nya .. dengan cara ini mereka lebih tertuntun, konsep ini yang saya contoh, suatu konsep mengajak teman teman untuk melihat lebih lebar dari sudut yang berbeda-beda, membandingankan, menilai dan mengajak untuk menyadari sesunggung nya mereka mempunya suatu label, jalan hidup yang telah mereka pegang dari kecil (bagi yang mereka yang percayai) tetapi mereka tidak menerapkan nya sebagaimana nya pelabelan yang mereka pilih sekarang ini.

Untitled-2KK: Bagaimana pendapat kalian tentang perkembangan scene hardcore di indonesia secara umum, dan secara khusus di kota kalian sendiri?

KTF: Perkembangan scene HC di indonesia terus tumbuh setiap saat nya , banyak band yang produktif memanfaatkan perkembangan media sekarang, bertemu, mempromosikan, mengelola gig-gig, banyak record label DIY, yg bersedia membantu rilis, co-rilis, rilis ulang semua tidak “semahal” dulu.. dan hampir tidak ada yang tidak mungkin. Begitu juga di Padang sendiri dengan membantu band-band sedang tur yang hampir tiap bulan walau banyak pasang surut karena kami kota kecil dengan hasrat besar.

KK: Apa aktifitas kalian diluar band?

KTF: Saya dan Doni adalah seorang Pemadam Kebakaran Bandara, Aries adalah Sekuriti bandara dan Yoga bekerja di sebuah Skate/Surf Shop.

KK: Sebenarnya apa yang tujuan kalian membentuk band ini? mungkinkah kalian ingin terkenal dengan idealisme yang kalian anut, atau hanya sekedar melampiaskan hobby bermusik? atau ada tujuan lainnya?

KTF: Mungkin sudah disebutkan tadi saat menjelaskan bagaimana band ini terbentuk, secara band dengan membuat lagu, merekamnya, rilis dan tur adalah sebuah pencapaian, tetapi secara pribadi saya lebih tertarik dengan ide nya H.R ( Bad Brains ) atau Ray Cappoo ( Shelter ) dengan menyampaikan pesan sesuai apa yang saya imani dan coba memberikan pandangan dengan sudut sudut yang berbeda .. IT’S UP TO YOU TO MAKE A CHOICE.

KK: Dibandingkan dengan era akhir 90-an sampai pertengahan 2000-an, sulit rasanya mendatangkan band-band underground mancanegara ke indonesia, tapi sekarang sepertinya sudah jauh berubah, begitu mudah band asing masuk dan menggelar show di indonesia. kira-kira, menurut kalian apakah ada sisi negatif yang menjadi dampak dari seringnya band-band asing membuat show di indonesia?

KTF: Sisi Negatif pasti nya ada tergantung cara memandang nya baik secara langsung (propaganda tersampaikan secara diskusi langsung dengan bandnya, konsep konsep tertentu) atau tidak langsung (tingkah laku, tampilan) .. tapi balik lagi, ini tergantung siapa yang memandang nya dan bagaimana dia memandangnya.

KK: Apakah kalian sudah ada yang berkeluarga? punya anak dan istri? Apa yang kalian rasakan setelah hidup berkeluarga bersama mereka? apakah itu berpengaruh pada kedewasaan kalian dalam berpikir dan menentukan tujuan hidup?

KTF: Sebagian besar kami sudah berkeluarga kecuali Yoga, keluarga yang membuka mata akan relita hidup dimana saya bisa melihat apa itu nyata dan semu dimana konsep-konosep yang dahulunya saya percayain runtuh satu persatu, karena bertolak belakang. Hanya konsep agama lah yang relefan. Dan tanggung jawab sebagai imam adalah suatu yang besar karena ini akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. PUNK TAUGHT ME TO SAY FUCK YOU , HARDCORE MUSIC TAUGHT ME TO POINT MY FINGER , SKA & NORTHERN SOUL MUSIC TAUGHT ME HOW TO DANCE , SKINHEAD TAUGHT ME HOW TO BE A GOOD WORKER AND STAND IN UNION AND ISLAM TAUGHT ME HOW TO LIVE AND MANAGE MY LIFE.

***

KEEP THE FAITH adalah:

Dennie sherman – Vocal

Doni Kurniawan – Guitar

Yoga Utama Natanugraha – Bass

Aries Phitoy – Drum

 

Kontak band :

www.facebook.com/padangkeepthefaith

www.padangkeepthefaith.bandcamp.com

https://itunes.apple.com/id/album/never-surrender/id959786888

 

Oleh: Siti Markonah

One comment

  1. “Hanya konsep agama yang paling relevan” 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.